
Drrttt
Drrttt
Sebuah pesan masuk dan Aven langsung membukanya yang ternyata dari detektif Adnan.
"Ya, halo."
"Mas Adven bisa datang ke tempat saya? Saya sudah menangkap pelaku yang telah mengirim paket teror tersebut," lapor detektif Adnan.
"Baik, aku ke sana sekarang juga."
Tut
"Dion, kita ke tempat detektif Adnan. Pelaku teror sudah ketemu," ujar Aven langsung mengajak asisten Dion untuk pergi segera.
"Baik, tuan muda," jawab asisten Dion dan segera mempersiapkan mobil bergegas menuju ke lokasi yang sudah dikirimkan oleh detektif Adnan.
Sementara di tempat lain, detektif Adnan dan juga anak buahnya membawa si tersangka pengirim paket itu ke markas mereka untuk di interogasi. Karena mereka menduga ada dalang di balik ini semua. Dan benar saja orang itu masih saja bungkam. Dia tidak mau mengungkap siapa dalangnya. Dia bilang uang yang diberikan kepadanya mampu membungkam mulutnya Agra tidak membocorkan informasi bila tertangkap.
Anak buah detektif Adnan menghela napasnya kasar. Ingin rasanya dia melayangkan pukulan kepada wajah sombong si pelaku.
"Jadi, kamu mau masih tidak mau bicara, hmmm!!!!"
Si kurir itu menggelengkan kepalanya cepat. Meski sedari tadi dia mogok bicara. Sebenarnya dia juga was-was kalau saja mereka nekat berbuat sesuatu kepada dirinya.
Detektif Adnan tampaknya harus menunggu kedatangan Aven. Dia tidak mau menghakimi sendirian pelaku ini. Sebelum yang bersangkutan datang dan meminta penjelasan.
Brak
Pintu ruangan terbuka dan tampak kedatangan dua pria dengan berjas hitam. Aven dan asisten Dion langsung masuk ke ruangan interogasi detektif Adnan.
"Bagaimana?" tanya Aven sambil menatap tajam ke arah si pelaku yang sedang duduk di kursi pesakitannya.
Aven pun mendekat ke arah pria kurus tersebut. Tampaknya pria dihadapannya ini memiliki tujuan tertentu sehingga dia memilih untuk menutup mulutnya rapat-rapat.
"Aku bisa memberikanmu lebih jika kamu mau mengatakan kepadaku. Siapa dalang dibalik semua ini? bagaimana?" tawar Aven sambil tersenyum smirk.
Dia menatap tajam ke arah si pelaku. Sambil merogoh kantong saku jasnya. Dan mengeluarkan selembar kertas yang sepertinya berupa cek kosong. Aven menyodorkan kertas tersebut kepada si pria.
"Kamu isi saja berapa harga yang kamu minta untuk sebuah informasi saja. Aku pastikan kamu bisa keluar dari ruangan ini dengan membawa cek tersebut. Kamu yakin masih mau menutup mulutmu itu dan berakhir di penjara nanti?" tanya Aven mulai mengajak si pelaku bernegosiasi.
"Emm... itu... aku mau uang tunai saja," tampaknya si pelaku mulai goyah pendiriannya. Apalagi Aven melakukan pendekatannya dengan baik-baik tanpa emosi sama sekali.
"Baiklah, aku memiliki uang tunai 500 juta jika kamu bersedia buka mulut siapa tuanmu itu," ujar Aven kembali. Dia meminta asisten Dion untuk membuka koper yang dia bawa. Benar-benar uang tunai isi di dalam koper tersebut. Hal itu membuat si pria meneguk salivanya dengan susah payah.
"Apakah aku benar-benar akan bebas dari sini?" tanya si pria kurus itu memastikan jika dirinya akan benar-benar dibebaskan.
"Ya, tentu saja dirimu akan bebas dan mendapatkan uang ini jika kamu mau berkata siapa dalang dibalik semua ini?" ucap Aven kembali meyakinkan si pelaku.
"Ba-baik."
Semua diruangan tersebut saling berpandangan. Karena pada akhirnya Aven mampu membujuk si pelaku untuk mengatakan yang sebenarnya.
"Tapi aku mau uangnya lebih dulu," ujar si pria itu tidak mau kehilangan uang yang sudah dijanjikan.
"Dion, bawa uangnya kemari uangnya," perintah Aven dan asisten Dion pun menyodorkan uang tersebut kepada si pria pengirim paket berisi teror itu. Agar dia percaya bahwa Aven tidaklah sedang bermain-main dengannya.
"DIA ADALAH SEORANG WANITA, AKTRIS YANG TERKENAL BERNAMA JESSICA."
❤️❤️❤️
TBC