
Sejenak ia membuang nafasnya lega tepat pukul 5 sore Zerlyn sudah sampai dimansionnya. Kakinya segera melangkah keluar lantas membuka pintu belakang, melihat Clara tertidur pulas.
Segera Zerlyn mengangkat tubuhnya secara pelan agar tidak mengganggu tidur Clara, lalu menggendongnya ala brydal style.
"Mang Asep." Panggil Zerlyn melihat Mang asep sedang bersantai ria.
Merasa dipanggil, Mang Asep segera berlari menemui Zerlyn.
"Iya Non?." Tanya Mang Asep sedikit terkejut saat Zerlyn menggendong Clara.
"Tolong bawakan barang belanjaanya didalam." Jawab Zerlyn kemudian melangkah pergi.
"Non, biar saya saja yang bawa Nona Clara, itu berat loh Non." Tawar Mang Asep.
"Tidak perlu! Bawakan saja apa yang aku minta." Tolak Zerlyn.
Mang Asep mengangguk patuh, lantas mengambil belanjaan milik Clara yang jika dihitung mencapai 20 paperBag, sampai Mang Asep sedikit kesusahan untuk membawanya.
Baru saja Zerlyn melangkah masuk ke dalam, banyak masang menatap ke arahnya. Ingin sekali Zerlyn mencolok mata mereka.
"Astaga!! Apa yang terjadi??." Pekik Ny.Hellen panik.
"Zerlyn turunkan dia disofa sekarang, biar saya yang membawanya." Perintah Tn.Elmato menghalangi langkah Zerlyn.
Zerlyn membuang nafasnya kasar, akhirnya menurut dengan ucapan Tn.Elmato dengan hati hati Zerlyn menurunkan Clara bersamaan dirinya juga hampir ambruk karna kelelahan.
"Kau tau, jika kau berani melukainya apa hukuman yang pantas untukmu!!." Tekan Edgar.
Zerlyn mengangguk pasrah, ingin berdiri namun rasanya sudah tidak sanggup. Akhirnya memilih tidur disamping Clara, hingga membuat semuanya terkejut.
"Zerlyn!! Bangunn!! Apa yang terjadi?." Tanya Ny.Hellen histeris, menepuk pipinya secara pelan namun Zerlyn enggan membuka matanya.
Mang Asep yang baru tiba didepan pintu, mendengar teriakan Ny.Hellen segera berlari menghampiri mereka "Nyonya, apa yang terjadi?."
Semuanya menatap kearah Mang Asep dengan mata melongo melihat barang belanjaan ditangannya. Mang Asep yang ditatap seperti itu menelan slavinanya susah payah.
"Maaf Nyonya jika saya lancang, saya kasihan melihat Nona Zerlyn sejak tadi keluar dari mobil wajahnya sudah pucat sepertinya Nona kelelehan menemani Nona Clara." Jelas Mang Asep menunduk ketakutan.
"Keluar dari mobil? Apa Zerlyn yang membawa mobilnya begitu maksudnya?."
"Benar Nyonya, saya melihatnya sendiri waktu membuka gerbang, tangan Nona masih memegang kemudi lalu keluar dan memanggil saya untuk membawakan paperBagnya."
Ny.Hellen serta Tn.Elmato saling memandang ingatannya kembali teringat saat itu.
"Cihh!! Berani sekali dia berbohong! Apa identitasnya juga bodong?." Geram Edgar kemudian membawa Zerlyn menggendongnya untuk naik ke lantai atas, tidak sabar untuk segera menghukum istri nakalnya.
"Panggilkan dokter sekarang!." Perintah Edgar.
Bik Nur mengangguk. Sedangkan yang lainnya menatap Edgar seolah tidak percaya dengan perbuatan yang dilakukannya.
"Wah!! Sepertinya sekarang mulai ada perubahan Mah." Celetuk Ezra terkekeh.
PLLLAKK!!
Ny.Hellen memukul bahunya hingga Ezra meringis kesakitan.
"Apa sih Mah? Harusnya bangga dong!!." Ketus Ezra.
