KING MAFIA IS MY HUSBAND

KING MAFIA IS MY HUSBAND
HUKUMAN PART 3



Alden menyentuh wajah Stella, mencengkram dagunya dengan kuat kemudian Alden semakin mendekatkan jaraknya tak sabar ingin segera mencicipi bibir merah merekah alami tersebut.


Stella menutup mata, keringat dingin mengucur deras dipelipis, serta hatinya terus berdoa semoga ada keajaiban yang menanti dirinya.


BRAAKKK!!


ALden terkejut, baru saja aksinya sedikit lagi akan tersalurkan pintu gudang sudah terbuka lebar. Padahal menurut Alden ia tidak lupa untuk menguncinya dengan rapat serta ada dua penjaga yang menunggu didepan pintu.


Alden menggeram kesal lalu beranjak berdiri melihat siapa yang berani mengganggunya.


"Hallo panci." Sapa Zerlyn menatap kearahnya.


"Sialan! Loe berani mengganggu gue Hah?." Geram Alden.


Zerlyn tersenyum sinis kemudian menatap sahabatnya Stella yang dalam kondisi mengenaskan.


"Zerlyn.. tolongin gue." Pinta Stella dengan suara lirih.


"Loe berani nyentuh sahabat gue, dan loe berani mengganggunya yang itu artinya nyawa loe berada digenggaman gue sekarang." Desis Zerlyn menatap Alden dengan tajam.


Alden tertawa mengejak mendengar ucapan Zerlyn "Oh ya? Setau gue, loe itu cuma pengecut!."


Zerlyn menyipitkan matanya sejenak, otaknya kemudian kembali teringat waktu penyerangan anak buah Alden padanya.


"Pengecut? Apa loe tidak salah mengucapkan kata?." Tanya Zerlyn.


"Gue yakin pendengaran loe tidak tuli dan masih berfungsi dengan baik." Jawab Alden.


Zerlyn tersenyum kecut "Yang pantas jadi pengecut itu ELO! Yang bisanya hanya mengandalkan anak buah buat nyerang gue!."


"Katakan saja Zerlyn, loe tidak sanggup untuk melawan anak buah milik gue bukan? Hahaha!! Rasanya seperti menyenangkan dan lucu sekali mengingat kejadian waktu itu. Tapi, sungguh amat disayangkan... Video yang gue sebar rupanya dalam satu detik sudah tidak bisa diakses. Gue juga tidak tau siapa yang berani melakukannya, namun sepertinya orang itu sangatlah hebat tidak akan mampu menyainginya." Jelas Alden menekan beberapa kata dengan kode mata yang menatap Zerlyn tajam.


"Hmm.. Ah, seandainya saja itu ada, dunia akan heboh jika seorang is..." Sambung Alden kembali.


PLAAKK!!


Stella terkejut melihat sikap Zerlyn yang baru Stella ketahui jika ternyata Zerlyn memiliki sifat bengis dan kejam. Bahunya bergetar, ia sangat syok dan ketakutan.


Meski memang Zerlyn tidak pernah berlaku kasar padanya, namun tetap saja Stella merasa takut apalagi saat menatap wajah Zerlyn terlihat santai, tetapi aura iblis dalam dirinya sangatlah jelas.


___


Belum sempat Alden meneruskan kalimatnya, Zerlyn lebih dulu menamparnya. Ia sangat emosi mendengar ucapan Alden yang selalu mengatakan kata 'istri'.


"Sialan!." Pekik Alden mengepalkan tangannya kuat.


"Loe yang sialan!." Bentak Zerlyn dengan nada tinggi.


Alden menggertakkan giginya, urat urat dilehernya terlihat sangat jelas kemudian memanggil beberapa anak buahnya yang sudah menungguinya sejak tadi berada dibelakang Zerlyn.


"Lyn, loe harus hati hati, Loe gak boleh mati, loe harus nolongin gue." Ujar Stella saat mengetahui anak buah Alden sudah berjajar rapih. Entah ada berapa, Stella tidak mengetahuinya karna jumlahnya terlalu banyak.


"Stell, daripada loe berisik mending jadi childers." Celetuk Zerlyn sekilas memandang ke arah Stella, sedikit risih dengan ucapan yang ia lontarkan. Ingin sekali menendang mulutnya, namun Zerlyn masih berbaik hati.


Stella menggeleng pelan ia berpikir disaat kondisi menegangkan, Zerlyn malah mengajaknya bercanda.


"Loe yakin Lyn bisa ngalahin tuh preman? Sedangkan Preman itu sendiri banyak, mana bawa senjata. Nah, sedangkan loe? Gak pake apa apa terus ngelawan mereka sendirian. Gue takut Lyn, gue takut loe mati."


Zerlyn tidak menghiraukan ocehan Stella, otaknya berpokus mencari posisi yang pas untuk membasmi mereka. Serta mengakui kebenaran akan ucapan Stella yang mengatakan jika anak buahnya membawa senjata api lengkap.


Zerlyn tau akan hal itu, harus lebih ekstra waspada jangan sampai ceroboh dan sembarangan. Untuk Melawannya perlu menggunakan ketenangan sekedar mengatur posisi, statistik yang anggun agar sekali menyerang musuh kalah telak.


