Kepentok Cinta Abang Duda

Kepentok Cinta Abang Duda
Episode 65



"Terimakasih ya Allah ... Engkau telah mendengarkan doa-doa hamba selama ini," batin mama Alin sambil mengusap air mata di sudut matanya.


Pak Tomo memberikan tisu kepada sang istri. Dia tahu kalau istrinya pasti begitu terharu karena pada akhirnya semua yang dia impikan terwujud. Sang putra yang dulunya meninggalkan mereka berdua sebagai orang tuanya. Karena lebih memilih bersama dengan wanita yang dinikahinya tanpa restu kedua orang tuanya. Kini putranya telah kembali ke jalan yang benar. Dengan menikahi gadis dari keluarga baik-baik dan juga punya attitude yang baik pula.


"Sungguh mama bersyukur pa, Allah sudah kembalikan Aven mama. Dan kini dia bisa bersanding dengan gadis seperti zara. Mama sangat bersyukur. Doa mama selama ini didengarkan oleh Allah, pa," air mata mama Alin kembali tumpah mengingat Aven yang dulu dengan sekarang.


Pak Tomo memeluk bahu sang istri dan menenangkannya. Dia juga merasakan apa yang istrinya alami. Hanya saja sebagai seorang lelaki tidak mungkin dia akan bersikap sefrontal istrinya sekarang.


Setelah ijab qobul selesai dilakukan. Kini saatnya mempelai wanita memasuki arena sakral. Dimana sang mempelai pria sudah menantikan kehadirannya sedari tadi.


Begitu sang mempelai wanita berjalan menuju ke tempat dilaksanakannya ijab qobul tadi. Semua mata tertuju ke arah Zara dengan gaun kebaya putihnya sesuai dengan warna pakaian yang dikenakan oleh Aven. Begitu cantik dan anggun dengan kebaya modern dan terkesan tertutup. Karena Zara ingin gaun ijab qobul nya lebih tertutup karena nuansanya begitu sakral.


Aven Maheswara sedari tadi terus saja melebarkan senyumannya. Melihat bidadari hatinya yang berjalan semakin mendekat ke arahnya. Dia melihat penampilan Zara yang berbeda dari biasanya. Sangat cantik dan anggun sekali. Aven bahkan ingin sekali memeluk gadis yang telah sah menjadi istrinya tersebut. Sudah seminggu lamanya dia menahan rasa kangen dan rindunya.


Tapi tidak mungkin juga dia melakukan impiannya itu. Kalau tidak ingin sang mama langsung mengeluarkan tanduk ditengah-tengah acara sakral ini.


"Silakan pengantin wanitanya bisa mendekati sang mempelai pria," ucap pembawa acaranya yang melihat tingkah malu-malu Zara berjalan ke arah sang suami.


Grep.


Sebuah dekapan di pinggang Zara sontak membuat gadis itu terkejut. Bagaimana tidak dia sampai reflek meletakkan kedua tangannya di dada sang suami. Astaga, mantan duren itu sekarang adalah suaminya. Rasanya tidak percaya jika lelaki tampan yang sedang tersenyum manis menggodanya itu telah sah menjadi calon imamnya sekarang. Seperti mimpi saja tetapi semuanya adalah nyata.


"Abang, jangan bikin kaget," ujar Zara lirih.


"Abang sudah merindukan kamu sayang. Seminggu rasanya bagai seabad saja," kata Aven sambil memandangi wajah sang istri yang sedang merona akibat rayuannya.


Bug


"Ih Abang ini bisa saja merayunya," ucap Zara memanyunkan bibir.


Keduanya malah asyik berpelukan di hadapan banyak orang. Tidak memperhatikan sekitarnya yang menatap keduanya dengan mesam-mesem. Ya, mereka memakluminya kok. Namanya juga pengantin baru. Layaknya di dunia ini hanya ada mereka berdua. Yang lain ngontrak kalau perlu pindah planet sekalian.


"Astaga pa, lihat kelakuan putra papa itu. Nggak bisa nahan diri banget. Ketemu istrinya udah main peluk dihadapan umum. Kan bisa nanti di kamar aja mesra-mesraannya," celoteh mama Alin yang gemes dengan kelakuan putranya si mantan duren.


"Biarin aja ma, kita dulu juga pernah muda."


"Papa ini malah belain anaknya," gerutu sang istri kembali.


Ehemmmmm ..


Ehemmmmm....


"Mesra-mesraannya nanti dulu ya nak. Selesaikan dulu ini prosesi akad nikahnya. Belum selesai kok udah main pelukan saja," sindir ayah Bima melihat kelakuan sang putri dan putra menantunya.


Sedangkan bunda Nia yang melihatnya hanya tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya.


"Abang sih!" gerutu Zara yang tidak terima ditegur oleh sang ayah.


"Kok salah Abang," bisik Aven di telinga sang istri.


"Iya salah Abang sudah main tarik-tarik aja. Ditegur ayah kan kita," lanjut Zara.


"Kan Abang kangen sayang."


Cekit.


"Aduh! sayang ..." sebuah cubitan sudah mendarat di pinggang Aven membuat lelaki yang sudah melepas masa dudanya itu meringis dibuatnya. Padahal nggak sakit-sakit amat sih. Cuma dibuat sakit biar dapat perhatian dari istri manisnya.


"Hukuman karena udah nakal," balas Zara sambil menjulurkan lidahnya.


"Oh gitu ya mainnya, baik, lihat aja nanti malam. Akan Abang kasih hukuman yang enak sampai kamu ampun-ampun pokoknya," balas Aven dengan senyuman menggodanya.


"Ih, Abang apaan sih."


Aven hanya menahan tawanya melihat Zara semakin memerah wajahnya mendengar ucapannya barusan. Zara bukan anak kecil yang tidak tahu maksud ucapan sang suami. Hanya saja dia belum terbiasa dengan ucapan berbau ranjang di tempat umum seperti ini. Berbeda dengan Aven tentunya. Mantan duda itu begitu gencar menggoda istrinya yang sudah merah padam dibuatnya.


Kalau dia begitu menggemaskan seperti ini. Ingin rasanya ku bawa kabur ke kamar saja, batin Aven.


❤️❤️❤️


TBC