
Seisi manison terkejut dan panik sesaat mendengar suara bunyi darurat. Yang jika diartikan adalah untuk berkumpul ditempat khusus berlantai 4.
Para pengawal segera berbaris rapih untuk mentertibkan kekacauan.
"Tenang! Dan jangan panik! Segera cepat kelantai 4 sebelum Tuan besar marah! Dan kau pergi ke kamar Nyonya besar katakan dan jelaskan jika tidak terjadi apapun. Selanjutnya bawa langsung ke lantai atas." Perintah Stev pemimpin kedua tangan kanan didunia bawah setelah Tyler.
Mereka serempak mengangguk mengerti, sedangkan dipikirannya bepikir apakah akan ada bencana besar? Ataukah akan ada pemecatan masal?.
Stev lantas membawa Ny.Hellen menaiki lift khusus sampai dilantai 4 mansion. Berkali kali Ny.Hellen bertanya namun Stev selalu mengulang kembali jawaban yang sama membuat Ny.Hellen kesal.
Dua pengawal segera membuka pintu sesaat setelah melihat kedatangan Ny.Hellen bersamaan dengan Stev yang sedang membantu mendorong kursi roda.
Ny.Hellen terkejut melihat banyaknya maid dan pengawal dalam satu ruangan yang tadinya luas terasa semakin sumpek.
"Ada apa ini?." Tanya Ny.Hellen melihat Edgar, Ken, Miller serta Tn.Elmato dengan lekat.
Ken tercekat hatinya melihat kondisi Ny.Hellen yang memprihatinkan, tubuh kurus kering, rambut panjangnya berantakan serta tidak mampu menopang berat tubuhnya meskipun hanya sekitar 35kg.
Tn.Elmato tak menjawab kemudian menatap keseluruhan maid serta pengawal didepannya.
"Surti, Bik Nur, Dedeh, Imas kalian bereskan dikamar utama dan sisanya lanjutkan pekerjaan kalian." Perintah Tn.Elmato.
Para maid merasa lega, pikiran mereka melayang memikirkan tentang nasibnya apalagi saat melihat tatapan maut dari Tn.Elmato. Serentak semuanya bubar dan tinggalah pengawal diruangan itu.
"Vance, Ryder, Rogue dan Zane berbaris didepan!." Perintah Tn.Elmato kepada pengawalnya.
Selanjutnya "Gavril, Evander, Aillard, Stev berdiri di barisan belakang."
Mereka mengangguk patuh kemudian berdiri didepan Tn.Elmato. Tn.Elmato segera mengambil berkas ditangan Miller lantas kembali menatap pengawalnya dengan lekat.
"Kalian tau ini apa?." Tanya Tn.Elmato menunjukkan berkas ditangannya.
Mereka hanya menggeleng pelan, rasa ketakutan teamat besar melanda otak mereka. Berusaha mencerna dan mencari jawaban, namun pikirannya buntu hanya teringat dengan insiden waktu itu.
"Apa Tuan besar akan menghukum gara gara tidak berhasil menemukan mereka?." Pikirnya.
"Ini adalah berkas mata kuliahannya dari Zerlyn dan apa kalian bisa menjelaskan apa ari SUMMA, CUMLAUDE, WITH HIGHEST PRAISE?."
"Itu adalah lulusan terbaik dinegara Australia atau biasa yang disebut University Of Western Australia (UWA). Biasanya, jika Nona Zerlyn menyandang predikat SUMMA CUMLAUDE atau With Highest Praise yang bisa diartikan adalah "Kehormatan Tertinggi" dengan nilai IPK 1-4,00." Timpal Miller.
"Apa??." Ny.Hellen terkejut begitupun juga dengan keseluruhan pengawal merasa tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Miller.
Ny.Hellen segera merampas berkas penting itu ditangan Tn.Elmato ingin memastikan keberadaannya.
"Zerlyn, kenapa kamu menyembunyikan ini dari mamah." Lirih Ny.Hellen sesaat setelah melihat berkas itu dengan teliti dan membenarkan ucapan Miller. Deretan angkanya memiliki nilai tertinggi apalagi bahasa plutonya sangat puas dan membanggakan.
"Apa itu artinya Zerlyn memiliki otak yang genius? Tapi kenapa harus kembali sekolah disma?." Tanya Tn.Elmato kebingungan.
"Ya, termasuk juga memiliki mata yang tajam terbukti saat kejadian dihotel waktu itu bisa mendeteksi musuh Lemos dengan baik." Jawab Ken.
"Pantas saja Zerlyn mampu menjawab soal mata kuliah Ezra dengan benar, dari sorot matanya Zerlyn menganggap soal itu sangat mudah baginya." Ucap Tn.Elmato pikirannya kembali teringat.
"Beraninya kau membohongiku! Bahkan ini bukan untuk pertama kalinya!." Desis Edgar geram.
"Ed! Ini bukan masalah Nona Zerlyn membohongimu! Tapi menyembunyikan identitasnya kemungkinan Nona takut jika sewaktu waktu musuhnya datang kembali menerornya." Tegur Miller yang hatinya masih kesal dengan Edgar.
