
Malam ini Zerlyn terlihat sangat cantik dengan dress dibawah lutut memperlihatkan kaki putih nan jenjangnya. Serta model dress yang sedikit terbuka dibagian bahu tegaknya semakin indah dipandang.
Kalung liontin cantik menghiasi leher putihnya, serta rambut panjangnya ditata dengan model Classic Chignon menambah kesan aura yang memukau.
Dengan polesan makeup tipis, terlihat kesan natural. Apalagi ditambah dengan jiwa Zerlyn yang tenang namun tegas sangat pas dan cocok.
"Wahh!! Kamu cantik sekali." Puji Ny.Hellen tak sia sia saat mengajak Zerlyn ke mal bersamanya.
"Kamu sangat hebat memilih gaun yang pas untukknya." Timpal Tn.Elmato yang juga memuji kecantikan Zerlyn.
"Wow!! Clara sampai tidak bisa berpaling berasa pengen terus lihat Kak Zerlyn." Goda Clara.
"Beruntung dong Edgar punya istri cantik seperti Kak Zerlyn." Sambung Ezra terkekeh.
"Ehemmm!!!." Edgar berdehem menormalkan detak jantungnya sedikit mencuri pandang ke arah Zerlyn.
Zerlyn tersenyum kecut saat mata mereka terus saja menatap ke arahnya. Termasuk Edgar, ia sendiri tidak munafik dan mengakui kecantikan istrinya tersebut.
"Ekh!! Tunggu dulu! Zerlyn, untuk apa kau menggunakan benda seperti ini?." Tanya Ny.Hellen yang begitu jeli melihat penampilan Zerlyn dari atas sampai bawah sampai menemukan benda tersumpal ditelinganya.
"Tidak apa apa Mamah, hanya iseng." Jawab Zerlyn kikuk.
"Lepaskan Zerlyn, kau sudah dilindungi oleh kekuasaan yang kami miliki." Tegur Tn.Elmato.
"Kau berkomunikasi dengan siapa lewat eraphonemu?." Tanya Edgar menatap tajam kearahnya.
"Apa itu penting untuk anda?." Jawab Zerlyn sinis.
"Sepertinya akan ada bergulat lagi Nih." Timpal Miller diujung pintu utama.
"Hey!! Sudahlah, kita berangkat sekarang." Lerai Clara dengan berteriak.
Ny.Hellen membuang nafasnya kemudian mengangguk membenarkan. Mereka segera berangkat menuju hotel X, Edgar, Ken, Miller, Zerlyn berada dalam satu mobil sedangkan sisanya berada dimobil yang lain.
Serta banyaknya mobil pengawalan berada di samping kanan kiri serta didepan mobil mereka yang begitu ketat sampai tidak ada celah sedikitpun.
**
Sepanjang perjalanan, suasana dalam mobil tampak hening. Tidak ada yang berani membuka suaranya apalagi melihat Edgar, singa itu menatap lurus kedepan dengan mata elangnya membuat Miller yang biasa berbicara tidak jelas, sampai enggan membuka suaranya.
Auranya terasa merinding bahunya refleks bergidik, Zerlyn yang mengetahui hal itu tersenyum miring kemudian menyentuh bahu Miller sampai membuatnya berteriak terkejut.
"Argghh!!!."
"Ffttt!!!." Zerlyn menahan tawanya berhasil mengerjai Miller seperti sedang ketakutan.
"Hey!! Bisakah diam!." Tegur Ken disamping kemudi ia sendiri sedikit terkejut mendengar teriakan Miller.
"Mill, kau seperti seorang gadis yang takut dengan cucunguk." Ejek Zerlyn.
Refleks Miller menoleh kebelakang melihat Zerlyn sedang menahan tawanya. "Nona ini selain ratu mafia ternyata sangat hobi menjahiliku ruapanya."
"Apa maksudmu Miller." Sambung Edgar tidak mengerti dengan ucapannya.
"Hey, Edgar! Kalian berdua ini sangat cocok dan sangat serasi, kau tau hanya kalian pasangan yang bisa dikategorikan sebagai 'pasangan iblis'." Celetuk Miller.
"Ckk!! Penjelasan anda terlalu berbelit Tuan Miller." Sinis Zerlyn.
"What? Apa aku salah mengucapkan kata? Bukankah itu faktanya?." Tanya Miller.
"Anda tau soal apa tentang 'kategori?' Dan mengenai pasangan iblis? Saya rasa itu tidak cocok untukku." Jawab Zerlyn.
"Sekali lagi berbicara, mulut kalian tidak akan berada ditempatnya lagi." Ancam Edgar jengah mendengar perdebatan tidak penting membuat otaknya sedikit pusing.
Suasana kembali hening, tak lama kemudian mereka sampai di area basement hotel. Zerlyn segera keluar bersamaan dengan ketiga pria dewasa tersebut. Serta pengawal yang berbaris rapih dibelakangnya.