"Tapi mamah tidak suka, cara dia masih kasar! Malah ngatain identitas bodong lagi? Dia kira investasi?."
"Mah, sudahlah jangan berdebat tidak penting, sekarang kita bawa Clara ke atas kasihan dia." Timpal Tn.Elmato mencoba melerai.
Ny.Hellen mengangguk kemudian menatap Mang Asep "Mang, belanjaannya simpan di atas dekat nakas saja, nanti biar Clara sendiri yang membereskannya."
"Baik Nyonya." Mang Asep segera melangkah naik kelantai atas.
___
Edgar kembali menidurkan Zerlyn diatas ranjang empuk miliknya dengan pelan. Matanya menatap wajah cantik alami, bulu mata lentik serta alis tebal hitam bibir tipis tanpa lipstik.
Baru pertama kali inilah Edgar memandang dari dekat, mencuri pandangan pertama selama ini Edgar selalu jauh dari Zerlyn. Tidak pernah bertegur sapa, berbicara hanya sekedarnya saja, apalagi memperhatikan wajah Zerlyn membuat Edgar rasanya sangat malas.
"Cantik." Gumam Edgar tersenyum sekilas otaknya melupakan ucapannya yang akan menghukum Zerlyn. Hanya dengan menatap wajah tenangnya saat tertidur, hati Edgar merasa tenang.
Disela sela bibir yang masih tersenyum seraya tangan itu tak tinggal diam, Edgar menyelipkan setiap helai rambut ke belakang telinga sampai gerakannya terhenti sesaat Edgar merasakan ada benda ditelinganya.
"Earphone? Untuk apa?." Batin Edgar kebingungan.
Tak ingin ambil pusing, karna seharian otaknya sudah panas dengan pekerjaan dikantornya. Edgar segera melepaskan benda tersebut lalu meninggalkan Zerlyn dengan ribuan pertanyaan bersarang dalam otaknya.
**
Matanya melotot tajam saat nyawa itu sepenuhnya baru terkumpul, Zerlyn segera meloncat diatas kasur milik Edgar. Beruntung penghuninya sedang tidak berada ditempat, Zerlyn sedikit lega.
"Hufft!! Untung singa itu tidak tau. Tapi, kenapa aku bisa tidur diatas?." Pikir Zerlyn.
Memikirkan hal itu membuat Zerlyn pening, dengan cepat Zerlyn membereskan tempat tidur Edgar lalu berjalan keluar mencari makanan.
Seharian ini perutnya belum diisi apapun, tidur yang nyenyak harus terganggu akibat cacing diperutnya meronta ingin diisi.
Saat melihat meja makan didepannya terlihat bersih dan kosong, lalu berjalan menuju benda pendingin hasilnya tetap tidak ada apapun. Zerlyn cemberut sedikit kecewa, lantas mengelus perutnya "Sabar ya!!." Gumamnya.
Otaknya lalu teringat dengan dapur dibelakang yang dikhususkan untuk para maid. Zerlyn teringat waktu dulu mencari makanan ditempat tersebut, matanya berbinar terang seolah menemukan harta karun persediaan stok makanan begitu banyak membuat Zerlyn kalap.
Sedangkan Bik Nur awalnya menolak keras jika Zerlyn harus makan makanan didapur belakang, Bik Nur takut sampai ketahuan oleh Ny.Hellen. Namun Zerlyn berusaha menyakinkannya semuanya akan aman dan baik baik saja.
Zerlyn sendiri tidak peduli, ia lebih menyukai makanan yang dibuat oleh Bik Nur selain rasanya enak, khas sesuai dengan selera lidahnya.
Disaat membuka pintu lemari matanya melotot melihat bahan makanan kesukaannya. Zerlyn kemudian berbalik untuk menutup pintu, lantas menyalakan kompor untuk merebusnya lebih dulu.
Tak berlangsung lama, Zerlyn sudah menyelesaikan semuanya. "Hmmmm.. Akh, wangi." Zerlyn terkekeh sendiri.
