
Zara tak kuasa menahan tawanya saat melihat sang suami tak bisa berlari," Abang ayo dong yang semangat larinya. Kita jarang lho bisa olahraga pagi bersama seperti saat ini."
Kini zara dan Aven sedang lari pagi di sekitar komplek perumahan mereka. Mereka menghabiskan waktu berdua karena Aven sedang tidak bekerja. Aven sengaja mengajak Zara untuk berkeliling agar istrinya bisa kembj menghirup udara di sekitarnya.
"Aduh....kacau yank," ucap Aven sambil mencoba mengatur napasnya yang tersengal-sengal.
"Kenapa bang?" Zara ikut berhenti di samping sang suami.
"Capek yank. Efek keseringan duduk di belakang meja kali ya."
"Oh jadi ceritanya staminanya sudah mulai berkurang neh karena tergerus usia,hahaha. Aku perhatiin juga perut Abang sudah makin buncit aja," seloroh Zara sambil tertawa melihat wajah kesal suaminya.
Aven terlihat tidak terima ketika Zara berkata dirinya sudah tua dan kurang berstamina.
"Oh nantangin neh. Ada yang meragukan seberapa kuatnya aku ya? Mau dicoba berapa ronde sih yank nanti malam, hmmm," ucap Aven sambil memicingkan sebelah matanya.
"Ih Abang ya, aku cuma bercanda lho. Ayo lari lagi satu putaran."
Zara menarik pergelangan tangan suaminya agar kembali berlari untuk menyelesaikan putaran terakhir mereka. Dia sengaja mengalihkan pembicaraan biar nggak makin panjang urusannya dengan Aven.
Setelah selesai olahraga pagi, Zara memutuskan mandi lebih dulu karena Aven musti mengecek pekerjaannya karena asisten Dion mengatakan ada hal yang penting sekali. Sehingga Aven harus mengecek emailnya.
"Akhirnya selesai juga, aku mau mandi dulu aja. Kayaknya seger banget neh," ucap Aven sambil berjalan keluar dari kamar kerjanya lalu ia beralih ke kamar utamanya dengan Zara.
Namun mata aven justru terbelalak melihat lekukan tubuh yang menggoda iman di pagi hari begini.
"Astaghfirullah yank, kalau kamu masih datang bulan, ganti bajunya di kamar mandi aja yank. Kamu menyiksa Abang ini sih ceritanya."
Sesaat setelah berpakaian, Zara berbalik menatap suaminya dengan kening berkerut.
"Siapa yang lagi datang bulan sih? udah selesai dari kemarin kok bang. Ini aja udah selesai mandi."
Setelah berkata demikian Zara melewati Aven yang terdiam merenungkan ucapan Zara barusan.
"Ya ampun, tau gitu tadi pagi olahraga di kamar saja aku. Ngapain musti capek-capek keliling komplek," ucap Aven lirih sambil menepuk jidatnya.
Aven langsung melingkarkan tangannya di perut sang istri yang masih datar tersebut. Sambil menumpukan dagunya di bahu Zara.
"Yank, kok nggak bilang sih kalau sudah selesai datang bulannya. Abang kan sudah menunggu sekian purnama untuk bisa merayakan cinta ini bersamamu," ucap Aven melebih-lebihkan ucapannya.
Zara yang mendengarkan ucapan suaminya hanya bisa menahan tawanya. Kenapa mendadak suaminya ini menjadi lebay begini sih.
"Jangan lebay deh bang, kayak nggak pernah ngelakuinnya aja."
"Emang lagi puasa lama kan yank. Abang sampai sering ketiduran sambil bayangin ngelakuin begituan sama kamu lho yank. Masak kamu nggak kasihan sama abng yank."
Bujuk rayu Aven semakin gencar saja setelah mendengar sang istri sudah selesai masa haidnya.
"Anak kecil saja tidak semanja ini lho bang," ucap Zara sambil menahan tawanya.
"Kamu itu selalu bikin aku candu yank. Kamu memiliki magnet yang membuat aku nggak bisa jauh dari kamu yank. Kita lakuin sekarang aja ya yank."
Bisikan Aven membuat tubuh Zara seketika meremang dan memanas.
"Nanti malam saja bang. Tanggung aku habis mandi juga."
"Nanti mandi lagi sama Abang. Udah nggak tahan Abang ini yank."
Aven seketika membalik tubuh zara dan langsung melakukan apa yang dia inginkan. Dengan sentuhan-sentuhan yang sudah pro dalam melakukan hubungan, Aven membuat Zara melayang dan tak mampu untuk menolak sentuhan memabukkan tersebut.
Zara hanya bisa pasrah dan memejamkan kedua matanya menikmati service dari suaminya. Aven yang sudah menggelora tak mungkin akan menghentikan aksinya apalagi melihat sang istri sudah pasrah dengan apa yang akan dia lakukan. Dia pun langsung membawa Zara menuju puncak kenikmatan yang lebih indah dan memabukkan.
"Aku akan melakukannya sekarang sayang," pinta Aven berbisik sambil menelusuri leher jenjang Zara yang putih mulus. Membuat Zara hanya bisa menganggukkan kepalanya setuju. Baginya seorang istri tidak boleh menolak keinginan suami jika situasinya mendukung dimanapun dan kapanpun hal itu terjadi.
Akhirnya program sembilan bulan tersebut kembali dilakukan. Dengan kelembutannya Aven mencoba memperlakukan sang istri agar Zara merasa nyaman setelah sekian lama mereka berpuasa. Semoga saja Allah SWT segera menitipkan kembali makhluk yang lucu dan imut dalam rahim Zara. Aven berharap mereka segera dikarunia buah hati kembali. Agar bisa meramaikan suasana di dalam rumah tangga keduanya.
❤️❤️❤️
Bantu doa ya, biar mereka segera punya anak kembali, aamiin 🤲