
Kakinya menuruni tangga namun pikirannya melayang memikirkan ucapan Edgar waktu malam, hatinya merasa tercubit mendengar perkataannya.?
Zerlyn tidak menyangka jika Edgar bisa sampai mengucapkan hal seperti itu, kalau memang dirinya tidak dianggap lantas selama ini Edgar menganggapnya apa? Pembantunyakah? Batin Zerlyn.
Cairan bening itu hampir saja lolos keluar, namun berusaha Zerlyn tahan. Dadanya merasa sesak seketika, sejenak Zerlyn berpikir apa yang harus ia lakukan saat ini? Perlukah mengajukan kontrak pernikahannya? Mengingat sisa waktu tinggal 1 bulan lagi.
Namun kepalanya menggeleng pelan merasa itu bukanlah jalan yang terbaik apalagi kalau sampai Ny.Hellen serta Tn.Elmato tau mengenai pernikahan tersebut hanyalah kontrak, Zerlyn tidak bisa membayangkan bagaimana murkanya mereka.
Apalagi pernikahan baru berjalan masih seumur jagung, Edgar pasti akan menghinanya wanita lemah. Walau Zerlyn membantah keras hinaan tersebut, Namun Edgar akan tetap pada pendiriannya dan tidak akan percaya hal itu dengan mudah.
Kakinya baru saja mendarat diujung tangga dan akan kembali melanjutkan, Ny.Hellen segera memanggilnya.
"Zerlyn."
Zerlyn seketika menghentikan langkahnya lalu menatap Ny.Hellen "Iya Mah?."
"Kau tidak sarapan dulu?." Tanya Ny.Hellen.
Zerlyn menggeleng pelan "Nanti saja dikantin sekolah."
"Hmmm.. Apa kau sekarang baik baik saja?."
"Saya baik Mah, Zerlyn berangkat dulu." Pamitnya.
"Tunggu Zerlyn." Timpal Tn.Elmato kembali menghentikan langkahnya.
"Iya Pah?." Tanya Zerlyn kebingungan.
"Duduklah sebentar, ada hal yang ingin kami sampaikan." Jawab Tn.Elmato dengan tegas.
Zeryn sedikit panik, pikirannya takut jika Clara menceritakan perihal waktu kemarin. Meski sebelumnya Zerlyn sudah memperingati Clara untuk tidak menceritakannya kepada Ny.Hellen serta Tn.Elmato.
Zerlyn mengangguk patuh, kemudian duduk dimeja makan, Ny.Hellen segera memberikannya sepotong roti betot dengan selai sambel kacang lalu memberikannya kepada Zerlyn.
"Sarapan dulu sayang. Ayo!!." Tawarnya.
Lagi, Zerlyn hanya mengangguk pasrah lantas memakan sarapannya dengan khusyu.
"Apa kau tau perusahaan ZN2 GROUP Zerlyn?." Ucap Tn.Elmato langsung ke intinya.
Zerlyn mendongkak menatap Tn.Elmato sekilas, pikirannya kembali menjadi bingung apa sebenarnya yang ingin mereka bicarakan? Zerlyn sendiri tidak tau mengenai maksud dari keduanya.
"Hmmm.. Maaf Tuan,--"
"Jangan katakan kalau kau tidak tau!." Sambung Edgar dengan cepat memotong pembicaraan Zerlyn. Matanya menatap tajam seolah ingin menelannya langsung.
Sekilas, Ny.Hellen menatap Edgar kemudian pandangannya kembali ke arah Zerlyn. "Akh, begini maksud kami Zerlyn, selama perusahaan Varessham bergabung dengan perusahaan ZN2, perkembangannya begitu sangat pesat dan secara kebetulan hotel milik keluarga besar Varessham yang awalnya terpuruk karna ada permasalahan bisa kembali berdiri berkat bantuan dari ZN2."
"Untuk itu, bersamaan dengan perayaan menyambut hotel kami karna telah berhasil mencapai level angka tertinggi kami akan mengadakan acara dihotel tersebut malam ini juga." Jelas Ny.Hellen panjang lebar.
