
"Cerita sama aku bang, jangan mengalihkan pembicaraan ke hal lain. Kamu ada masalah apa sebenarnya? Masalah perusahaan atau ..."
"Nggak ada masalah apapun sayang. Beneran," ucap Aven memotong pertanyaan Zara dengan cepat.
Zara masih bisa menghirup aroma asap rokok yang keluar dari mulut Aven saat dia menjawab pertanyaan Zara barusan.
"Aku hanya ingin mendinginkan tubuh aja di sini. Sambil lihatin bulan purnama itu," kata Aven sambil menunjuk ke arah langit yang mana tampak bulan berukuran besar dan sempurna di langit malam.
Zara memicingkan matanya. Kemudian dia langsung membalikkan badannya dan hendak masuk ke dalam kamar kembali.
"Minggir, aku mau masuk saja!"
Aven seketika mengerutkan keningnya mendengar ucapan sang istri yang tampak berbeda. Dia langsung menarik lengan zara dan mendekap tubuh mungil itu dari belakang. Aven mengecup sekilas pelipis sang istri. Sambil bertumpu di bahu Zara dia mampu melihat wajah sang istri yang sudah masam.
"Kamu marah sayang? Hmm?"
"Menurut Abang?" balas Zara dengan nada jutek.
Aven tidak menjawab pertanyaan Zara. Dia tahu kalau Zara kesal akan perilakunya tadi. Aven sengaja memeluk erat tubuh sang istri yang hanya memakai kemeja tanpa menggunakan dalaman tersebut. Aven dapat dan merasakannya. Sedangkan Zara cuek-cuek saja suaminya tampak mengamatinya dengan intens. Toh mereka juga sudah halal saja. Kenapa dipermasalahkan.
"Aku kecewa karena Abang nggak mau terbuka sama aku. Aku merasa nggak ada gunanya dalam hidup Abang," jawab Zara bersungut-sungut.
"Lagi-lagi Aven hanya menghela napasnya. Terdengar dari helaannya sepertinya memang sedang ada banyak masalah yang dia tanggung.
"Sayang, bukannya aku tidak mau terbuka. Tetapi untuk saat ini aku ingin kamu nggak banyak pikiran dulu. Biar aku yang pikirkan semuanya."
Zara masih terdiam sejenak mendengar ucapan Aven. Namun beberapa detik kemudian Aven kembali berulah. Dia mengangkat tubuh Zara dan menggendongnya masuk ke dalam kamar kembali.
"Abang, kamu mau ngapain?"
Zara berpura-pura bodoh dan sok polos saja dengan aksi suaminya. Padahal dia tahu betul kalau setelah ini pasti akan ada kelanjutan dari aksi yang sebelumnya. Zara tahu betul kalau sudah begini nantinya dia tidak akan bisa menghindar kembali.
Aven mendudukkan sang istri di ranjang kemudian dia berjongkok di depan istrinya sambil memegang kedua tangan Zara. Aven menatap dalam ke arah Zara sambil mengucapkan kata-kata.
"Maafkan Abang ya sayang. Abang hanya tidak ingin kamu kepikiran. Biarkan sekarang Abang yang atasi ini duluan. Nanti kamu juga akan tahu. Yang pasti dan jelas, Abang sayang sama kamu. Hanya kamu seorang sayang. Tidak ada yang lainnya lagi. Abang pastikan itu."
Zara menghela napasnya perlahan mendengar janji yang diucapkan oleh suaminya.
"Tapi janji nanti akan cerita sama aku ya?" pinta Zara sambil menyodorkan jari kelingkingnya di hadapan Aven. Melihat hal tersebut Aven langsung mengaitkan kelingking keduanya.
"Abang janji sayang."
"Kita buat Aven junior yuk sayang. Biar cepet tumbuh dia di sini."
Aven langsung mengelus lembut perut datar Zara. Matanya menatap penuh harap agar sang istri segera hamil hasil dari tabur benih yang dia lakukan hampir setiap harinya dengan Zara.
Dengan malu-malu Zara mengangkat wajahnya.
"Tapi tadi kan udah bang."
"Ya kan pengen lagi sayang. Kita harus giat lho dalam program ini. Biar dia eh mereka cepat hadir di sini," ujar Aven sambil mengelus perlahan perut Zara.
"Mereka? Maksud abang?"
"Ya siapa tahu kan dikasihnya langsung lima anak. Enak itu yank, biar kamu sekali lahiran aja cukup. Tinggal Abang yang bekerja keras untuk kasih kebutuhan mereka."
Plak!
Zara langsung menepuk bahu suaminya dengan keras.
"Aduh, yank. Sakit loh," ucap Aven mengaduh padahal pukulan Zara juga nggak terasa sama sekali.
"Abang pikir aku kucing apa ya? Masak sekali lahiran langsung lima anak? Satu aja belum jadi kenapa jadi minta lima segala?" protes Zara sementara Aven hanya terkekeh mendengar omelan sang istri.
"Oya sayang, katanya neh posisi juga menentukan jenis kelamin anak kita kelak lho, yank. Ada yang mengatakan hadap kiri bisa dapat anak cewek terus kalau hadap kanan bisa dapat anak cowok lho yank. Kamu mau coba nggak malam ini yank? Aku mau banget, yuk yank," ajak Aven dengan nada menggebu.
Namun berbeda dengan Zara yang justru tampak syok dengan apa yang diinginkan suaminya.
"Abang pengen bikin aku kayak tempe goreng yang dibolak-balik biar Mateng gitu? Yang bener aja bang," ujar Zara lirih dengan ekspresi wajah yang sulit diartikan lagi.
Aven terkekeh tak tertahan mendengar ucapan Zara.
"Ya udahlah yank. Kita mulai buat aja dulu sekarang. Masih cukup waktunya kalau untuk dua ronde lagi bisalah ya...ya...ya..." ucapan Aven membuat Zara semakin membulatkan kedua matanya dengan sempurna.
"Ta..tapi bang .Tunggu eh...bang...hmmmpp..."
Aven sudah langsung membungkam mulut Zara yang hendak protes tersebut. Tangan jahil Aven juga sudah tak bisa dikondisikan lagi. Setiap jengkal tubuh Zara sudah terjamah olehnya. Tak lama kemudian hanya terdengar suara de-sa-han dan juga de-ca-pan cinta yang panas membara dari sepasang suami istri tersebut. Di malam bulan purnama yang indah dan dingin itu.
❤️❤️❤️
Kayaknya aku butuh minuman dingin yang banyak ini ya🙈🙈🙈 sebelum ke olengan makin melanda. Sudah ya, hari ini cukup sekian. Besok lagi💨💨💨💨