
Suara ledakkan yang keras ternyata sampai terdengar beratus kilo meter termasuk sampai ketelinga Edgar.
Edgar menggeram frustasi, membuang nafasnya secara kasar lalu menyenderkan tubuh lelahnya disandaran kursi mobil.
Hatinya berkecamuk dan bergemuruh menahan amarah yang luar biasa. Apalagi saat mendengar laporan dari anak buahnya yang mengatakan jika itu benar mobil mereka.
Namun sayangnya jejak mereka menghilang entah keberadaannya ada dimananya, mengingat hutan ini sangatlah luas.
**
Zerlyn, Fhai, Bik May serta Frans mengatur strategi untuk melacak keberadaan musuhnya yang menurut laporan dari ThristyBlood berada dijarak 1800 mil.
Apalagi keadaan mereka terpisah, Zerlyn sendiri tidak tau dimana Timnya yang lainnya. Setau Zerlyn hanya ada Clara, Stella, Whalter, Luther dan Ervin.
Sedangkan sisanya tidak tahu berada dimana. Zerlyn tidak ingin ambil pusing yang terpenting baginya saat ini adalah mereka dizona aman, meski musuh itu sudah megepung bekas gudang tersebut.
"Kalian bertiga ambil posisi dititik sudut yang aman sisanya aku bagian paling utama." Perintah Zerlyn.
"Apa Nona yakin ingin menghabisinya sendirian? Apalagi itu jalan utama." Ujar Fhai sangat iba dengan kondisi Zerlyn.
"Fhai berhenti mengasihaniku, aku tau tanpa perlu kau bertanya lebih dulu!." Geram Zerlyn yang sangat kesal dengannya.
"Baiklah, jaga diri anda baik baik Nona." Fhai mengerti dengan kekesalan Zerlyn, apalagi Fhai yang merasa.. Akh entahlah. Fhai sendiri bingung untuk menjabarkan susana hatinya.
Keempatnya berpisah, Zerlyn berada dijalur utama untuk mencegah agar musuh tidak menyerang lebih jauh dan menyebabkan jumlahnya semakin banyak.
Sedangkan Ketiganya menyerang dari jarak jauh membasmi mereka yang sudah mengepung area gudang.
Tepat bersamaan dengan itu Zerlyn melihat mobil anak buah gabungan tiba tepat dihadapannya.
Zerlyn tersenyum sinis, dengan tangan memegang dua senjata api laras panjang dan pendek.
"Hallo Nona Zerlyn, apa kau sendirian? Dimana anak buahmu? Apa mereka sudah mati?." Ejeknya sedikit terkekeh.
"Untuk apa anda menanyakannya? Apa itu penting?." Sinis Zerlyn.
"Cihh!! Dimana gadis itu? Bawa dia kehadapnku sekarang! Sebelum kau merasakan akibatnya!."
"Kenapa? Kau ingin membunuhku melalui anak buahmu itu?."
"Sialan! Hajar dia! Bila perlu bunuh sekalian!." Teriaknya kepada seluruh anak buahnya.
Zerlyn tersenyum miring menatap anak buahnya yang mencapai puluhan.
Langkahnya maju kedepan menatap anak mereka secara satu persatu, dengan badan besar dan berotot serta tegap dan tinggi tak membuat nyali Zerlyn menciut.
"Maju semyanya!." Teriak Zerlyn.
Anak buahnya lantas segera menyerang Zerlyn, pertarungan antara lima melawan satu orang berkali kali Zerlyn menangkis serangan musuh yang menurutnya sangat kuat.
BUGGHHH
DOORRR!!!
"ARGGHHH!!!."
BRRUKKK!!!
"Oh!Sh@!." Umpat Zerlyn tumbang serta dahinya terkena serempetan peluru.
Pria tua itu tersenyum puas melihat kondisi Zerlyn yang mengenaskan.
"Bagaimana? Kau masih ingin menyerang anak buahku?." Tangannya mencengkram kuat leher Zerlyn sampai Zerlyn sedikit meringis.
"Lepaskan! Breng@!." Teriak Zerlyn.
"Apa lepaskan? Tidak mudah Nona Zerlyn, membunuhmu itu mungkin lebih baik. Agar kau tidak lagi mengacaukan misiku." Sinisnya lantas memegang senjata api tepat dibagian keningnya.
"Kau licik! Kenapa kau tidak menembakku didepan? Dasar peng@!." Pekik Zerlyn.
Ia benar benar panik, tidak bisa mengontrol emosi dengan baik. Nafasnya terasa tercekik serta nyawa itu seperti berada diujung tenggorokannya.
"Tuan.." Lirih Zerlyn menelan slavinya susah payah.