"Akh, jadi itu sebabnya mereka sampai mengemis meminta bantuan serta ingin bergabung dengan ZN2? Hanya dengan mengimingi beberapa persen saham." Batin Zerlyn merasa miris.
"Hmmm.. Maaf saya rasa, saya tidak pantas untuk datang ke acara seperti itu mah." Lirih Zerlyn seolah tau diri.
"Bagus kalau kau sadar!." Sinis Edgar.
"Edgar! Harusnya kamu dukung istrimu, hanya tinggal dipoles sedikit Zerlyn sudah cantik kok." Ujar Ny.Hellen.
"Mah, bukan cantiknya tapi apa tidak malu punya istri seperti dia? Selain bodoh mana kampungan!." Desis Edgar.
Clara yang takut terjadi perang ke 3 segera mencoba melerai "Kak Ed, jika malu membawa Kak Zerlyn biar Kak Zerlyn sama Clara saja satu mobil berangkatnya."
"Cihhh!! Sangat cocok bocil dan bocil."
"Aku juga ikut denganmu kita satu mobil Nanti." Sambung Ezra.
"No! Kak Ezra sama Kak Miller saja." Ucap Clara menolak keras.
"Hei!! Aku masih Normal! Aku akan pergi dengan kekasihku." Teriak Miller yang entah berada dimana orangnya tetapi telinganya begitu tajam mendengar ucapan dari Clara.
Clara meggeleng pelan kemudian menatap Zerlyn dengan lekat menatap gadis yang berseragam SMA itu tengah menunduk seperti ketakutan.
"Kak Zerlyn, apa bisa membantuku?." Jawab Clara dengan wajah mengiba.
"Apa kakak tau ini buatan dari negara mana?." Tanya Clara dengan menunjukan satu butir peluru.
"Clara!." Bentak Tn.Elmato terkejut menatap Clara dengan tajam.
"Apa apan kamu ini! Zerlyn masih sekolah, jangan membebaninya dengan pertanyaan konyolmu itu! Dimana otakmu Hah!." Sambungnya lagi dengan suara yang semakin meninggi.
Suasana dimeja makan yang awalnya tenang berubah menjadi menegangkan apalagi melihat kemaran dari Tn.Elmato yang menatap Clara dengan mata yang melotot tajam.
"Pah! Aku hanya ingin bertanya sama Kak Zerlyn, apa itu salah? Lagipula aku tidak mungkin menanyakan soal ini kepada orang yang menurutku itu sembarangan!."
"Sudah lama aku ingin tau jawabannya, tapi papah selalu saja menahan. Seolah itu hanyalah kecelakaan kecil, tapi aku tau pah itu bukanlah kecelakaan melainkan ada sebab lain." Jelas Clara.
Tn.Elmato akhirnya meredakan sedikit emosinya saat Ny.Hellen mengusap punggungnya mencoba sabar dan memahami Clara. Clara yang sekarang bukanlah yang dulu belum tau soal tentang kematian mereka, bertambahnya usia Clara perlahan pasti akan mengetahui kebenarannya.
Meski awalnya Clara meminta bantuan kepada Tn.Elmato namun Tn.Elmato tidak membantu mencari kebenaran tersebut, hanya berdalih jika itu murni sebuah kecelakaan.
"Apa hubungannya Clara dengan mereka? Sudah jelas ini adalah buatan luar yang memiliki kecepatan luar biasa wajar jika dikhususkan untuk berpangkat militer serta sniper?." Batin Zerlyn.
"Hmmm.. Maaf Clara, sepertinya aku tidak tau. Mah, Pah Zerlyn pamit berangkat dulu." Ujarnya dengan menyalami punggung tangan keduanya.
Bersamaan dengan Edgar yang juga berdiri dari duduknya disusul Ny.Hellen lantas menuntun keduanya untuk segera masuk mobil.
