
Gadis itu meringkuk diujung sudut kamar yang luas, serta tubuhnya dililit selimut yang tebal. Merangkul lututnya dengan kepala menunduk, bahunya tampak bergetar hebat seperti sedang ketakutan.
Benar benar sangat takut jika hukuman dari Edgar itu terjadi padanya.
"Hei tenanglah aku tidak akan memakanmu." Ujar Edgar mendekati Zerlyn berusaha untuk menenangkannya.
Zerlyn tidak menggubris perkataan Edgar, Zerlyn masih menunduk ketakutan dengan hukuman yang Edgar berikan untuknya.
Edgar mengetahui jika Zerlyn tengah ketakutan, segera tangannya mengelus lembut rambut panjang Zerlyn yang tergerai menutup seluruh wajahnya. Kemudian mengangkat kepala Zerlyn dengan pelan untuk menatap ke arahnya.
Zerlyn menatap Edgar dengan tatapan mengiba, Edgar menyentuh pipinya menghapus sisa air mata Zerlyn. Kemudian menyentuh bahunya untuk berdiri.
Edgar lantas memeluk Zerlyn, entah datang dari mana secara mengejutkan Edgar begitu lembut memperlakukan Zerlyn. Entah karna iba atau ada hal lainnya dalam hati Edgar yang membuat Zerlyn menjadi ambigu.
Zerlyn berpikir, perlukah ia bahagia dan senang melihat perubahan sikap Edgar padanya? Ataukah ada hal lain yang Zerlyn sendiri tidak tau apa itu. Namun sedetik kemudian Zerlyn melepas pelukannya, kembali menjauhi Edgar.
Zerlyn takut jika Edgar dalam otaknya memiliki niat lain dengan iming iming awalnya baik namun pada akhirnya kembali bersikap normal.
"Tidurlah, aku berbaik hati kali ini tidak akan menghukummu. Tapi, kau harus tau aku paling benci dengan kebohongan apalagi jika kau menyembunyikan apapun itu dariku. Jika kau ingin melakukannya, lakukanlah dengan baik dan rapih sampai aku tidak bisa menciumnya sedikitpun."
"Jika sampai melakukan kesalahan yang sama, bersiaplah hukuman setimpal menantimu! Aku tidak akan mengampuni meski kau memohon ampunan dariku." Ancam Edgar dengan mencengkram kuat wajah Zerlyn.
Lantas kemudian berbalik lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk miliknya. Meninggalkan Zerlyn terbongong sendiri mencerna ucapan Edgar barusan.
"Arghh!! Sialan!." Gumam Zerlyn tidak bisa berpikir dengan jernih seketika otaknya menjadi buntu.
___
Segera Zerlyn merebahkan tubuhnya diatas kapret, entah sampai kapan dirinya tidur seperti itu. Edgar seolah buta hatinya dan tidak pernah peduli pada Zerlyn.
Berkali kali tubuhnya berguling tidak jelas, sejak awal Zerlyn berpikir mungkin dengan tidur sejenak bisa melupakan ancaman dari Edgar untuknya. Namun ternyata nihil, yang ada malah berubah menjadi gelisah.
"Hei! Apakah kau bisa diam?." Tanya Edgar merasa terganggu akibat ulah Zerlyn.
"Tidak!." Jawab Zerlyn dengan ketus.
"Tidur bodoh! Jangan mengganggu tidurku, seharian ini kau selalu saja menggangguku!." Ucap Edgar.
"Apa? Mengganggu? Sejak kapan saya mengganggu anda Tuan terhormat?." Jawab Zerlyn menatapnya dengan sengit.
"Selain bocil, anda juga ternyata sangat bodoh!." Desis Edgar.
"Oh ya? Anda mengatakan saya bodoh? Anda pikir, saya sekolah gunanya untuk apa?." Tanya Zerlyn sedikit geram dengan mulut pedas Edgar.
"Jangan banyak alasan cepat tidur!." Bentak Edgar.
Zerlyn sangat geram, kemudian melempar bantalnya ke arah Edgar. Pas dan tepat lemparan itu mengenai wajahnya sampai membuat Edgar tersungkur.
