KING MAFIA IS MY HUSBAND

KING MAFIA IS MY HUSBAND
HAL YANG TIDAK TERDUGA



Zerlyn membuang nafasnya gusar, mulutnya tampak komat kamit tidak jelas gara gara Stella yang terus menuntutnya meminta penjelasan perihal waktu Zerlyn dirumah sakit.


Stella mengajak Zerlyn sehabis pulang sekolah untuk ke tempat resto langganannya. Sekedar mencari tempat yang pas menyalurkan ceritanya. Hal itu sontak membuat Zerlyn bingung, ia sendiri harus beralasan apa kepada Stella?.


Apa perlu Zerlyn menceritakan semuanya? Namun Zerlyn kembali berpikir merasa itu tidak perlu, dirinya takut jika Stella tidak bisa menjaga rahasianya dengan baik.


___


"Woy!! Jangan bengong mulu loe!!." Tegur Stella melihat Zerlyn termenung.


Zerlyn melirik ke sampingnya "Bukan bengong, tapi gue gak punya duit Stell." Jelas Zerlyn.


"Ah, alasan loe basi! Bilang aja loe kangen sama bebep pantat panci." Goda Stella mencolek dagu Zerlyn.


"Cihh!!." Desis Zerlyn mencibir.


"Daritadi gue perhatiin loe bengong terus, tenang Lyn tuh si pantat panci cuma satu hari nggak masuk besok juga dia kembali." Stella terkekeh melihat raut wajah Zerlyn menatapnya dengan tajam.


"Bukan urusan gue! Mau satu hari, mau selamanya itu lebih bagus." Ketus Zerlyn berdiri dari tempat duduknya kemudian menyambar tas untuk segera pulang.


Stella segera menyusul dibelakangnya "Kalau selamanya kelamaan dong Lyn, nanti loe gak bisa kangenan lagi." Ujar Stella yang masih asyik menggoda Zerlyn.


Zerlyn jengah mendengar Stella terus saja membahas tentang Alden. Semenjak penyerangan waktu itu ditambah sekarang Zerlyn sudah tau tentang identitas asli miliknya, Zerlyn semakin benci kepada Alden.


Zerlyn menganggap Alden sekarang adalah bagian musuhnya yang harus segera dimusnahkan, namun sialnya lagi lagi Alden selalu menghilang kabarnya bak ditelan bumi. Entah sengaja menghindar atau entah malu karna Zerlyn sudah mengetahui siapa dirinya, Zerlyn sendiri tidak tau akan hal itu.


Kemudian, ia menghentikan langkahnya lalu menatap Stella "Bisa gak sih, loe gak usah bahas si pantat panci!."


Stella menelan ludahnya kasar, sedikit ketakutan melihat tampang Zerlyn seperti setan dengan mata yang tajam menatapnya.


"Hmmm.. Okay!! Kita keresto sekarang, loe ga boleh kabur lagi Lyn." Ancam Stella dengan mengapit tangan Zerlyn mencegahnya supaya tidak menghindar ataupun mendengar seribu alasan yang Zerlyn selalu ucapkan padanya.


___


Keduanya kini tengah berada di resto kota X, Stella sengaja memesan ruang VIP yang sepesial untuk Zerlyn beserta dirinya. Stella sendiri sebenarnya memiliki alasan lain yang hanya dirinya sendiri yang tau.


Setelah memesan makanan, Stella tak hentinya menatap sekeliling resto yang megah. Bibirnya berdecak kagum dengan interior yang terkesan mewah.


Kemudian menatap Zerlyn didepannya "Gue perhatikan loe dari tadi melamun terus, kenapa sih loe?." Tanya Stella keheranan.


"Ah, gak gue gpp." Jawab Zerlyn.


"Sekarang loe cerita sama gue!." Tuntut Stella.


Zerlyn sejenak melongo mendengar ucapan Stella, ia sendiri bingung harus mulai dari mana.