"Woy! Pantat panci! Loe licik sialan! Dasar pengec@! Beraninya melawan cewek, Cihh!! Loe emang pantas disebut banci!." Teriak Stella emosi.


Alden tersenyum samar kemudian mendekati Stella untuk membungkam mulutnya yang sudah berani mengatakan jika dirinya 'banci'.


"Mau ngapain loe Hah??." Gertak Stella panik saat Alden tengah berjalan santai ke arahnya.


Belum sempat Alden menggapai target buruannya, Zerlyn lebih dulu menghentikan aksinya dengan memukul rahang Alden dengan keras.


BBUGGGHH!!!


KRAAKKK!!


Tak tinggal diam, Zerlyn kembali meninju hingga wajah Alden tidak bisa dikenali. Dengan bagian luka serta lebam di beberapa titik, darah segar mengucur dari lubang hidung dan matanya bengkak kebiruan.


"Mampus! Loe lebih baik kaya gini! Dan beruntung, gue tidak sekalian membunuh loe!." Kata Zerlyn menendang kuat kepala Alden dengan sepatu miliknya.


Stella dibuat melongo ngeri melihat aksi brutal Zerlyn, tidak menyangka jika Zerlyn memiliki sifat sadis. Sama halnya dengan anak buah Alden yang tidak terima jika boss mereka kalah dengan bocah ingusan.


Alden yang tengah menahan sakit di wajah serta kepalanya kemudian memberi kode lewat tangannya untuk segera menyerang.


___


Zerlyn memandang sinis kearah mereka kemudian dengan lantang Zerlyn berkata "Maju loe semua! Banci!."


"Lyn, jangan.. Please itu bahaya buat loe." Tegur Stella merasa iba dengan Zerlyn disaat seperti ini, ia tidak bisa membantunya.


Tak ingin tinggal diam, Stella segera menggerakan tubuhnya untuk melepas ikatan tali yang melilit dikursi. Setelah sekian lama berusaha akhirnya Stella berhasil membuka ikatan tersebut.


Kemudian, tali yang masih berada dalam genggamannya ia ikatkan kuat kepada Alden posisinya masih sama seperti tadi.


Stella lantas menyeret Alden untuk duduk dikursi, Alden panik saat mengetahui jika Stella bisa lolos meski sudah ia ikat. Alden segera berontak meski bibirnya meringis menahan sakit.


"Ngapain loe jala@!." Bentak Alden menepis kasar serta mendorong Stella.


Stella sedikit tersungkur ke belakang, namun kembali bangkit dan menghajar Alden memukul sebisanya seperti saat Stella melihat aksi Zerlyn tadi.


"Argghh!! Sialan!."


Disaat sudah berhasil menyeret Alden mendudukkannya di kursi, Stella segera mengikatnya dengan kuat.


"Lepaskan Jal@! Jika loe berani, nyawa loe jadi ancamannya!."


Stella tidak mendengar ancaman Alden, dengan gerakan cepat Stella kemudian segera mengikatnya dengan kuat.


___


Zerlyn sedikit kelelahan dan kwalahan melawan mereka yang berjumlah banyak, dengan luka dibeberapa tubuhnya serta yang paling miris adalah luka terbuka di bagian tangan, darah itu tak hentinya menetes keluar.


Lantasx Zerlyn segera menekan earphone ditelinganya untuk menghubungi Fhai.


"Hallo Fhai?." Sapa Zerlyn.


"Hallo Nona?." Sambut Fhai disebrang telpon.


"Apa kau lagi sibuk Fhai?." Tanya Zerlyn sesaat mendengar suara Fhai seperti tertahan.


"Iya Nona, saya lagi meeting bersama Tn.Edgar membahas soal kontrak kerjasama yang sesuai anda inginkan." Jawab Fhai dengan jelas.


"Ah, begitu.. Baiklah, setelah selesai, kau cek lok aku sekarang untuk hapus beberapa cctv sisanya kerahkan anak buahmu membereskan kekacauan di gudang dekat SMA KEMBANG 7 RUPA." Perintah Zerlyn.


"Apa sedang dalam masalah Nona?." Tanya Fhai sesaat mendengar suara kegaduhan yang terdengar jelas ditelinganya.


"Ya, Fhai aku.."


"Argghhh!!! Sialan!." Desis Zerlyn tersungkur akibat tubuhnya ditendang kuat.


"Zerlyn!!." Teriak Stella merasa miris melihat kondisi tubuhnya apalagi saat matanya menatap luka terbuka dibagian tangan, pipi bekas tamparan, serta ujung bibir yang robek.


Stella mencari benda apa saja sebagai senjata di sekelilingnya, kemudian ia menemukan sebuah besi teronggok dekat sudut. Segera Stella mengambilnya dan entah keberanian yang datang dari mana, Stella memukul lawan musuhnya dari belakang dengan kuat.


BRRUKKK!!


KRAAKKK!!!


"ARGGHH!!!."


"STEELLAAA!!." Panggil Zerlyn yang tanpa sadar Earphone ditelinganya masih menyala. Itu artinya, Fhai bisa mendengar dengan jelas.


🌿🌿🌿🌿🌿