Kepentok Cinta Abang Duda

Kepentok Cinta Abang Duda
Episode 94



Bug


Bug


Bug


"Cucuku.....hiks...hiks... bagaimana bisa kalian tidak melindungi menantu kesayangku. Sampai dia terluka seperti itu. Apa yang papa dan Aven lakukan? Sampai tidak menjaga Zara. Hiks...hiks...menantuku sampai terluka dan aku kehilangan cucu mama, pa," teriak mama Alin menangis meraung-raung setelah mendengar cerita yang sebenarnya dari sang suami.


Dia tidak menyangka jika Zara akan mengalami keguguran. Mama Alin kecewa dengan suami dan juga putranya yang tidak mampu melindungi menantu dan juga calon cucunya. Padahal mereka memiliki banyak uang dan kekuasaan untuk bisa melindungi keluarganya. Mama Alin begitu kecewa dengan kedua jagoannya tersebut. Cucu pertamanya harus pergi sebelum sempat diketahui oleh mereka sebelumnya.


"Mama ingin wanita ja-ha-nam itu mendapatkan hukuman yang setimpal. Kalau mereka tidak menghukumnya dengan benar, maka mama sendiri yang akan menghukum dia. Mama nggak peduli meski negara ini ada hukum sekalipun," ucap mama Alin dengan raut wajah penuh dendam. Dia tidak terima setelah melihat kondisi menantu kesayangannya. Bagaimana nanti jika Zara sadar dan dia diberitahu kalau calon anaknya meninggal dunia karena kecelakaan tersebut. Mama Alin tidak habis pikir.


Huaaaaaaaa.....


Suara tangis mama Alin semakin menjadi-jadi lagi. Setelah dia mengingat sang menantu yang masih belum sadar setelah menjalani operasi.


"Sudah ma, jangan menangis terus, ingat dengan kesehatan mama sendiri. Kita harus lebih kuat daripada mereka ma. Kita sebagai orang tua harus bisa menguatkan mereka berdua, ma," ujar papa Tomo memberikan semangatnya kepada sang istri.


Pak Tomo tahu kalau sang istri begitu mengharapkan seorang cucu. Maka kehilangan cucunya seperti saat ini membuat sang istri sampai bersikap frustasi.


"Aku ingin membu-nuh wanita itu pa. Mama sakit hati pa. Wanita itu memang bukan manusia. Dia iblis dan mama ingin memusnahkan dia dari muka bumi ini saja, hiks....hiks...cucuku....".


......................


Aven memegang tangan sang istri yang terkulai lemah di atas ranjang rumah sakit. Zara masih belum sadarkan diri efek dari obat bius yang dia dapatkan saat operasi. Aven tampak mencium tangan Zara tersebut. Sambil terus menggumamkan kata maaf berkali-kali. Dia tidak bisa berkata-kata lain karena memang dia merasa bersalah sudah lalai untuk menjaga Zara. Sampai-sampai mereka kehilangan calon anak keduanya.


Zara tampak masih tertidur dengan wajahnya yang pucat. Wajah lelah pun juga tergambar jelas di wajah Aven. Dia bahkan sampai tidak makan dan minum saking khawatirnya dengan kondisi sang istri. Ya, hari ini adalah hari yang sangat berat untuk ia jalani. Air mata terus mengalir tiada henti saat istrinya menjalani operasi. Dia terus menggumamkan kata maaf untuk calon anaknya yang tidak dapat diselamatkan tersebut.


Waktu sholat isya'pun tiba. Aven tidak mungkin meninggalkan Zara sendirian di kamar. Dia pun melaksanakan sholat di ruangan Zara karena dia tidak ingin jauh dari sang istri. Setelah selesai berwudhu, di atas sajadah panjangnya, ia kembali menghadap Allah, meminta segala petunjuk agar tetap dikuatkan.


Setelah rakaat terakhir, ia menengadahkan tangan sambil melangitkan doa. Dulu ia selalu menyalahkan Tuhan atas segala masalah yang pernah ia alami.


Namun kini Aven meletakkan takdir dan hidupnya hanya kepada Allah SWT.


"Ya Allah, kuatkan kami menjalani segala yang telah Engkau tetapkan. Walau berat, kami ikhlas karena kami tau rencana yang Engkau buat adalah yang lebih baik untuk keluarga kami kedepannya. Jika boleh meminta, tolong kuatkan istri saya, saat nantinya dia tahu kenyataan yang menimpa keluarga kami. Zara adalah dunia baru yang ingin saya genggam. Saya tidak ingin kehilangan dia Ya Allah, saya mohon."


❤️❤️❤️


TBC