"Apa benar yang kau ucapkan itu Miller?." Tanya Tn.Elmato.
"Bisa jadi jika tidak, tidak mungkin Nona bisa menguasai bela diri serta sangat pintar menembak dari jarak jauh." Jawab Miller.
"Termasuk menampar Marrie waktu dimarkas." Sambung Ken.
"Lalu, bagaimana dengan ucapan Marrie yang mengatakan jika dia iblis wanita berbahaya?." Tanya Edgar.
"Terkecuali masalah waktu dihotel, kau masih ingat saat kita kembali lagi? Dan kau lihat didalam hotel sungguh menabjukan bagaikan negri dongeng. Semuanya bersih dan rapih seperti tidak ada kejadian apapun dan seluruh berita mengenai penembakan hilang begitu saja." Sambung Miller.
"Tapi, bukankah Nona pergi ke mansion untuk membasmi yang sedang disandra dibawah tanah?." Tanya Tn.Elmato
"Maaf Tuan besar, tapi kami tidak melihat Nona waktu itu. Hanya saja saya beserta lainnya menyaksikan waktu penambakan itu terjadi, entah siapa yang melakukannya dan membantu kami untuk menembak musuh sampai tewas. Saksinya bukan saya tapi Maid pun melihatnya sendiri." Timpal Stev.
"Begitupun juga saat digedung XX waktu terjadi ada insiden penembakan dan mengenai Bom digedung tertinggi. Saya melihat mobil Nona Zerlyn masih berada diarea basement padahal acara itu sudah selesai 30 menit yang lalu."
"Saya kembali mengecek bagian aula dan keseluruhan gedung tapi saya tidak menemukannya, termasuk CCTV sedikit mengalami kerusakan tidak bisa diakses saat Nona Zerlyn memenangkan perlombaan itu. Padahal tepat sekali kamera berada paling depan." Sambung Stev.
Edgar geram dan semakin emosi mendengar cerita dari Stev yang mengakui kepintaran otak cerdasnya.
"Dia pintar tapi juga sangat licik!." Gumam Edgar.
"Ed! Kenapa otakmu sangat dangkal Heh! Harusnya kau bersyukur memiliki istri cantik tapi dalamnya iblis sepertimu, selain pintar dan juga genius Nona Zerlyn melindungi Varessham serta nama baiknya meskipun Nona melakukannya secara diam diam." Bantah Miller mencoba menyimpulkan keseluruhannya.
"Hmmm.. Benar!! Apa yang dikatakan oleh Miller, mungkin Nona juga tidak tau harus melakukan apa meski itu caranya adalah salah." Ucap Ken.
"Penembakan misterius yang sama persis dengan kejadian dihotel tepatnya dibagian area basement dan di gedung lantai 45 saya melihat musuh sudah mengepung hotel itu." Terang Miller.
"Lalu dimana Zerlyn sekarang? Telpon dia Pah! Suruh dia pulang secepatnya." Pinta Ny.Hellen kembali terisak memohon kepada Tn.Elmato.
Tn.Elmato segera menenangkan istrinya "Sabar Mah, nanti papah telpon."
"Mamah maunya sekarang pah!." Pinta Ny.Hellen.
Pasrah, akhirnya Tn.Elmato mengikuti keinginan dari Ny.Hellen. Lantas segera Tn.Elmato menelpon Zerlyn namun sedetik kemudian malah menjitak keningnya.
"Ada apa?." Tanya Ny.Hellen kebingungan.
"Papah tidak punya nomornya." Jawab Tn.Elamto.
"Biar saya saja Tuan." Tawar Ken kemudian mengambil ponsel didalam saku jasnya.
Ken kembali menekan tombol hijau setelah sekian lama menunggu tidak ada jawaban, Ken kembali menekannya sampai 100x menelpon.
"Maaf Tuan, ponselnya tidak aktif." Sesal Ken.
"Apa?? Bagimana Bisa Ken?." Lantas Ny.Hellen merebut ponselnya dan kembali menelpon Zerlyn.
"NOMOR YANG ANDA TUJU SEDANG TIDAK AKTIP."
"Astaga! Zerlyn." Teriak Ny.Hellen histeris sampai akhirnya pingsan di kursi roda.
Pengawal, Ken, Miller, Tn.Elmato serta Edgar terkejut.
"MAMAAHHHH!!!." Teriak Edgar.
**
Sesaat suasana kembali hening setelah kepergian dokter pribadinya, Tn.Elmato sampai tidak bisa berkata apapun bahunya bergetar menahan isak tangis yang hampir pecah.
Melihat kondisi Ny.Hellen semakin drop membuat Tn.Elmato menjadi semakin khwatir. Apalagi saat mendengar penuturan dari dokter pribadinya yang mengatakan jangan sampai banyak beban dan pikiran, istrhat yang cukup.
"Ken, Stev, Miller cari Zerlyn sampai dapat dan sisanya sebarkan ke berbagai tempat." Perintah Tn.Elmato.
"Baik Tuan besar." Jawabnya dengan serentak.
πΏπΏπΏ