
Seorang gadis sedang mondar mandir di bandara menunggu kedatangan keluarganya. Dia sudah tidak sabar menantikan mereka yang pulang dari kota pahlawan tersebut.
"Duduklah. Jangan seperti setrikaan begitu," tegur asisten Dion yang sudah pusing melihat kelakuan cucu majikannya tersebut.
Beberapa hari ditugaskan untuk menjaga Mika saja sudah membuatnya banyak-banyak bersabar. Anak remaja itu begitu aktif dan sulit diatur. Bahkan dia nekat mengikuti asisten Dion ke perusahaan hanya karena merasa kesepian di rumah. Padahal juga di kediaman Maheswara banyak pembantu yang tentunya nggak akan kesepian. Namun, gadis remaja itu cukup membuat asisten Dion pusing tujuh keliling. Ad saja alasan yang diberikan olehnya sehingga asisten Dion memilih mengalah daripada berdebat.
"Kok lama banget ya mereka," ujar Mika kali ini menuruti ucapan asisten Dion dengan duduk di sampingnya.
"Kamunya saja yang nggak sabaran," jawab asisten Dion dengan datarnya.
Hah....
Mika menghela napasnya kasar.
"Kak Dion kenapa sih? Jawabnya datar banget kalau sama Mika. Padahal mika kan hanya ingin kita itu akrab kak. Tetapi kak Dion sikapnya kalau ke mika kayak musuh saja," ujar mika mengcurahkan isi hatinya.
Dion merasa tidak enak mendengar ucapan mika barusan. Dia merasa sudah menyakiti hati gadis cantik di sampingnya itu.
"Emmm...maaf mika. Bukan itu maksudku. Aku .."
"Sudahlah kak, aku mengerti kok. Aku memang nggak pantas untuk kak Dion. Aku masih kecil, masih bodoh dan masih labil. Nggak akan cocok dengan kakak yang sudah dewasa dan juga mapan. Jika dibandingkan dengan cewek kemarin yang seksi itu. Ya aku memang jelas kalah jauh darinya. Tetapi aku yakin beberapa tahun kedepan aku akan melebihi dia. Dan nanti setelah aku melebihi dia, aku akan datang untuk merebut kamu dari dia kak. Lihat saja nanti," ucap Mika membuat asisten Dion speechless mendengarnya.
Astaga, anak ini nekat banget ya. Padahal aku kemarin cuma bersandiwara dengan Monika. Bukannya membuat dia mundur malah semakin gencar merebut, batin asisten Dion sungguh di luar rencananya kemarin.
✨✨
"Tapi Azka, aku ini sedang hamil anak kamu. Kenapa kamu tidak bisa....."
"Azka! Azka!" teriak Widia yang diputuskan sambungan teleponnya begitu saja oleh kekasihnya.
Braaakk!
"Si..allaaannn....kurang ajaaarrr!!!" teriak Widia dengan kesal. Dia sudah capek menghadapi kelakuan Azka yang tidak mau bertanggungjawab dengan perbuatannya membuat dirinya hamil.
Padahal selama ini hanya Azka lah lelaki yang menyentuk dirinya. Widia memang merebutnya dari Zara. Akan tetapi dirinya masih perawan dan Azka lah lelaki pertama yang sudah menyentuh tubuhnya. Dan Widia juga berjanji bahwa hanya Azka yang dia inginkan menjadi pendamping hidupnya. Dia tidak mau hidup seperti kakaknya, Jessica. Dia hanya ingin hidup berdua selamanya dengan satu pria saja. Widia memimpikan hidup normal layaknya orang-orang. Tetapi apa yang dia dapatkan saat ini jauh diluar ekspektasinya.
Azka justru tidak mau menikahi dirinya. Dan sekarang beralasan bahwa dia akan dijodohkan dengan wanita pilihan kedua orang tuanya.
"Breeenggseekkk! Breeenggseekkk kamu, Azka!" teriak Widia mencurahkan kemarahan dalam dirinya. Apalagi kondisinya saat ini sedang berbadan dua. Anak hasil hubungan intimnya selama ini dengan Azka.
Lelaki itu benar-benar membuat Widia tidak habis pikir. Tampaknya selama ini dia mencintai Widia akan tetapi ternyata dia hanya lelaki yang takut jatuh miskin. Hanya karena diancam akan kehilangan semua warisan dari kedua orang tuanya. Dia sudah meninggalkan Widia begitu saja seperti sampah.
"Lihat saja kamu azka! Aku akan membuat perhitungan denganmu!" geram Widia sambil menghapus air mata di wajahnya dengan kasar.
❤️❤️❤️
TBC