"Cerita apaan sih maksud loe? Gue gak paham Stell, loe dari tadi ngomong Cerita - cerita sama gue tapi gak bilang cerita tentang apa?." Sinis Zerlyn memutar bola matanya.


Stella diam sejenak, membenarkan ucapan Zerlyn, Stella sendiri belum menjelaskan padanya. Bersamaan dengan itu, sosok tiga pria dewasa berjalan beriringan masuk keruangan VIP.


Stella melotot menatap ketiga pria tampan tersebut yang secara kebetulan duduknya tepat berdampingan. Hal itu membuat Stella bisa sambil mencuri pandang.


"Itu Stell, maksud gue." Pekik Stella menunjuk ke arah Ken.


Zerlyn mengikuti pandangan Stella, tak lama bola mata Zerlyn melebar sempurna mulutnya menganga tidak percaya. Zerlyn merasa ingin segera kabur dari tempat neraka tersebut.


Zerlyn tahu yang ditunjuk Stella adalah Ken, Zerlyn berpikir kenapa Ken berada dirumah sakit? Darimana Ken tahu jika dirinya sedang dirawat meski hanya beberapa hari.


Serta mata Zerlyn melihat Fhai didepan Edgar wajah tampannya terlihat santai saat Edgar memberikan pertanyaan demi pertanyaan yang seolah memojokkan dirinya. Zerlyn tidak tau mereka membahas tentang apa? Sebab, obrolannya tidak terlalu jelas untuk Zerlyn dengarkan.


"Dia memangnya kenapa?." Tanya Zerlyn.


"Pria itu yang ada dirumah sakit nengok loe Lyn." Jawab Stella.


Zerlyn menyipitkan matanya menatap Stella keheranan "Apaan sih maksud loe?."


Stella memutar bola matanya kemudian menjitak kening Zerlyn hingga mengaduh kesakitan.


CETAAKK!!!


"Aduhhh!! Sakit ogeb!." Teriak Zerlyn dengan suara lantang mengelus keningnya yang terasa perih.


"Sttt!!! Pelankan suara loe!." Tegur Stella melihat ketiga pria tersebut menatap kearahnya.


Zerlyn melotot terkejut dan menelan ludahnya bertepatan dengan Edgar manatapnya dengan tajam.


___


Disaat Edgar tengah pokus berbicara didepan Fhai, telinganya tak sengaja mendengar suara yang tak asing baginya. Kemudian mencari asal sumber suara yang ternyata berada dimeja samping, sedikit terkejut saat mengetahui jika Zerlyn berada ditempat yang sama dengannya.


"Ken, ngapain sibocil disini? Apa dia membuntutiku?." Tanya Edgar kepada Ken.


"Tidak tau Tuan." Jawab Ken acuh. Ia sendiri tidak mengetahui asal usul darimana tiba tiba istri kecilnya berada ditempat yang sama.


"Kau bilang apa?." Ulang Edgar geram.


Ken menatap Edgar yang sepertinya singa itu akan kembali mengamuk.


"Saya tidak tau Tuan." Ulang Ken kembali dengan datar tanpa takut akan kemarahan dari Edgar.


Fhai sekilas melirik Ken serta Edgar keduanya masih terlibat perdebatan kecil, kemudian Fhai menggeleng pelan.


Sejenak Fhai menatap Zerlyn sebentar, ia melihat Zerlyn tampak cantik dengan rambut ekor kuda memperlihatkan leher putih jenjangnya.


"Ehemm!!." Ken berdehem saat mengetahui Fhai mencuri pandang melihat Zerlyn tanpa berkedip sedikitpun.


Fhai kemudian kembali menatap keduanya dengan santai seolah tidak terjadi apapun. Hal itu membuat Ken merasa sedikit curiga.


"Fhai, katakan kepada Tuan Anda jangan seperti pengecut yang bekerja terus dibalik layar!." Tegur Edgar yang secara tidak sadar dengan ucapannya sendiri.


Fhai menelan ludahnya kasar, Fhai diam sejenak mencerna ucapan Edgar yang mengatakan kata 'pengecut'.