"Pertunjukan yang sangat dramatis." Sinis Edgar melihat kondisi Zerlyn dengan dahi robek, darah mengucur deras, serta terdapat luka dibeberapa bagian titik tubuhnya.
Serta baju yang Zerlyn gunakan hanya sebatas menutupi bagian dadanya, otomatis perut sixpacknya terpampang jelas serta tangannya yang berotot.
Anak buah Varessham, Ken, Stev serta Miller bisa melihat hal itu dengan jelas apalagi dengan kondisi Zerlyn sangat mengenaskan.
"Tuan Edgar?." Pekik Pria tua itu lantas melepaskan cengkraman di leher Zerlyn.
BRRUKK!!
"Argghh!!!."
Zerlyn memundurkan langkahnya dengan cara mengesot.
"Kau! Selain pembangkang! Kau juga sangat keras kepala!." Bentak Edgar meluapkan emosinya.
Edgar melepas jasnya lalu memakaikan ketubuh Zerlyn, serta menekan luka didahi serta bibirnya yang robek. Ken mengambil sapu tangan miliknya untuk menahan darah agar tidak terus keluar.
Zerlyn memundurkan langkahnya "Untuk apa anda datang kesini?."
"Kau bertanya untuk apa? Apa matamu buta Hah! Lihat kondisimu seperti apa sekarang!."
Zerlyn tersenyum sinis menatap Edgar, serta tangan itu menekan luka didahinya alhasil darah itu mengenai tangannya.
"Ed! Zerlyn terluka parah!." Teriak Miller.
Edgar melirik sekilas ke arah Miller lalu kembali menatap Zerlyn seolah dalam dirinya merasa tidak kesakitan sedikitpun. Edgar berpikir, setegar itukah watak Zerlyn?.
"Kak Zerlyn, apa itu sakit? Kenapa tidak menangis?." Celetuk Ezra.
Zerlyn sekilas melirik kearahnya dan sejenak sangat malu apalagi mereka menatapnya dengan iba mengenai kondisinya yang terluka parah.
"Jika ingin melepaskan rasa sakitmu, tidak perlu gengsi Zerlyn! Semuanya tau tidak ada yang menahan rasa sakit yang berlipat disaat keadaan sepertimu." Tegur Miller sangat geram dengan sifat keras kepala serta sok paling kuat, padahal Miller tau jika saat ini Zerlyn tengah menahan sakitnya.
Tangan Zerlyn mengudara mengkode untuk Ezra agar jangan mendekat. Lantas jarinya menghitung mundur serta mengkode lewat daun yang menjuntai mengenai kepalanya.
Disaat daun itu bergerak, semuanya melotot terkejut entah datang dari mana asalnya, tiba tiba musuh didepan mereka seluruhnya tewas ditempat.
DDORRR!!!
DORRRR!!!
Mata Zerlyn yang awas dan tajam melihat pergerakkan musuh dibelakang Edgar, Zerlyn tidak tau siapa dia. Sebab, anggota ThristyBlood posisinya berada diselatan, bukan disebelah barat.
Refleks Zerlyn mendorong Edgar saat musuh itu menekan pelatuknya, Edgar marah sekaligus menahan emosi dalam dadanya.
"Kau!--"
Anak buah Varessham sangat terkejut dengan aksi nekat Zerlyn yang mendorong Edgar hingga jatuh tersungkur. Namun satu detik kemudian, mereka menyesali pikiran negatifnya.
DDORRR!!!
"Argghhh!!!!."
BRUUKKK!!!
Disaat akan menembak Edgar, peluru itu justru malah mengenai perut Zerlyn. Alhasil mulutnya seketika langsung memuntahkan darah segar.
Ditambah lagi dahinya yang masih mengeluarkan darah sampai merembes ke pipi mulusnya.
ZERRLYYNN!!!!
Zerlyn sekilas menatap Edgar walaupun pandangannya sudah buram tapi Zerlyn bisa melihatnya dengan jelas jika Edgar seperti sedang menangisi penyesalannya.
Kemudian, tangan yang berlumuran darah itu menyentuh wajah Edgar dengan lembut, serta bibirnya tersenyum hangat.
"Maafkan aku... Tolong, sampaikan maafku pada mamah dan papah.. Maaf aku pergi tanpa seiizin darimu, serta izin dari mereka.. Tapi, katakan padanya.. Aku sudah berhasil mendapatkan Clara kembali, sebagai gantinya aku pergi.. Aku berharap, kamu hidup bahagia bersama keluargamu yang baru.. Dan, semoga kau bahagia bersama wanita pilihanmu, suamiku.. Aku mencin..--" Lirih Zerlyn matanya langsung tertutup rapat.