"Hey!! Miller, sepertinya akan ada pesta hari ini." Ujar Zerlyn dengan menatap ke sekeliling area basemant.
"Benarkah? Wow!! Aku sungguh tidak sabar sekali Nona." Miller mengikuti gerakan dari Zerlyn sampai menyipitkan matanya namun tidak menemukan apapun.
"Apa maksud perkataanmu!." Bentak Edgar kebingungan.
"Nona melihatnya." Bisik Ken ditelinga Edgar.
"Apa?." Tanya Edgar.
"Sialan! Siapa sebenarnya dia Ken? Kenapa dia bisa tau?." Geram Edgar.
"Ikuti permainannya, sepertinya Nona bukanlah orang biasa apalagi ditelinganya selalu menggunakan Earphone disaat ada acara apapun itu." Jelas Ken.
"Berapa pengawal Varessham?." Tanya Edgar.
"300 ratus Tuan, sisanya sudah saya sebar luaskan." Jawab Tyler tangan kanan DeathBlood.
"Atur kembali untuk area basemanet jangan ada sisa sejentikpun dan terapkan dititik teraman serta cari informasi mereka." Perintah Edgar.
"Baik Tuan."
Edgar tersenyum miring kemudian melangkah masuk menaiki lift menyusul Zerlyn dan Miller yang sudah menunggu.
"Berhati hatilah jika ingin bermain." Desis Edgar ditelinga Zerlyn.
Zerlyn tersenyum sinis menatap Edgar "Maaf, saya rasa kata kata itu sangat cocok untuk anda."
Edgar merasa tercubit Zerlyn sepertinya tau apa yang ada dalam isi otaknya "Berani kau mengatakan seperti itu Heh!! Aku suamimu!."
"Astaga! Rasanya ingin terbang melayang saat anda mengatakan suami Tuan."
"FFtt!!." Miller menahan tawanya mendengar perdebatan mereka.
"Apa kau bilang." Edgar melotot tajam kearah Zerlyn serta tangannya mencubit perutnya.
"Kenapa perutmu sangat keras sekali." Tanya Edgar kebingungan.
"Ekh, ini pencabu@ namanya Tuan!." Pekik Zerlyn menelan slavinanya jarak mereka begitu dekat tanpa memperdulikan banyak mahluk didepannya lalu menepis kasar tangan Edgar.
"Oh Ya? Apa tidak boleh sama istri sendiri Hmmm??." Goda Edgar.
"Menjauh dariku! Sebelum aku hajar!." Ancam Zerlyn dengan kepalan tangannya bersiap memberikan bogeman mentah kepada Edgar.
"Hey!! Berhentilah berbicara omong kosong!."
"Tidak, aku hanya ingin eskrim sepertinya sangat enak jika di makan malam hari seperti ini." Ucap Zerlyn terkekeh.
"Cihh!! Sinting!." Desis Edgar.
Zerlyn tidak menghirauhkannya, sekilas tubuhnya kembali ditegakkan lalu menerobos pengawal didepan pintu lift.
"Mundur!." Tegur Zerlyn kepada pengawal Varessham.
Pengawal mengangguk kemudian mundur satu langkah.
Zerlyn kemudian menyenderkan tubuhnya ke dinding serta matanya mengawasi tombol Lift lantas mengusap permukaannya dan menemukan bekas sidik jari.
Membuang nafasnya gusar dan mengatur ritme jantung yang berdetak kencang pikirannya menjadi takut, takut jika sewaktu waktu mereka tiba tiba datang muncul didepannya.
Zerlyn tidak bisa membanyangkan bagaimana ngerinya melawan anggota yang begitu banyak, sedangkan dirinya hanya seorang diri.
Ingin sekali menanyakan hal itu kepada Fhai, namun situasi yang tidak memungkinkan mengingat mereka akan semakin curiga padanya.
Padahal, earphonenya sudah berbunyi sejak tadi, namun Zerlyn berusaha menahannya. Otaknya kembali harus berputar mencari strategi baru jangan sampai masalahnya bisa melukai oranglain termasuk Varessham.
Zerlyn tidak ingin akibat kecerobohannya bisa sampai mengakibatkan mereka ikut campur dalam masalah pribadinya. Dalam hati itu tak hentinya selalu berdoa semoga semuanya baik baik saja dan berjalan dengan lancar.
"Apa ada masalah Nona?." Tanya Ken yang curiga dengan gelagat dari Zerlyn.
"Tidak ada!." Jawab Zerlyn ketus.
"Katakan saja jika ada hal yang tidak membuat anda nyaman." Tukas Ken kembali.
"Apa perlu saya mengulang kembali ucapan saya?." Ujar Zerly menatap tajam ke arahnya.
"Ken, sudah ku katakan Nona bukanlah manusia biasa." Bisik Miller disampingnya.
Ken berdehem kemudian kembali diam sampai lift menuju lantai atas dimana acara itu baru saja dimulai.
πΏπΏπΏπΏ