Kepentok Cinta Abang Duda

Kepentok Cinta Abang Duda
Episode 85



"Assalamualaikum mama...."


Suara panggilan yang sudah dirindukan itu membuat mama Alin bergegas menuju ke ruang tamu.


"Waalaikumsalam, aduh anak mama sudah datang. Mama kangen banget tau sama kamu. Suamimu itu jahat banget udah ngurung kamu terus mentang-mentang pengantin baru," ujar mama Alin sambil merangkul erat anak menantunya. Dia sangat sayang kepada Zara.


"Zara juga kangen banget sama mama. Pengennya udah dari kemarin-kemarin kemari. Cuma ya ini neh ma," ucap Zara memberikan kode kepada cowok dingin dan datar yang sedari tadi diam saja melihat kedekatan antara istri dan juga mamanya.


"Kalau kutub itu jangan ditanya bagaimana posesifnya dia, ra. Aduh sayang kamu sampai kurus begini. Apa suamimu itu nggak kasih kamu makan, nak. Kamu pastinya capek banget ya musti nurutin dia terus, ckckck," ujar mama Alin sambil berdecak.


Sementara Aven hanya memutar kedua bola matanya malas. Kalau mamanya ini sudah memulai drama telenovela keluarga apalah daya dirinya untuk melawan.


"Aku sudah kasih makan setiap hari ma," jawab Aven seadanya. Memang benar sih meski nggak tahu sehari berapa kalinya. Keseringannya ketiduran lupa makan saking asyiknya program sembilan bulan kedepan. Astaga, benar-benar kasihan Zara ya. Suaminya si mantan duda lagi melepaskan dahaganya setelah lama berpuasa soalnya.


"Iya mama tahu dan ngerti banget. Tapi ya jangan sampai lupakan kesehatan istri sendiri. Kamu itu jadi orang jangan kaku-kaku napa, ven. Yang perhatian sama istri," ucap Mama Alin memberikan nasehat.


"Iya ma," jawab Aven menurut daripada banyak berkomentar nanti kena amukan.


"Pa, ayo berangkat sekarang," ajak Aven kepada pak Tomo, papanya. Keduanya sengaja berangkat bersama karena ada masalah yang harus di selesaikan di kantor.


"Papa berangkat dulu ya, ma," pamit pak Tomo.


Kemudian juga berpamitan kepada menantunya. Begitupula dengan Aven yang memberikan banyak kecupan diwajah Zara. Sampai-sampai mama Alin yang gemas melihatnya segera memisahkan putranya yang sudah over memperlakukan sang istri.


"Udah berangkat kerja sana kamu. Astaga anak ini!" usir mama Alin yang kesal dengan sikap posesif Aven kepada mantu kesayangannya.


"Bye, sayang, muaaach," sebuah kecupan di udara di berikan oleh sang suami. Zara hanya melambaikan tangannya sambil menggelengkan kepala melihat tingkah konyol sang suami.


"Kamu sudah sarapan nak?" tanya mama Zara.


"Sudah ma, kita berangkat sekarang kah berbelanjanya?" tanya balik Zara.


"Bi, buatkan minuman dingin dan seger dan bawakan ke atas sama camilan juga ya," pesan mama Alin kepada bibik di rumah.


"Baik, nya."


Mama Alin dan Zara pun bersantai di ruang keluarga sambil bercerita panjang lebar. Menghabiskan waktu bersama sungguh menyenangkan bagi dua wanita beda general tersebut.


......................


"Jadi istrimu kemarin di teror seseorang yang tidak dikenal?" tanya papa Tomo setelah berada di ruangan Aven bersama dengan asisten Dion dan juga seorang detektif terkenal. Dia yang akan membantu menyelidiki siapa yang telah melakukan teror tersebut.


Aven sendiri sebenarnya sudah mulai menyelidiki tetapi si peneror ini cukup cerdik juga. Keberadaannya tidak terlacak. Sehingga mereka membutuhkan orang yang benar-benar profesional untuk menyelidi hal ini.


Aven sendiri sengaja merahasiakan semua ini dari Zara agar istrinya itu tidak kepikiran. Makannya dia beralasan ke kantor dengan sang papa agar bisa membicarakan permasalahan ini tanpa diketahui langsung oleh zara.


"Apakah dia baru melakukannya sekali?" tanya detektif Adnan.


"Benar, apakah kemungkinan akan ada yang kedua kalinya?" tanya Aven mulai cemas.


"Kalau memang dia mengincar sesuatu ya pastinya akan ada yang kedua."


"Bagaimana cara kita mengetahui siapa pelakunya?" tanya pak Tomo.


"Kita pancing dia keluar pak. Dengan begitu akan lebih cepat membuat dia tertangkap," balas detektif Adnan.


Pak tomo menatap ke arah Aven. Dia memberikan kode kepada sang putra. Meskipun Aven merasa berat sebenarnya akan tetapi benar yang dikatakan oleh detektif Adnan. Mereka memang harus memberikan umpan agar pelaku itu keluar dari sarangnya.


❤️❤️❤️


TBC