"Arghh!! Sialan! Dasar bocil!." Pekik Edgar kemudian kembali melempar bantalnya kepada Zerlyn.
Namun sial, lemparannya tidak mengenai Zerlyn. Zerlyn kemudian menjulurkan lidahnya kepada Edgar mengejek dirinya yang kalah.
Edgar mengepalkan tangannya lalu berdiri dari atas ranjang menghampiri Zerlyn. Dengan sigap, Zerlyn berlari menghindar dari Edgar aksi saling kejar kejaran itu tak terhindarkan bak kucing dan anjing yang tidak mau kalah satu sama lainnya.
Hingga akhirnya Edgar berhasil mendapatkan Zerlyn dengan menarik piyama tidurnya.
"Argghh!! Tuan lepaskan! Saya bisa mati!." Pinta Zerlyn.
"Itu lebih bagus kalah kau mati!." Desis Edgar.
"Kalau saya mati, Tuan yang pertama akan saya teror."
Edgar tersenyum sinis, kemudian membalikkan tubuh Zerlyn sampai jarak keduanya terlihat sangat dekat. Zerlyn sedikit terkejut, lantas mundur beberapa langkah.
"Tuan.. Tuan mau apa?." Tanya Zerlyn gugup saat langkah Edgar terus saja berjalan sampai Zerlyn terpojok.
Disaat jarak keduanya sudah semakin dekat, Edgar tersenyum miring menatap Zerlyn menutupkan matanya. Kemudian, Edgar menjitak keningnya.
CETAAKKK!!
"Cepatan tidur bodoh! Kalau menggangguku lagi, bersiaplah aku akan menelanmu hidup hidup!." Ancam Edgar dengan tajam.
Zerlyn menelan ludahnya secara kasar, kemudian mengangguk patuh segera berlari dan kembali melanjutkan tidurnya.
___
Kedua insan itu hidup satu atap, tapi melakukan aktivitas masing masing tidak ada adegan romantis seperti mencium punggung tangan, mencium pipi atau sekedar ucapan hati hati.
Bahkan untuk berangkatpun selalu masing masing, Zerlyn yang selalu menggunakan ojeg menuju sekolahnya. Hanya satu kali saja Edgar mengajak Zerlyn pergi bersamanya itupun dengan keadaan terpaksa.
Membuat Ny.Hellen menggelengkan kepalanya, entah sampai kapan hubungan keduanya akan seperti orang asing yang tidak mengenal satu sama lain.
___
Sepanjang koridor, Zerlyn bersenandung ria entah kenapa rasanya hari ini ia begitu semangat dan merasa senang padahal tidak ada kejadian apapun yang membuatnya menjadi seperti itu.
"Woy! Mau kemana loe hah?." Tanya Stella mencengkram kerah seragam Zerlyn dengan kuat.
"Anjir!! Siapa dibelakang gue? Setan atau Jurig?." Jawab Zerlyn dengan suara yang tercekat.
"Jangan banyak alasan loe! Loe banyak hutang sama gue!." Pekik Stella semakin menguatkan cengkramannya.
Zerlyn diam sejenak sepertinya ia tidak asing dengan suara tersebut.
"Stell, lepaskan gue kalau gue mati bagaiamana? Loe mau gue teror dan loe yang pertama gue gentayangin?." Tukas Zerlyn.
Stella menurut, namun hanya melonggarakan sedikit kemudian membalikkan tubuh Zerlyn menghadap ke arahnya.
"Loe punya dendam apa sih sama gue?." Tanya Zerlyn menatap Stella seperti akan memakannya hidup hidup.
"Jangan banyak alasan loe!." Jawab Stella geram.
"Maksud loe apa sih? Gue ada salah apa sama loe? Apa gue punya utang?." Tanya Zerlyn kembali.
Stella memutar bola matanya jengah kemudian menatap Zerlyn dengan lekat.
"Jelaskan tentang om om kemarin terus sama om yang ada di rumah sakit waktu itu." Jelas Stella menuntut penjelasan.
"Mampus gue!." Batin Zerlyn.
Kemudian, Zerlyn diam sejenak untuk mencari alasan "Lepasin dulu tangan loe Stell, kalau kaya gini gue gak bisa ngomong."
