KING MAFIA IS MY HUSBAND

KING MAFIA IS MY HUSBAND
PRAT5



Menghela nafasnya berat kemudian membuangnya dengan kasar setelah mengamati setiap denah tersebut membuat kepalanya menjadi pusing.


Sekilas, matanya menatap keselurahan serta dari wajah mereka begitu penasaran tidak sabar menunggu penjelasan darinya. Akhirnya mau tak mau, Zerlyn bersedia untuk menjelaskannya.


"Baik, ditangan saya sekarang ada dua versi mengenai denah Mall di kota B tapi sebelumnya saya minta maaf tidak bisa menjelaskannya secara lengkap." Jelas Zerlyn berhenti sejenak untuk mengatur nafasnya.


"Alasannya karna, denah ditangan saya terdapat banyak kesalahan dan saya tidak bisa menyimpulkan secara detail, hanya secara acak. Mengingat waktu saya tidak banyak dan tidak akan cukup."


Lison tersenyum miring, Lison sendiri memang sengaja membuatnya secara asal yang awalnya ingin mempermalukan nama baik Zerlyn. Namun rupanya Zerlyn bisa mengetahuinya dengan mudah.


"Brengs@!." Umpat Lison geram.


Rholl disampingnya terkekeh "Kita harus mempersiapkannya lebih matang, apalagi wanita itu sepertinya sangat cerdas. Edgar beruntung memiliki istri seperti dia."


"Anda benar Tuan, tapi sepertinya Edgar tidak mengetahui hal itu dari istrinya sendiri."


"Ya aku tau itu, dan juga akan sangat kesulitan mendekati tipe wanita seperti dia."


"Meskipun dengan cara licik sekalipun."


"Bersabarlah sedikit Lison, kita lebih baik cari tau dulu informasinya. Selebihnya kita buat rencana baru." Usul Rholl.


"Perlu kita meminta bantuan lewat Daffa serta Grayson?." Tawar Lison.


"Jangan dulu, kita cari sendiri itu lebih baik." Tolak Rholl yang takut jika aksi rencananya akan gagal.


"Baik, Tuan maaf saya mendapatkan info jika Edgar sudah menangkapnya lebih dulu. Saya takut jika sampai dia membuka mulutnya."


"Marrie?." Tebak Rholl dengan cepat.


"Benar, padahal Marrie sudah melakukannya dengan baik serta persiapan yang matang. Kita juga tidak perlu meragukannya lagi dan saya tidak habis pikir siapa yang berani mengacaukan aksinya, mengingat Marrie tidak pernah ceroboh dalam urusan pekerjaannya." Jelas Lison.


"Kau benar, Edgar sendiri tidak mungkin dia sejak tadi hanya fokus melihat istrinya serta dari raut wajah itu terlihat sangat frustasi."


"Mungkin Edgar malu mengakui istrinya ke publik. Mengingat pernikahan mereka juga tersembunyi."


"Tersembunyi?." Kening Rholl mengkerut bingung, pasalnya Rholl sendiri tidak tau menahu tentang Zerlyn.


"Ya, waktu saya ingin menyapa istrinya namun Edgar menampilkan raut wajah tidak sukanya."


Rholl tersenyum sinis "Kau sepertinya terlalu lama menjomblo Lison. Perlu aku meliburkan pekerjaanmu dan bersenang dengan para jal@ sialanmu itu?."


"Saya sudah berhenti Tuan, dan lebih fokus mengabdi pada Anda serta perusahaan dikota B. Apalagi sekarang ada Rival yang mencoba membangun ditanah kekuasaan Anda sendiri."


"Hahaha!! Aku mengetahui rencana busukmu Lison, tapi aku harap pelan pelanlah dulu jangan sampai emosimu bisa mengakibatkan dampaknya ke perusahaan milikku." Tegur Rholl.


"Tidak perlu khwatir Tuan, saya sudah merancanakannya dengan baik."


Rholl mengangguk mengerti seluruhnya ia percayakan kepada Lison.


**


Edgar sedikit terkejut bagaimana bisa denah itu banyak mengalami kesalahan? Padahal sudah jelas Fhai serta Edgarlah yang membutnya dengan teliti sampai berkali kali mereka mengeceknya kembali.


"Keduanya denah palsu, Lison sengaja membuatnya untuk mempermalukan Nona Zerlyn. Apalagi saat anda mengumumkan Nama istri anda didepan publik." Jelas Fhai membisikannnya lewat telinga Edgar.


"Darimana kau tau Ken?." Tanya Edgar.


"Apa anda lupa Tuan dengan maid tadi saat menawarkan minuman ke Nona Zerlyn?." Jawab Ken.


Edgar mengangguk mengerti "Lalu, bagaimana maid tadi yang beraninya melakukan hal seperti itu Ken? Apa dia tidak tau siapa Varessham?."


"Miller sedang mengurusnya Tuan, mengenai laporan itu saya belum tau." Jelas Ken.


"Bagaimana dalam gedung serta area basement?."


"Untuk saat ini masih aman Tuan." Ucap Ken.


Edgar mengangguk kemudian berjalan keluar disusul Ken dibelakang.


"Akh jadi itu rupanya." Batin Fhai setengah kesal saat tidak sengaja menguping pembicaraan Ken serta Edgar.


