
"Wah, Alhamdulillah acaranya berlangsung dengan lancar. Kita sebagai orang tua bahagia banget melihat mereka berdua bisa bersama," ucap mama Alin setelah acara selesai.
"Iya mbak, semoga saja keluarga mereka selalu di berkahi, dilindungi, bahagia dan selalu rukun sampai nanti," doa bunda Nia.
"Aamiin ya rabbal alamin... dan juga semoga kita segera mendapatkan seorang cucu yang dek. Aduh aku sudah tidak sabar lho menimang cucu. Tahu sendiri kan sekarang rumah semakin sepi karena hanya ada aku dan mas Tomo. Tapi nanti kalau sudah ada tangisan anak kecil wah pastinya akan ramai. Jadi ingat dulu waktu Aven masih kecil," ucapan mama Alin ini dibalas senyuman oleh bunda Nia.
"Aamiin, aku juga ingin segera punya cucu lho mbak. kalau kumpul dengan saudara sering ditanyain. Semoga saja mereka diberi anak kembar. Pastinya akan lebih seru mbak. Karena ada dua bayi sekaligus."
"Wah kalau kembar tiga seru juga itu dek," sahut mama Alin.
Kedua wanita paruh baya itupun tertawa dengan bahan obrolannya sendiri.
Ya, hari itu mereka berkumpul bersama di rumah baru Aven dan juga Zara. Mereka mengadakan syukuran atas rumah baru keduanya. Acara dari pagi diadakan dengan mengundang anak-anak dari panti asuhan. Kemudian sorenya kumpul bersama dengan anggota keluarga terdekat dari kedua belah pihak.
Keluarga Maheswara dan Adhitama saling bercengkrama dalam moment kebersamaan itu. Mereka juga melihat kebahagiaan yang terpancar dari pasangan pengantin baru. Aven sedari tadi begitu perhatian kepada istrinya. Dan beberapa kali sepupu mereka meledek kemesraan yang keduanya tunjukkan di depan mereka.
"Enak banget ya yang sudah halal. Bisa pegang-pegang, sentuh-sentuh sudah nggak ada yang ngelarang. Gini amat kalau hidup di bumi cuma ngontrak," seru mika dengan tampang bete-nya.
"Lah kenapa kamu yang sewot, mika. Kamu masih kecil," sahut Bella, sepupu dari Aven.
"Iya mika, sekolah saja dulu yang bener. Masalah cinta nanti akan ada waktunya," saran mario.
"Ya tapi kan kalau melihat kemesraan mereka, aku jadi pengen om, Tante," ucap mika masih tidak mau menerima keadaan sekitarnya.
"Tenang aja mika, nanti aku akan lamar kamu biar bisa kayak mereka ya," sahut Zidan yang datang-datang langsung merangkul bahu mika sambil mengedit sebelah matanya.
"Astaga, ini apa ya malah bahas nikah. Zidan kamu aja belum lulus kuliah dan mika juga masih harus meneruskan pendidikannya. Fokus aja dulu ke pendidikan. Nanti kalau jodoh juga tidak akan kemana," Zara ikut menimpali ucapan para anak muda di ruangan keluarga tersebut.
Ya, anak muda kumpulnya dengan yang muda. Sedangkan para orang tua berkumpul di taman belakang sambil ngeteh bersama.
"Bisa ae kang ghosting ini," balas mika. Namun keduanya malah tertawa bersama setelah itu. Tanpa keduanya sadari sedari tadi ada yang memperhatikan kedekatan mereka.
"Sayang, ayo ke kamar, aku capek banget. Pengen istirahat," rengek Aven kepada sang istri. Dia memang capek banget dengan padatnya acara syukuran di rumahnya dari pagi sampai malam hari.
"Tapi mereka..."
"Masih ada para orang tua, mereka juga akan mengerti kok. Kita kan lagi kejar setoran sayang," ajak Aven sambil mengangkat tubuh istrinya dan membawanya naik ke lantai dua. Dimana kamar mereka berada.
"Om mau bawa mbak Zara kemana?" tanya mika dengan polosnya.
"Bikin anak biar kamu cepet dapat sepupu yang banyak," sahut Aven membuat Zara memukul dada suaminya perlahan.
"Ngomongnya nggak disaring dulu ih Abang," tegur Zara.
"Nggak apa-apa dia juga udah Gedhe kok," sahut Aven sambil tersenyum simpul. Dan terus melanjutkan langkahnya menuju kamar.
Sedangkan mika yang mendapatkan jawaban seperti itu hanya mampu terdiam tanpa mampu membalasnya lagi. Bella dan Mario yang menyaksikannya hanya tersenyum kecil.
"Sstttt makannya anak kecil nggak usah ikut campur urusan yang sudah menikah seperti mereka. Jadi kepikiran kan ucapan mas Aven barusan," ujar Zidan berbisik di telinga mika.
Mika seketika memang memerah wajahnya. Dia menyesal bertanya seperti itu.
❤️❤️❤️
TBC