Kepentok Cinta Abang Duda

Kepentok Cinta Abang Duda
Episode 87



"Aku serahin masalah ini sama detektif Adnan. Tangkap saja siapapun dia orangnya. Kalau ada masalah kabari aku secepatnya."


Tut.


Aven mematikan sambungan teleponnya. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Matanya masih terjaga karena sebuah permasalahan yang masih mengganjal dibenaknya. Apalagi laporan dari detektif Adnan yang sudah mendapatkan informasi tentang seseorang yang berniat mencelakai istrinya. Rupanya sewaktu Zara datang ke kantor suaminya. Ada mobil yang mengikuti mobil yang ditumpangi oleh Zara. Detektif Adnan tentu tidak tinggal diam. Dia akan terus menyelidiki kasus ini sampai tuntas.


Aven berjalan mendekati ranjangnya. Tampak Zara sudah tertidur sangat lelap karena kelelahan dengan apa yang mereka lakukan beberapa jam yang lalu.


Aven mencium kening sang istri dengan lembut. Tak lupa mampir mengecup bibir zara yang selalu membuatnya candu. Kemudian dia menaikkan selimut yang menutupi tubuh sang istri. Sementara Zara yang terusik tampak bergerak mencari kenyamanan.


Cup


Cup


Cup


Tiga kecupan singkat didaratkan di kening dan kedua pipi sang istri. Kemudian Aven berjalan menuju ke balkon kamarnya. Memandangi pemandangan malam kota yang penuh cahaya lampu. Kedua tangannya bergerak di pagar pembatas balkon kamar mereka. Memejamkan mata sejenak sambil merasakan dinginnya angin malam yang menerpa wajahnya.


Perlahan Aven mengeluarkan satu batang rokok dan pemantik api dari saku celananya. Dia mulai menyalakan rokok tersebut. Asap rokok mengepul dari hidung dan mulutnya. Banyak hal yang sedang dia pikirkan malam ini. Dugaan yang diberikan detektif Adnan cukup mengganggu benaknya.


Tanpa disadarinya jika ada dua pasang mata yang sedang mengawasi dirinya dari tempat tidur. Wanita itu menyibakkan selimutnya dan turun perlahan dari ranjang. Hanya dengan menggunakan kemeja putih kebesaran sepaha, Zara berjalan mendekati sang suami yang sedang asyik seorang diri di balkon kamar mereka.


Aven masih memikirkan kemungkinan apa saja yang akan dia ambil jika memang benar pelakunya adalah orang yang pernah hadir dalam kehidupannya tersebut. Dia tentunya akan memberikannya hukuman yang setimpal karena sudah dengan berani mengusik kehidupannya yang sekarang.


Aven hendak menyalakan satu batang rokok kembali. Akan tetapi tangan seseorang menghalangi niatan Aven tersenyum.


"Abang kan janji nggak akan merokok lagi sama aku. Aku nggak mau kesehatan Abang bermasalah karena benda-benda itu. Aku sayang sama Abang, aku nggak ingin Abang sakit-sakitan karena terus mengkonsumsi benda tersebut."


Aven hanya terdiam dan mendengarkan apa yang istrinya katakan.


"Kalau ada masalah itu dibicarakan. Jangan di pendam sendiri terus dilampiasin sama rokok. Abang nggak menganggap aku ini ada? Hem?? Abang sudah nggak menganggap aku ini istri Abang?"


Aven tersenyum tipis melihat tatapan istrinya yang tampak kecewa dan penuh tanya. Dengan lembut Aven membelai wajah cantik Zara dan mendaratkan kecupan di hidung bangirnya.


"Kenapa kamu bangun sayang? Katanya kamu capek banget habis main tadi, hemm?"


"Jangan mengalihkan pembicaraan ya, bang. Aku nggak suka," sahut Zara dengan mendengus kasar.


Aven hanya tersenyum melihat istrinya yang ngambek seperti itu. Makin menggemaskan saja tingkah Zara kalau sudah mode ngambek keluar. Apalagi dengan pipinya yang menggembung seperti bakpao. Pengen gigit saja rasanya.


❤️❤️❤️


Tahan!


Tahan!


Tahan!!!!??


Vitamin hari ini masih ada kok. Stok vitaminnya akan tetapi diberikan. Jangan takut nggak ada adegan uwu ya🤣 tapi klo authornya ntar mendadak oleng, kalian tanggung jawab 😆