"Hmmm.. Maaf Tuan bukan pengecut tapi beliau sering sibuk keluar negri mengurus perusahaan utama dinegara A." Bela Fhai mencari alasan.


Fhai mendengar hal itu sangat emosi, tangannya mengepal kuat jika sedikit ada keberanian Fhai ingin membungkam mulut busuk Edgar yang sangat berani mengatakan hal seperti itu. Fhai berharap suatu saat Edgar akan menyesal dengan tindakannya. Batin Fhai.


"Maaf Tuan, lebih baik jaga ucapan anda jangan sampai menyesal suatu saat nanti." Tegur Fhai.


"Anda menceramahi saya Fhai? Sebelum Anda mengatakan hal itu, saya sudah berpikir dengan baik dan membenarkan jika ucapan saya tidaklah salah!." Bantah Edgar menatap Fhai dengan sengit.


"Saya berharap apa yang anda katakan memanglah kenyataannya. Tapi, saya tidak berharap jika anda akan menyesal nanti. Kalau begitu, saya permisi dan untuk masalah persetujuan kontraknya nanti saya akan informasikan kembali." Pamit Fhai kemudian berdiri melangkah menjauh dengan hati yang berdumel kesal, jengkel dan marah. Tak hentinya Fhai terus mengumpati Edgar berharap suatu nanti akan ada kesadaran untuknya.


"Sialan!." Desis Edgar.


"Tuan, jaga emosi anda jangan sampai Fhai membatalkan kerjasamanya. Jika itu terjadi maka perusahaan akan terancam." Tegur Ken.


Edgar menatap Ken dengan sengit "Kau ingin menceramahiku seperti siFhai Hah? Apa sekarang tugasmu berubah menjadi pencermah Ken?."


"Maaf Tuan, saya hanya mengingatkan." Bantah Ken.


"Aku tidak peduli! Masih banyak perusahaan lain yang jauh lebih besar dari perusahaan ZN2 group Ken. Kau tau akan hal itu tanpa perlu aku mengingatkannya!."


"Saya tau Tuan, tapi masalahnya hanya ZN2 group salah satunya perusahaan besar yang memilik cabang di negara I apalagi belum perusahaan utamanya."


"Cari perusahaan yang lain bodoh! Kita tidak ada waktu banyak!." Bentak Edgar geram dengan kelemotan otak Ken.


Ken menggeleng "Tidak bisa dan tidak akan ada yang mau Tuan."


Edgar menatap Ken dengan tatapan yang sulit diartikan "Kenapa kau berbicara seperti itu? Kau tau perusahaan Varessham Ken? Perusahaan nomor satu se-Asia, bahkan oranglain sudah tau tentang perusahaan itu." Ujar Edgar dengan nada sombong.


"Mengingat hanya ZN2 yang sanggup bersaing dengan perusahaan Varessham serta mampu memberikan apa yang perusahaan kita butuhkan." Jelas Ken.


"Arghhh!!! Sial!." Desis Egdar kembali merasa pening dengan otaknya.


___


Zerlyn yang sejak tadi masih berdiam diri ditempat kemudian menghampiri Edgar disaat Stella pergi untuk ke toilet sebentar. Entah keberanian itu datang dari mana, Zerlyn hanya merasa iba pada Edgar. Sejak tadi Zerlyn mendengar gurauannya seperti sedang frustasi.


"Tuan?." Panggil Zerlyn dengan suara pelan.


Edgar mendongkak menatap Zerlyn tengah menunduk ketakutan. Ken dalam hatinya bergumam jika akan ada target korban selanjutnya.


"Mau apa kau kemari?." Tanya Edgar dengan membentak Zerlyn.


Zerlyn diam sejenak merasa takut dengan bentakan serta sorot mata tajam milik Edgar.


"Tidak, hanya..."


"Hanya apa? Apa kau ingin seperti si gagu? Apa kau sudah ketularan dengannya?." Desis Edgar yang sejanak teringat kembali disaat mendengar suara Zerlyn yang gugup membalas ucapannya.