Stella tersenyum kecut "Gue gak bodoh Lyn! Kalau gue lepasin, yang ada loe nanti kabur."
Stella membuang nafasnya, akhirnya Stella memilih melepaskan cengkramannya membuat Zerlyn tersenyum lebar.
"Ututtu... Tayang.." Tangan Zerlyn mencubit kedua pipi Stella dengan gemas.
"APAAN SIH LOE, CEPAT JELASIN ZERLYN ANNABETH!." Pekik Stella emosi sejak tadi Stella berusaha sabar dengan sahabatnya itu. Namun lama kelamaan melihat tingkah Zerlyn yang tak kunjung bercerita, membuat emosi Stella menjadi naik.
"Sabar dong Bebb." Goda Zerlyn terkekeh geli melihat perubahan wajah Stella yang cemberut padanya.
Belum sempat Zerlyn akan memmulai cerita, pandangannya tak sengaja bertemu dengan Alden secara mengejutkan penampilannya berubah tidak seperti sicupu pantat panci.
Gerak geriknya tak lepas dari perhatian Zerlyn, terus mengikuti bayangannya hingga hilang dibalik tembok menuju gudang. Zerlyn sedikit penasaran apalagi sekarang tugasnya adalah membasmi Alden.
Seolah lupa dengan janjinya serta Stella di depan yang sejak tadi menuntut penjelasan, tanpa pikir panjang Zerlyn segera berlari mengambil langkah seribu mengikuti Alden yang tak ingin kembali kehilangan jejaknya.
Refleks Stella melotokan matanya melihat Zerlyn kembali kabur yang entah akan pergi kemana. Hal itu membuat Stella benar benar emosi dan marah kepada Zerlyn.
"Woy! Ogeb loe mau kemana Hah? Loe udah janji sama gue gak bakalan kabur!." Teriak Stella memanggil Zerlyn yang tengah berlari seperti mengejar langkah setan. Beruntung, koridor sekolah masih sepi dengan bebas Stella berteriak dengan kencang.
Tak ingin berpikir lebih lama, Stella akhirnya mengikuti Zerlyn dibelakang. Setelah jauh berlari, Stella kehilangan jejak dari Zerlyn.
"Sialan tuh si Zerlyn, kemana sih larinya?." Gumam Stella menghela nafasnya panjang, memegang detak jantung yang berdebar akibat terlalu lelah berlari.
"Awas aja kalau gue dapetin loe, bakalan gue ikat dan gak akan biarkan loe lolos lagi dari gue." Sambung Stella penuh dendam nafasnya begitu memburu.
___
Disaat pandangannya fokus mengedar ke setiap keliling Stella merasa asing berada ditempat tersebut.
"Anjir!! Gue dimana?." Ucap Stella kebingungan.
Dari arah belakang, terdengar suara tertawa, seolah mentertawakan kepolosan otak Stella.
"Siapa loe?." Teriak Stella berteriak.
"Gue." Jawab Alden berdiri dibelakang Stella.
Stella terkejut melihat perubahan Alden yang menurutnya berbeda.
"Loe?? Loe siapa?." Tanya Stella.
Alden tersenyum miring kemudian memajukan langkahnya mendekati Stella "Gue Alden Stell, yang sering loe panggil sipantat panci."
Stella menggeleng "Gak mungkin itu loe!."
Alden tertawa bahagia melihat mangsa didepannya ternyata memiliki otak yang tak Alden sangka.
"Lalu, kalau bukan gue yang berdiri didepan loe, lantas gue siapa?." Tanya Alden menatap Stella dari dekat.
Stella terkejut saat baru menyadari jika jarak dengan Alden begitu dekat. Segera Stella mendorong keras tubuh Alden agar menjauh.
"Sialan! Anjirr!! Berani loe sama gue?." Pekik Stella geram.
Alden tersenyum miring kemudian kembali memajukan langkahnya, Stella panik ia begitu bingung saat ini dengan wajah yang menengok kanan kiri mencari celah untuk kabur. Namun sial Stella tak menemukan apapun hanya terdapat tembok mengurungnya bersama Alden.
"Mencari siapa hmm?? Disini hanya ada kita berdua jadi loe tenang aja Stell, semuanya bakalan aman." Ujar Alden mengetahui pergerakan Stella yang mencoba kabur darinya.