Dengan mangkok yang masih ditangan, lantas Zerlyn segera masuk kedalam kolong meja makan seperti inilah jika perutnya keroncongan tengah malam selalu makan emih serta memakannya dengan cara bersembunyi.
Fokusnya sedang menikmati emih sampai tidak menyadari ada suara langkah kaki mendekati kearahnya. Kemudian menyibakkan alas meja makan dan matanya terkejut melihat Zerlyn.
"Kau sedang apa disini Hah!." Tanya Edgar geram.
**
Saat Edgar baru pulang entah dari mana, dan saat akan memasuki kamarnya sudah tidak melihat Zerlyn. Edgar kembali melangkah keluar untuk mencari keberadaannya ditengah tengah malam.
Edgar mencari kesetiap sudut, namun tidak menemukannya. Sediki frustasi kemudian otaknya teringat saat Zerlyn selalu berada dibelakang, tepat di bagian dapur yang dikhususkan untuk maid.
Ya, Edgar tau kebiasaan dari Zerlyn meski terlihat tidak peduli dengannya, tetapi Edgar selalu memperhatikan gerak gerik apa saja seharian yang Zerlyn lakukan. Meski sepenuhnya, Edgar tidak tau asli watak Zerlyn diluar sana. Yang Edgar tau selama Zerlyn menjadi istrinya, tidak pernah ada masalah sedikitpun datang kepada Edgar.
Sampai Edgar dibuat bingung, kadang kehidupannya jenuh isinya hanya datar datar saja saat kedatangan Zerlyn di mansionnya. Memang, Zerlyn tidak pernah menuntut dirinya untuk menjadi Nyonya muda Varessham sesusai apa yang Edgar inginkan.
Tetapi, Edgar merasa tidak puas dengan keyakinannya. Bahkan sudah menyuruh Ken untuk mencari informasi lebih detail, namun laporan Ken masih sama seperti yang dulu. Tidak berubah, tidak ada yang beda.
Edgar segera mencarinya dan benar saja, sesaatnya tiba disana, Edgar sedikit mencium aroma masakan yang menurut dihidungnya sedikit... Hmmm Aneh!!.
Lalu menyibakkan alas meja makan sampai apa yang Edgar cari ternyata sedang bersantai tanpa memperdulikan Edgar yang terus saja mencarinya.
**
Zerlyn terkejut, melotot tajam menatap Edgar yang juga tengah menatapnya.
"Tuan?." Panggil Zerlyn.
"Berani sekali, malam seperti ini kau masih berkelerian?." Tanya Edgar geram.
"Maaf Tuan, aku lapar." Jawab Zerlyn gugup tak sanggup menatap mata elangnya.
"Lalu, kau makan apa Hah!."
"Hmmm.. Hanya Nasi!!." Ujar Zerlyn menyembunyikan mangkok kosong di belakang tubuhnya.
"Hanya Nasi? Kau bukan bebek yang cuma makan nasi doang kan?." Ketus Edgar.
Zerlyn sekilas menatap Edgar, tak terima jika dirinya disamakan dengan Bebek. "Bebek tidak makan nasi Tuan, tapi..--"
"Apa??."
"Makan Tuan." Jawab Zerlyn Asal.
"Apa kau bilang? Apa kau ingin membohongiku lagi? Ingat Zerlyn, aku bukanlah pria bodoh seperti diotakmu!."
Zerlyn melongo mencerna ucapan Edgar yang mengatakan "Aku-kamu" yang biasanya selalu "saya".
"Apa Tuan salah makan hari ini?." Tanya Zerlyn.
"Berani kau berkata seperti itu? Hakmu apa mengatur kehidupanku?." Jawab Edgar.
"Bukankah saya istri anda Tuan?." Balas Zerlyn.
Edgar tersenyum sinis "Istri? Istri katamu? Jangan mimpi aku menganggapmu sebagai istriku!." Tekan Edgar.
"Kembali! Dan cepat tidur! Jika tidak aku menguncimu disini sepanjang malam." Sambung Edgar kemudian meninggalkan Zerlyn.
πΏπΏπΏπΏ