Kepentok Cinta Abang Duda

Kepentok Cinta Abang Duda
Episode 54



Suara ambulance meraung-raung sepanjang perjalanan menuju ke rumah sakit. Mendengar telepon sang adik yang kesakitan membuat Jessica bergegas mendatangi apartemennya. Dia sudah tahu kode sandi pintu apartemen Widia. Dengan mudah dia masuk ke dalam dan betapa terkejutnya Jessica. Dia melihat sang adik sudah terbujur di depan kamar mandi dengan darah yang menggenang di bagian tubuh bawahnya.


Seketika Jessica meminta bantuan untuk membawa sang adik dan menelpon ambulan untuk membawa Widia ke rumah sakit.


Dan di sinilah Jessica berasa. Di dalam ambulance sambil menatap sedih ke arah sang adik yang tampak sangat pucat.


"Kenapa kamu bodoh sekali Widia, hiks...hiks...kenapa kamu melakukan ini. Kalau kamu ingin menghilangkan janin kamu. Nggak begini caranya Widia. Kandungan mu sudah berisiko. Kalaupun kamu nggak mau merawatnya. Lahiran dia, biar kakak yang merawatnya Widia. Kamu naif sekali," tangisan Jessica seketika pecah saat melihat kondisi sang adik yang jauh dari kata baik-baik saja.


"Ka...kak.." lirih Widia yang mengerjapkan matanya dengan derat.


Samar-samar dia mendengar suara dan tangisan sang kakak. Jessica langsung mendekat ke arah Widia begitu sang adik memanggil dirinya.


"Iya Wid, ini kakak. Ada apa? Kamu ingin mengatakan apa?" tanya Jessica mendekat ke arah wajah sang adik.


Kondisi Widia memang begitu buruk. Wajahnya sangat pucat seperti tidak memiliki darah. Dan tubuhnya sudah menggigil kedinginan. Karena pendarahan yang dia alami akibat meminum obat penggugur kandungan.


"Ma...af... aku se...la..lu...mere...pot...kan.kakak.." Widia berkata dengan terbata-bata. Dia susah untuk mengucapkan kata saat ini.


Grep


"Widia! kamu kenapa? Widia?" Jessica tampak panik karena melihat Widia yang kembali merasa kesakitan.


"Tolong cepat laku mobilnya! Adikku sudah sekarat!!!!" teriak Jessica yang menangis meraung-raung melihat kondisi Widia saat ini.


Dia tidak tega melihat kondisi Widia semakin lama semakin mengingatkan Jessica dengan kepergian sang mama dulu. Tidak! Jessica tidak bisa kehilangan lagi. Keluarganya hanya tinggal Widia seorang. Jessica tidak ingin kesepian tanpa siapapun di dunia ini.


Petugas medis berusaha melakukan berbagai cara menyelamatkan sang pasien dan Jessica hanya mampu melihat perjuangan mereka menangani sang adik.


✨✨


Sebuah brankar itu membawa tubuh Widia segera memasuki ruangan. Sebelum memasuki ICU Jessica melepaskan pegangan tangannya dari tangan Widia. Entah mengapa perasaan Jessica sudah tidak enak sejak Widia memasuki ruangan. Sebuah perasaan bahwa dia dan Widia akan terpisah sangat begitu terasa. Namun Jessica berusaha menepis rasa buruk itu. Dia hanya ingin sang adik bisa diselamatkan. Hanya itu ucapan yang selalu digaungkan oleh Jessica. Dia tertidur di kursi tunggu dengan wajah yang sudah berantakan dan air mata yang sedari tadi berderai tanpa henti.


Sementara di dalam ruangan, tim medis berusaha sekuat tenaga menyelamatkan Widia. Pasien terus mengalami pendarahan tanpa bisa dihentikan. Bahkan tim medis sudah menggunakan berbagai metode untuk membuat pasien tetap bertahan.


Akan tetapi mesin EKG berbunyi lain setelah dokter berusaha membuat detak jantung Widia kembali.


"Pasien telah meninggal dunia pukul 14.15 wib."


❤️❤️❤️


TBC