**


Zerlyn baru saja selesai sejenak ia duduk sekedar untuk melepas penat bibir serta kakinya yang lelah. Matanya terpejam dengan tubuh ia sandarkan mengatur nafasnya yang tidak beraturan.


Baru saja pantatnya mendarat telinganya tak sengaja mendengar suara kegaduhan serta suara tembakan menggema dari arah luar yang begitu memekakan telinga.


DORRRR!!!!


"Argghhh!! Sh@!." Umpat Zerlyn lantas membuka kedua matanya dan terkejut dengan pemandangan yang terlihat kacau.


Para tamu ketakutan dan memilih lari untuk kabur sedangkan Zerlyn hanya menghela nafasnya jengah dan muak. Tak ingin ikut campur, Zerlyn lebih memilih bersembunyi dibawah kolong meja.


"Kau dimana Fhai? Apa yang terjadi?." Tanya Zerlyn.


"Ada sedikit insiden Nona, Nona dimana sekarang?." Jawab Fhai.


"Aku baik baik saja Fhai, aku masih didalam. Kau dimana sekarang?." Tanya Zerlyn lagi.


"Saya berada diruangan kamar hotel Nona bersama Frans membantu mengriset informasi anda." Ujar Fhai.


"Huhh?? Jadi penembakan itu siapa?."


"Biarkan pengawal Varessham yang membereskannya Nona, saya saat ini fokus dengan kabar mengenai anda mengingat begitu banyak kekacauan serta berita yang keliru." Jelas Fhai.


"Apa maksudmu?."


"Berhati hati Nona, musuh mereka akan masuk kedalam saya mengawasi anda lewat cctv perlu saya datang untuk membantu anda?."


"Tidak perlu! Kau urus semuanya, biarkan aku bersenang senang sedikit disini."


"Baik Nona, saya sudah menyuruh Jasper melindungi anda berada di titik 09 derajat."


"Baik Fhai, kerjakan tugasmu dengan benar."


"Laksanakan Nona."


**


"Arghh!! Sial!." Umpat Zerlyn terkejut saat mendengar suara benda bergelinding jatuh dan saat melihat benda tersebut tepat berada didepan matanya sendiri.


Ingin berteriak histeris antara takut dan panik melihat sebuah kepala buntung matanya melotot tajam menatap Zerlyn yang sedang bersembunyi di bawah kolong meja.


Segera Zerlyn membekap mulutnya berusaha untuk tetap tenang apalagi didepannya bisa melihat Edgar serta anak buahnya sudah tewas sedangkan sisanya terikat dengan tali.


Zerlyn berpikir, perlwanan itu tidak sebanding mengingat anak buah mereka jumlahnya sangat jauh.


Suara tawa mengegelegar diruangan berubah menjadi sedikit merinding, keadaan acara yang kau, genangan darah ada dimana mana, banyak yang tewas atas indsiden itu.


Zerlyn merasa iba melihat Edgar terluka parah serta ia tidak melihat keberadaan yang lainnya.


"Dimana yang lain?." Batin Zerlyn kebingungan takut jika Ny.Hellen, Clara serta Ezra menjadi korbannya.


"Hallo Edgar." Sapa Slade tersenyum sinis.


"Brengs@! Bukankah kau Slade anggota dari Wesley?." Tebak Edgar geram.


"Hahaha!!! Kau rupanya sudah jadi orang bodoh sekarang, Akh apa gara gara istri rahasiamu itu Ed?."


Edgar melototkan matanya seketika teringat dengan Zerlyn sampai memandang Miller, Ken, serta Tn.Elmato disamping kanan kirinya.


Mereka menggeleng tanda tidak tau dengan keberadaan Zerlyn.


"Arghh!! Breng@! Sialan!." Desis Edgar emosinya berada dipuncak seketika teringat dengan mereka yang sudah lebih dulu dibawa ke markas.


Slade kembali tertawa bahagia melihat penderitaan Edgar musuh terkuat yang ingin Slade musnahkan. Mengingat pengawal yang Edgar kerahkan tak sebanding dengan Slade berjumlah ribuan, dengan mudah Slade bisa memusnahkan anak buah dari Edgar.


"Ternyata seperti ini seorang raja mafia yang terkenal itu? Ckk!! Tanpa bantuan dari anak buahmu, kau sangat lemah Ed." Cibir Slade tersenyum mengejek.


"Kau inginkan apa dariku sialan!." Tanya Edgar.


"Tidak banyak, hanya ingin kau menghancurkan project serta menyerahkan beberapa saham itu saja." Jawab Slade santai.


"Cihh!! Kau pikir aku mau mengikuti saran dari otak sint@ mu itu?."


"Tidak mau juga tidak masalah Ed, tapi boleh aku bermain sedikit dengan asistenmu Hmm?." Tanya Slade seraya memperlihatkan pisau lipat ditangan Slade.


Ken melotot tajam namun berusaha tetap tenang, tak masalah jika dirinya tersiksa asalkan Edgar bisa selamat. Pikir Ken.


"Lepaskan dia Bodoh!." Teriak Edgar.


Slade tersenyum miring tidak mendengarkan teriakan dari Edgar. Slade sejak tadi bermain dengan pisau lipat ditangannya seolah tidak sabar ingin segera menyiksa daging segar didepannya.