Kepentok Cinta Abang Duda

Kepentok Cinta Abang Duda
Episode 50



Bug


Bug


Bug


"Abang, Abang, sudah Abang. Abang," ujar Zara yang cemas karena kondisi Azka sudah babak belur dibuatnya.


Siapa yang tidak marah jika melihat tunangannya ditarik paksa seperti itu oleh cowok yang dia tahu kalau itu mantan tunangannya. Lalu sang keponakan tampak tergeletak menahan sakit akibat dorongan lelaki yang sama. Sungguh membuat amarah Aven seketika mendidih dibuatnya.


Aven yang baru menginjakkan kakinya di mall terkenal di kota itu. Langsung saja berlari meninggalkan asisten Dion dan juga sang mama yang kebetulan baru sampai di sana. Aven bergegas mengatasi lelaki kurang ajar yang sudah berani menyentuh sang calon istri. Bahkan dia melukai pergelangan tangan Zara yang tampak memerah dibuatnya.


Bug


Bug


Bug


"Abang, sudah. Aku tidak mau Abang kena masalah karena membunuh orang. Kita akan segera menikah sayang," ujar Zara menyadarkan Aven agar tidak lagi mengamuk dan menghajar Azka sampai lelaki busuk itu tidak mampu bergerak. Muka Azka yang tampan sampai hancur lebur penuh warna kebiruan akibat ulah Aven yang sedang ngereog melihat tunangannya disakiti.


"Sudah Abang, cukup Abang, cukup, hiks...hikss," Zara menangis dan memeluk tubuh Aven dari belakang.


Gadis cantik dengan rambut panjang sepinggang itu tak kuasa menahan tangisnya. Melihat sang calon suami yang begitu perhatian kepadanya. Zara bukannya membela Azka hanya saja dia tidak ingin jika Azka sampai lewat di tangan Aven. Nanti nasib pernikahan mereka bagaimana? Zara hanya tidak mau Aven kenapa-napa. Dia lebih memikirkan nasib mereka ke depannya. Bodo amat kalau urusan Azka. Mau dia lewat sekalipun Zara sudah masa bodo. Lelaki tidak setia seperti itu tidak pantas dipikirkan.


"Abang...." lirih Zara memanggil nama Aven yang masih terdiam dengan napas ngos-ngosan. Masih terdengar deru napasnya yang memburu pertanda kemarahan masih menguasainya.


Grep.


Aven membalikkan tubuhnya dan langsung memeluk tubuh Zara. Dia memberikan kecupan di pucuk kepala sang tunangan sambil membisikkan kata maaf berkali-kali. Aven merasa bersalah karena sudah terlalu lama membuat Zara menunggu dirinya. Sampai kejadian yang tidak diinginkan pun terjadi.


"Maafkan Abang ya sayang. Maaf..."


"Pergelangan tanganmu terluka sayang. Kita ke rumah sakit sekarang juga ya," ajak Aven yang tampak sedih dengan kondisi Zara saat ini.


"Tidak apa-apa bang..."


"Astaghfirullah mika!" teriak mama Alin yang melihat mika tampak meringis memegangi bahunya yang membentur tembok begitu keras. Sepertinya ada yang keseleo di bahu gadis kecil tersebut.


"Sakit Oma...sssttt," lirih mika sambil menahan sakit.


"Ya Allah, mika...." Zara melepaskan genggaman tangan Aven dan bergegas menuju ke arah mika.


Kedua wanita berbeda usia itu kini mengecek kondisi mika yang tampaknya terluka.


"Aven kita bawa Zara dan mika ke rumah sakit sekarang," ajak mama Alin yang tampak cemas dengan dua gadis yang ada di hadapannya saat ini.


"Baik, ma."


"Dion, kamu urus saja makhluk tak berguna ini. Kalau perlu kita bikin perhitungan dengan perusahaan milik pria breng-sek ini," perintah Aven kepada asisten Dion.


"Baik, pak," jawab Dion kemudian menelpon anak buahnya untuk segera mengurus Azka yang sudah tidak sadarkan diri. Sementara mika diajak sang Oma dan Zara untuk ke rumah sakit.


Mika berjalan sambil dipapah oleh mama Alin. Sedangkan Zara berdampingan dengan Aven. Mika sempat melirik ke arah asisten Dion yang tampak diam tak bergeming saat dia melewati tubuh lelaki itu.


Apakah kamu benar-benar tidak menyukaiku kak? Kenapa sikapmu semakin dingin saja kepadaku, batin mika sambil menahan sakit pada bahunya dan juga hatinya.


❤️❤️❤️


TBC