
"Eh!"
"Zara, aku merindukanmu sayang. Maafkan aku. Aku..."
Dug!
Zara sekuat tenaga mendorong tubuh lelaki yang dengan kurang ajarnya memeluk tubuhnya seenaknya saja. Apalagi sekarang mereka ada di tempat umum. Sangat kurang ajar sekali lelaki tersebut.
"Azka! Kamu gila ya! Jangan memelukku seenak hatimu ya," geram Zara dengan napas memburu.
Jujur dia kaget karena mendadak ditubruk begitu saja oleh seseorang yang tidak dia ketahui. Dan ternyata itu adalah mantan lucknatnya yang sudah tega berselingkuh dengan mantan sahabat Zara sendiri. Sungguh tidak punya hati sama sekali kelakuan dua manusia tersebut.
"Zara, aku mohon berikan aku kesempatan untuk menebus kesalahanku selama ini sama kamu. Aku tahu dan mengakui kalau aku sudah salah besar meninggalkan kamu. Aku...aku khilaf Zara. Aku digoda oleh Widia dan aku tidak bisa mengendalikan diriku. Tetapi sekarang aku sudah sadar bahwa cintaku hanya untuk kamu Zara."
"Lepaskan tanganku, Azka," ronta Zara dengan sorot matanya yang datar. Zara menepis tangan Azka yang berusaha terus memegang kedua tangannya. Zara sudah muak dengan tingkah lelaki itu. Benar-benar sangat memuakkan.
"Tapi Zara, aku sungguh meminta maaf. Tolong maafkan aku Zara. Aku mohon..." pinta Azka sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dada.
Zara menghela napasnya panjang melihat kelakuan Azka di tempat umum seperti ini. Andai saja ini bukan tempat umum. Ingin rasanya Zara hajar saja itu lelaki kurang waras seperti Azka.
"Aku memaafkanmu. Cukup bukan! Ayo mika kita pergi dari sini," ajak Zara hendak berlalu pergi dari hadapan Azka.
Azka kembali menghadang langkah Zara. Kali ini menatap wajah Zara dengan wajah yang berbinar. Saat mendengar ucapan Zara yang sudah memaafkan dirinya. Begitu mudahnya mendapatkan maaf dari gadis tersebut. Azka tidak berpikir akan semudah ini Zara memaafkan dirinya.
"Jadi kita akan kembali sebagai sepasang kekasih sayang? Wah aku sangat..."
"Jangan bermimpi terlalu tinggi Azka!" ucap Zara dengan sorot wajah datarnya.
Azka mengerutkan keningnya dan bingung akan pernyataan Zara barusan. Bukankah dia sudah dimaafkan. Berarti mereka akan kembali menjadi pasangan kekasih bukan?
"Maksud kamu apa? Apakah kamu ingin aku segera menikahimu? Pasti Zara, aku dan kedua orang tuaku akan segera melamar kamu ke kedua orang tua kamu di Surabaya. Kita akan menggelar pesta pernikahan yang mewah dan meriah. Aku sanggup memberikan apapun yang kamu pinta, sayang."
"Cukup Azka! Jangan melantur kemana-mana," bentak Zara menghentikan ocehan Azka yang semakin tak terarah dan membuat Zara muak mendengar kesombongan lelaki itu.
Setelah dia menyakiti Zara lalu dia sekarang kembali seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Enak sekali dia datang dan pergi seenaknya sendiri.
"Aku memang memaafkanmu. Tetapi bukan berarti aku mau kembali lagi kepadamu. Aku sebentar lagi akan menikah. Jadi cukup sampai di sini saja. Jangan pernah menemui aku lagi. Dan lupakan tentang masa lalu kita kemarin. Aku bahkan sudah mengubur masa buruk itu dalam-dalam. Berbahagialah dengan wanita pilihanmu itu. Bukankah dia yang kamu inginkan selama ini. Permisi, aku buru-buru," Zara menarik kembali tangan mika yang sedari tadi hanya diam menyaksikan dia orang di depannya ini bersitegang.
"Menikah? hehehehe," Azka terkekeh mendengar ucapan Zara. Dia tidak percaya akan ucapan gadis ini. Pasti Zara melakukannya karena untuk membalas perbuatannya kemarin.
"Jangan membohongiku Zara. Aku tahu kalau kamu masih mencintaiku bukan. Kamu sampai datang ke Jakarta ini hanya karena ingin bertemu denganku bukan. Ayolah sayang, akui saja bahwa apa yang aku katakan itu benar," pancing azka.
"Ya, memang benar. Aku tidak mau sembarangan dijodohkan oleh kedua orang tuaku. Aku hanya ingin tahu seberapa kualitas dari calon pria yang akan dijodohkan denganku. Karena aku tidak ingin asal main terima perjodohan itu. Akan tetapi mataku sudah terbuka dengan melihat adegan tak senonoh kalian berdua di kamar apartemenmu. Dan ini, adalah bukti bahwa aku akan segera menikah dengan pria yang jauh lebih baik darimu. Aku dengan keponakan calon suamiku mau pergi. Minggir," bentak Zara dan langsung menabrak tubuh Azka yang menghalangi jalannya. Setelah dia sempat menunjukkan cincin pertunangannya dengan Aven Minggu lalu di depan Azka.
"Lepas!"
"Aku nggak mau kita berpisah Zara. Aku mencintaimu Zara. Sungguh cintaku hanya padamu. Berikan aku kesempatan. Aku mohon Zara," paksa Azka agar Zara kembali mau menerima cintanya.
"Lepas!"
"Enggak! Sebelum kamu mau kembali lagi padaku," paksa Azka kembali.
"Lepas! Sakit!" pekik Zara yang pergelangan tangannya mulai memerah akibat kelakuan lelaki gila seperti Azka tersebut.
Bug
Bug
Bug
"Heh, lepasin nggak!" kali ini mika ikut membantu calon Tante iparnya dari kegilaan sang mantan.
Bruk!
"Aduh!" mika meringis karena didorong dengan keras.
"Mika?"
"Ayo Zara!"
"Lepaskan aku!"
Bug
Bug
Bug
Bug
"Lepaskan dia ba-jiiiiing-aaan!"
❤️❤️❤️
TBC