Zerlyn melongo "Huhh? Gagu? Siapa?." Gumam Zerlyn dengan suara pelan namun masih terdengar jelas ditelinga keduanya.


Edgar tidak menjawabnya, kembali pikirannya memikirkan nasib kedepan yang entah akan seperti apa?.


Zerlyn yang sejak awal menundukan kepalanya sekilas melihat berkas di atas meja, kemudian tangannya sedikit membetulkan posisi berkas tersebut serta membacanya walau sebentar.


"Ah, jadi ini masalahnya." Batin Zerlyn.


Edgar segera merebut berkas itu kemudian menatap Zerlyn "Jangan berani menyentuh benda apapun itu! Kau sangat lancang sekali!."


"Ah, maaf Tuan." Sesal Zerlyn.


Tak lama, ponselnya bergetar segera Zerlyn mengambil didalam saku seragam sekolahnya.


πŸ“© "Nona, bisa datang keperusahaan? Ada hal penting yang ingin saya sampaikan."


πŸ“© "Ada apa Fhai? Apa perusahaan sedang dalam masalah serius?."


πŸ“© "Perusahaan dalam keadaan aman Nona, ini mengenai masalah tentang kontrak kerjasama dengan Varessham."


πŸ“© "Apa kontrak itu ada masalah Fhai?."


πŸ“© "Datang segera ke keperusahaan, saat ini sedang membutuhkan anda."


πŸ“© "Baiklah."


πŸ“© "Perlu saya jemput Nona?."


πŸ“© "Tidak perlu, bahaya jika sampai ada yang mengetahuinya."


πŸ“© "Baik, saya tunggu diperusahaan."


πŸ“© "Oke."


Edgar memperhatikan gelagat Zerlyn tengah membalas pesan singkat diponsel jadulnya yang nampak sangat serius. Sedetik kemudian Edgar segara merebut ponsel milik Zerlyn hingga membuat Zerlyn panik setengah mati.


"Argghh!! Tuan!!." Pekik Zerlyn kemudian duduk disamping Edgar untuk merebut kembali ponselnya yang berada ditangan Edgar.


Edgar terus menjauhkan ponsel milik Zerlyn. Edgar seolah tidak peduli disaat tubuh Zerlyn sudah merapat dengannya. Dan seolah tidak peduli dengan banyak pasang mata pengawal serta Ken yang terus menatap ke arah mereka.


Disaat Zerlyn berusaha menggapai ponsel tersebut dengan sekuat tenaga, refleks Edgar merangkul pinggang ramping istrinya. Keduanya tampak tidak sadar dengan posisi mereka, Zerlyn yang tengah duduk dipangkuan Edgar sedangkan Edgar sepertinya begitu asik menggoda Zerlyn.


Edgar sendiri tidak tau perihal mengenai pesan singkat tersebut, fokusnya teralihkan dengan kedekatan dirinya dengan Zerlyn yang Edgar sendiri baru menyadari hal itu. Jarak keduanya begitu dekat sampai Edgar bisa mencium harum shampo serta tubuh milik Zerlyn.


Begitupun dengan Zerlyn sendiri, aroma maskulin dari tubuh Edgar sangat memabukan membuat Zerlyn sangat nyaman berada dipelukannya.


Posisi yang sweet dan tanpa mereka sadari, Ken mencoba mengalihkan pandangannya ke arah lain serta mengkode lewat tangannya kepada pengawal yang berjaga didepan pintu VIP untuk tidak menyaksikan adegan tersebut.


Hingga suara cempreng yang berteriak memanggil Zerlyn membuat suasana itu terkesan canggung. Zerlyn buru buru turun dari pangkuan Edgar dan segera merebut ponselnya.


"Woy! Zerlyn!." Teriak Stella yang baru kembali dari toilet dan terkejut melihat Zerlyn berada di pangkuan pria dewasa.


🌿🌿🌿🌿🌿