Kepentok Cinta Abang Duda

Kepentok Cinta Abang Duda
Episode 42



Greeep


"Terimakasih sayang.... terimakasih," ucap Aven langsung mendekap sang kekasih dengan perasaan sayang. Tanpa memperhatikan kondisi sekitarnya yang melihat keduanya dengan tatapan terkejut tak percaya.


Ekheeeemm..


Para orang tua sontak memberikan peringatan kepada sikap Aven barusan. Suara itu membuat Zara langsung tersadar dan mencoba melepaskan pelukan sang kekasih. Benar-benar kekasihnya itu tidak tahu tempat. Padahal mereka sekarang duduk bersama para orang tua.


"Abang... lepasin dulu, malu dilihat mama papa itu lho," ujar Zara pelan membuat Aven seketika membuka matanya dan melihat ke depan dimana banyak mata menatap tajam ke arahnya.


Terutama sang mama yang sudah melotot sambil memberikan kode untuk melepaskan Zara yang berada dalam pelukannya. Rasanya mama Alin pengen menggetok duda tersebut. Mana perbuatannya nggak tahu tempat dan juga momen saat ini. Astaga....


Aven menundukkan kepala melihat Zara yang juga memicingkan matanya dengan perlakuan dirinya. Duda tampan itu seketika menyadari kalau perbuatannya barusan sudah mengundang masalah baru. Jangan sampai acara lamaran ini menjadi gagal gegara dia yang sudah tidak dapat menahan diri saking bahagianya.


"Eh, maaf ayah, bunda, papa, mama, aku terlalu bahagia tadi," ujar Aven sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Sedangkan Zara hanya menunduk karena merasa malu. Dia juga tidak menyangka kalau langsung ditarik dan dipeluk begitu saja. Dia juga kaget dengan respon sang kekasih. Meskipun berada dalam dekapan duda yang sebentar lagi jadi mantan duda itu begitu hangat dan nyaman.


Kedua orang tua Aven hanya menghela napasnya panjang. Sepertinya mereka harus menyegerakan acara pernikahan keduanya. Melihat perilaku sang putra kepada anak gadis orang yang sudah main peluk-peluk seenaknya saja.


"Sepertinya kita harus mempercepat pernikahan mereka. Bukankah niat yang baik harus disegerakan saja, bukan begitu pa," usul mama Alin sambil menatap ke arah suaminya mencari dukungan tentunya.


"Iya benar, bagaimana dek? Apakah kalian setuju," tanya Papa Tomo kepada pasangan suami istri dihadapannya.


"Kalau aku setuju saja mas. Niatan baik memang harus disegerakan. Lagian usia Zara juga sudah pas untuk berumah tangga. Bukan begitu bunda," kata Ayah Bima.


"Iya lebih cepat lebih baik. Lagian kami juga sudah ingin segera memiliki cucu," ucapan bunda Nia langsung mendapatkan respon dukungan semangat dari mama Alin. Yang juga mengharapkan hal yang sama.


"Bener banget dek, apalagi kayak kami yang hanya memiliki anak satu saja. Kami juga sudah sangat merindukan cucu. Biar rumah kita ramai dengan suara-suara mereka," ujar Mama Alin dengan semangat membara.


"Baiklah kalau begitu kapan kita melaksanakan pernikahan anak-anak kita ini," tanya ayah Bima menatap kedua calon besannya.


"Kalau minggu depan saja bagaimana?" usul Aven seketika membuat sang mama yang sedang minum seketika tersedak mendengarnya.


"Astaga anak ini ya," geram mama Alin dan langsung ditahan oleh sang suami yang dengan sigap memegang tangan sang istri dengan lembut.


Ngebet bener pengen nikah, batin Zara menggelengkan kepalanya.


"Ya kan akad nikahnya dulu nggak apa-apa. Nanti pestanya diadakan di Surabaya dan Jakarta bisa menyusul,kan," ujar Aven kembali.


Para orang tua menghela napasnya sambil saling memandang. Sepertinya menikahkan keduanya dengan segera adalah keputusan yang tepat.


"Bagaimana nak, apakah kamu mau melakukan akad nikah terlebih dahulu seperti usulan nak Aven, hemm?" tanya bunda Nia kepada sang putri tercinta.


"Hmmm.... bagaimana ya?" Zara tampak memikirkan apa yang sebaiknya yang harus dia lakukan.


Semua menunggu keputusan Zara dan tampaknya gadis cantik itu masih bingung akan keputusannya.


"Abang, maafkan Zara ya..."


Ucapan Zara seketika membuat Aven yang sudah merasa bahagia mendadak bermuram durja karena permintaan maaf sang calon istrinya.


"Kenapa sayang? kamu nggak setuju dengan usul Abang barusan?" tanya Aven dengan raut wajah bingung.


Zara mengangguk.


"Itu terlalu cepat Abang. Lagian orang tua kita pastinya akan sibuk dengan persiapan pernikahan kita. Meskipun itu cuma akad saja. Kami pastinya akan mengundang banyak saudara untuk hadir di acara tersebut. Jadi aku ingin acaranya dilaksanakan tiga minggu lagi ya," pinta Zara dan itu membuat Aven menghela napasnya panjang.


"Boleh ya Abang?" pinta Zara kembali dengan suaranya yang lembut. Hal itu membuat Aven tidak lagi bisa menolak.


"Baiklah, tapi ada syaratnya," ucap Aven tersenyum.


"Apa itu?"


Tanya semua orang yang ada di sana ikut penasaran.


❤️❤️❤️


TBC