"Apa mau loe? Katakan! Gue salah apa sama loe Hah!." Teriak Stella.
Stella tidak tau apa keselahannya kepada Alden, yang secara tiba tiba dan mengejutkan menyerang serta menerornya. Apa selama ini hanya karna gara gara sering menghinanya si pantat panci? Tapi, Stella kembali berpikir rasanya itu mustahil, mengingat Alden tidak mungkin tersinggung dengan penghinaan tersebut.
"Mau loe Stell." Jawab Alden santai. Kemudian, disaat jaraknya kembali dekat, Alden tak ingin membuang waktu dan kesempatan lantas segera mencium bibir Stella yang menurutnya itu seperti candu.
Belum sempat menyelesaikan misinya, Stella segera menampar dengan keras membuat ujung bibir Alden robek dan mengeluarkan darah segar.
PLAAKKK!!!
"Jangan berani loe nyentuh gue sialan!." Desis Stella geram.
Alden menyentuh pipinya yang terasa panas kemudian mengusapnya dengan pelan, tak lama Alden menatap Stella dengan tajam. Jiwa membunuhnya terpancar dari sorot matanya, membuat Stella ketakutan.
"Ternyata loe iblis! Dari awal gue udah curiga sama loe!." Teriak Stella.
Alden tertawa kemudian bersiap akan membunuh Stella "Lebih baik loe mati Stell, biar dunia gue aman tanpa loe."
"Apa maksud loe sialan!."
PLAAAKK!!
Alden tersenyum puas telah membalas menampar Stella. Stella langsung tersungkur jatuh dengan tangan yang memegang pipinya.
"Argghh!! Brengs@! Sialan! Beraninya loe sama gue." Stella kemudian berdiri untuk menyerang Alden.
Alden yang sudah tau jika Stella akan menyerangnya, segera melintirkan tangannya ke belakang hingga posisi Stella membelakangi Alden.
"Lepaskan gue Alden sialan!." Pekik Stella.
"Apa? Lepasin loe? Cihh!! Jangan mimpi Stell!!." Bisik Alden ditelinga Stella.
Stella seketika tubuhnya meremang mendengar bisikannya. Alden segera mengunci tubuh Stella dengan mengikat kedua tangannya lalu menyeret tubuhnya untuk Alden ikat dikursi gudang.
"Please lepasin gue, gue minta maaf kalau gue salah sama loe.. Please Alden, gue mohon." Ujar Stella dengan tatapan yang mengiba serta bahunya bergetar ketakutan.
Alden tidak mengindahkan ucapan Stella, telinganya seolah tuli. Alden sibuk mengikat tubuhnya agar tidak semakin berontak.
Stella menggelengkan kepalanya, tangisannya seketika pecah menatap Alden memohon ampunan darinya. Namun Alden hanya menatap Stella datar, dengan bibir tersenyum menatap ke arah bibirnya.
"Bibir loe sepertinya enak Stell." Goda Alden.
"Please Alden, jangan loe lakuin ini sama gue.. Kalau gue salah, gue minta maaf. Kita bicarakan baik baik oke." Ujar Stella berbicara lebih lembut berharap Alden akan luluh padanya.
"Gue gak mau apapun dari loe, yang gue mau cuma bibir loe Stell. Loe nurut sama gue, kalau loe masih sayang dengan nyawa loe sendiri." Alden memberinya ancaman serta mengambil senjata yang ia sembunyikan dibalik sweeter.
Stella melototkan matanya menatap senjata yang berada digenggaman Alden begitu sungguh nyata. Kini, Stella semakin bingung entah harus melakukan cara apa agar Alden membebaskannya. Apa perlu pasrah dan mengikuti kemauannya?.
"Kalau loe menurut, gue gak bakalan nyakitin loe. Jadi, menurutlah Stell." Bisik Alden ditelinga Stella.
Stella menunduk ketakutan, tangisannya kembali pecah serta kepala menggeleng mengapa semuanya menjadi seperti ini? Apa kesalahan yang sudah ia perbuat sampai Alden seolah sangat marah padanya?. Batin Stella.
πΏπΏπΏπΏπΏ