Tangan mereka yang diseret oleh Ny.Hellen merasa kebingungan namun hanya bisa pasrah tak mampu melawan. Hingga akhirnya sampai di samping mobil, Ken segera membuka pintu bersamaan dengan Miller yang juga ikut dengan mereka.
"Baik baik kalian berdua, jangan bertengkar terus bisa lupa nanti untuk buatkan mamahmu cucu." Peringat Ny.Hellen lantas menutup pintu mobil.
**
Keduanya mendelik sinis, lalu Zerlyn memutus pandangannya ke luar kaca melihat pemandangan dikota X. Batinnya teringat dengan Stella sahabatnya, baru saja kemarin Zerlyn bertemu ia sudah merasakan kembali rindu dengannya.
Lantas Zerlyn mengambil ponsel jadulnya mengetik beberapa pesan kepada Stella, namun sayangnya pesan itu tidak terkirim hanya centang satu dilayar ponsel.
Zerlyn membuang nafasnya kemudian sekilas memandang ke arah Miller yang duduk didepan samping Ken.
"Ehmmm!! Kau dari perusahaan mana?." Tanya Zerlyn sedikit iseng untuk memecah keheningan didalam mobil.
"Kenapa? Sepertinya Nona sangat penasaran sekali." Jawab Miller sedikit terkekeh.
"Jawab pertanyaanku! Bukan malah memberikan pertanyaan." Ketus Zerlyn.
"Hehehe saya pemilik perusahaan HALTON GROUP Nona." Ucap Miller.
"Bukankah Perusahaan itu sudah bergabung dengan DXA group?." Tebak Zerlyn.
"Anda benar, tapi darimana Nona tau soal itu?."
"Hanya menebak, kau tau bagaimana perusahaan DXA sekarang?." Tanya Zerlyn sedikit memancingnya hanya ingin memastikan kebenaran berita tersebut.
"Yang saya tau perusahaan itu bangkrut Nona, sudah lama juga. Hmmm.. Mungkin sekitar 10tahunan yang lalu." Jawab Miller kembali memfokuskan pikirannya untuk mengingat kejadian tentang perusahaan DXA.
"Untuk apa kau bertanya soal itu?." Cetus Edgar sedikit geram dengan kelakuan Zerlyn yang terus saja dekat dengan Miller.
Zerlyn menoleh ke arah Edgar yang masih sibuk dengan laptop dipangkuannya "Hanya bertanya Tuan." Bantah Zerlyn kemudian kembali menatap Miller.
"10 Tahun? Apa perusahaan itu masih ada??."
"Satau saya masih Nona, hanya dijaga ketat oleh sekelompok dari LEMOS."
"Lemoss? Apa itu??." Tanya Zerlyn kembali.
"Cihhh!!! Diam diam kau ternyata sangat penasaran sekali mengenai urusan bisnis dan orang dewasa! Seumuran seperti dirimu harusnya masih ngempeng." Celetuk Edgar asal.
Ken serta Miller mencoba menahan tawanya baru kali ini mereka mendengar keluhan Edgar mengenai istri kecilnya tersebut.
"Ingin lebih tau sedikit kan tidak masalah Tuan? Apa dipikiran Tuan itu salah? Aku inikan istri dari Varessham jadi harus tau sedikit tentang urusan bisnis." Bela Zerlyn seraya membanggakannya.
"Apa aku tidak salah mendengarnya? Bukankah sudah kukatakan dari awal jangan pernah bermimpi banyak menjadi Nyonya Varessham! Dan jangan pernah bermimpi kau dilindungi dari Varessham, kau tidak ada ikatannya sama sekali! Dengarkan dan camkan itu baik baik Nona Zerlyn." Ucap Edgar dengan menekan beberapa kata disertai ancaman.
"Jangan pernah berkhayal tinggi namun akhirnya harus jatuh! Siapa yang menerima sakitnya jika itu bukan diri anda sendiri." Sambung Edgar.
πΏπΏπΏπΏπΏ