Kepentok Cinta Abang Duda

Kepentok Cinta Abang Duda
Episode 67



Setelah melewati berbagai prosesi adat Jawa dalam pernikahan mereka. Kini Aven dan Zara sedang sibuk mengalami satu persatu tamu undangan yang menghampiri keduanya. Untuk mengucapkan dan memberikan doa restu pada pengantin. Walaupun rasanya pinggang dan kaki kedua mempelai itu sudah mulai pegal. Rasanya udah mau copot saja dari tempatnya. Akan tetapi kedua pengantin baru itu tetap tersenyum ramah pada tiap tamu undangan.


"Kaki aku pegel banget bang."


Zara berbisik kepada sang suami. Aven pun terlihat menghela napas lelahnya. Dia menoleh pada sang istri tengah mengeluh dengan kakinya yang mulai tak nyaman untuk terus berdiri.


"Nanti Abang pijitin ya kalau acaranya sudah selesai," bisik Aven.


Zara hanya menganggukkan kepalanya patuh. Mau bagaimana lagi. Mereka tidak mungkin meninggalkan acara pesta ini. Ditengah banyaknya tamu undangan yang berdatangan.


Pesta berlangsung hingga malam menjelang. Dengan Zara dan Aven yang sudah mengganti pakaian mereka menjadi baju pernikahan modern. Zara berjalan cukup kesusahan karena ekor bajunya yang menjuntai cukup panjang. Namun Aven dengan cekatan membantu sang istri. Membuat Zara tersenyum bahagia melihat kesigapan suaminya.


"Makasih Abang sayang," ucap Zara setelah keduanya duduk di kursi pelaminan.


"Cuma makasih doang. Nggak ada yang lain, hemmmm?" tanya Aven menggoda sang istri.


Hal itu membuat Zara memeluk lengan suaminya perlahan.


"Abang jangan mulai deh. Ini dilihat banyak orang tua," bisik Zara kembali.


"Oh berarti nanti kalau dikamar berdua aja boleh ya mintanya. Kan nggak dilihatin banyak orang," lagi-lagi ucapan Aven membuat Zara tersipu malu.


Mantan duren itu sekarang kalau ngomong sudah nggak kefilter lagi. Dia benar-benar ngucapin apa adanya saja dengan sang istri.


"Astaga kedua mempelai ini udah nggak sabaran kayaknya," sindir Zidan yang menggoda kedua kakaknya.


"Apaan kamu ini dan," tegur sang kakak perempuannya.


"Habisnya dari tadi dilihatin dari bawah main cubit-cubitan terus. Kasian mas Aven tuh ntar tubuhnya merah-merah gegara cubitan kak Zara," lanjut Zidan lagi.


Aven hanya tersenyum mendengar protesan adik iparnya kepada sang istri.


"Udah sana kamu anak kecil. Ikutan aja ngeledekin kakaknya. Awas ya nggak bakalan aku kasih uang saku tambahan," ancam Zara kepada adiknya.


"Nggak apa-apa kan sekarang ada mas Aven yang bakalan tolongin Zidan, weeeekkk," ujar Zidan sambil menjulurkan lidahnya. Kemudian dia pergi meninggalkan pasangan pengantin baru tersebut.


"Astaga, anak itu," geram Zara.


"Sudahlah sayang, hemat tenagamu buat acara kita malam nanti," bisik Aven sambil memeluk mesra istri cantiknya.


......................


Pesta sudah usai, para tamu undangan juga sudah habis. Kini beberapa keluarga ada yang menginap di hotel. Ada juga yang memilih pulang ke kediamannya masing-masing. Tapi khusus keluarga inti mereka memilih menginap di hotel saja. Merek sudah cukup lelah untuk pulang ke rumah.


Sepasang pengantin baru juga tengah berada di salah satu kamar hotel yang paling bagus. Dengan dekorasi bunga-bunga yang indah menghiasi kamar pengantin di malam pertama keduanya.


Setelah melepaskan segala asesoris yang menempel di tubuhnya. Zara berjalan menuju ke koper miliknya untuk mencari baju ganti. Dia sudah lelah dan ingin segera mandi. Kemudian beristirahat bersama dengan suaminya.


Akan tetapi ketika dia membuka isi kopernya. Zara begitu syok dengan isi yang ada di dalamnya.


"Astaghfirullah!"


Aven yang kebetulan selesai dari mandi. Dia menjadi kaget dan segera menghampiri istrinya yang tampak syok berjongkok di depan koper miliknya.


"Ada apa sayang?" tanya Aven panik.


"Abang, kenapa isi koperku semuanya seperti ini? Kemana baju yang sudah aku susun bang?" tanya Zara dengan raut wajah sedihnya.


Aven segera mengecek isi koper dari Zara. Dan di tak bisa menahan tawanya karena melihat didalamnya banyak baju kurang bahan yang cukup seksi dan menerawang kalau digunakan.


Aven sudah tahu siapa yang sudah jahil mengganti isi baju dalam koper sang istri. Aven sebenarnya ingin tertawa tetapi dia tidak mau Zara nantinya marah dan rencana malam pertama mereka ambyar.


"Nggak apa-apa sayang. Pakai saja salah satunya. Abang suka kok kamu mau pakai yang mana saja," ujar Aven lembut sambil membelai rambut panjang sang istri.


"Tapi bang....aku nggak terbiasa pakainya," ucap Zara jujur. Dia tidak bisa membayangkan dirinya pakai pakaian kurang bahan tersebut. Seperti nggak pakai baju saja sebenarnya itu sih. Apalagi memakainya di depan laki-laki ya meskipun itu suaminya. Tetapi kan tetap saja masih canggung.


"Katanya sudah capek, nggak apa-apa pakai itu dulu. Nanti abang pesankan baju buat ganti kamu ya. Sekarang semuanya sudah capek nggak ada yang bisa disuruh buat beliin kamu baju, sayang," bujuk Aven agar Zara mau memakai pakaian dinas para istri tesebut.


Zara berdecak pelan kemudian mengambil salah satu baju tersebut asal. Namun, sebelum dia melangkahkan kaki suaminya menarik lengannya dan mengganti warna baju yang diambil oleh Zara.


"Yang merah lebih bagus sayang. Lebih seksi dan menantang," ucap Aven seketika wajah Zara langsung memerah bak kepiting rebus.


Astaga, kenapa suamiku makin omes saja ya.


❤️❤️❤️


TBC