
Zara menggeliat saat merasakan tubuhnya tertindih seseorang. Dengan perlahan dia membuka matanya. Saat bertanya itu benar-benar terbuka, Zara terkejut karena dia seorang laki-laki tengah tertidur di sampingnya dengan dadanya yang polos. Hampir saja Zara berteriak tetapi dia langsung teringat bahwa semalam dia sudah resmi menjadi istri seorang duda keren pimpinan perusahaan MH.
"Kenapa aku bisa lupa sih?" gumam Zara perlahan. Dia kemudian mengambil selimut tipis yang berada di kakinya. Untuk menutupi tubuhnya yang polos. Dia memindahkan tangan suaminya agar dia bisa turun ke kamar mandi.
"Ssstttt ...."
Akan tetapi saat Zara baru menurunkan kedua kaki jenjangnya yang putih mu-lus. Tiba-tiba rasa perih dia rasakan di pusat inti tubuhnya. Sepertinya sang suami terlalu bersemangat semalam hingga membuat dirinya merasa kesakitan.
"Sayang, kamu mau kemana?" lengan kokoh itu tiba-tiba memeluk tubuh Zara membuat gadis itu. Eh, salah mantan gadis itu terkejut. Dia tidak menyangka jika suaminya akan terbangun oleh pergerakan dirinya. Padahal Zara sudah berusaha sepelan mungkin turun dari ranjang.
"Eh, aku mau ke kamar mandi bang," jawab Zara perlahan.
Suara Zara yang serak akibat baru bangun tidur. Entah mengapa menjadi suara yang cukup menggoda untuk Aven. Mantan duda itu kembali memeluk dan menciumi leher jenjang sang istri yang sudah penuh tanda kepemilikan di sana.
"Abang....." lirih Zara yang justru membuat Aven seolah-olah sang istri mulai menggodanya.
"Akkkkh....Abang!" pekik Zara yang merasa tubuhnya mendadak melayang diangkat kembali ke atas ranjang oleh sang suami.
"Hmmmmmppphh."
Zara kembali mendapatkan serangan bertubi-tubi dari Aven tanpa dapat melakukan perlawanan. Ciuman lembut itu berubah menjadi lu-ma-tan yang dalam dan menuntut.
Setelah Zara mulai kehabisan oksigen. Barulah Aven melepaskan wanitanya itu. Dia tersenyum sambil mengusap sisa Saliva yang tertinggal di bibir sang istri.
"Aku mencintaimu sayang. Abang pengen lagi seperti yang semalam. Boleh ya...." pintanya dengan suara yang berat sarat akan ha-srat yang tertahan ingin segera disalurkan.
Zara menelan salivanya melihat tatapan dan suara berat dari suaminya. Bagaimana mungkin dia menolak keinginan suaminya tersebut. Karena memang itu adalah hak suaminya terhadap dirinya.
Zara pun menganggukkan kepalanya perlahan. Melihat persetujuan sang istri membuat semangat Aven membara kembali. Dia akan membuat Zara menyebutkan namanya berkali-kali. Aven akan memastikan hal tersebut.
Dan akhirnya subuh itu keduanya kembali memproses program sembilan bulan mendatang. Untuk menghasilkan penerus Maheswara. Aven ingin memiliki banyak anak agar di rumahnya nanti banyak suara anak-anak kecil yang meramaikan suasana.
Zara hanya bisa pasrah menerima hu-ja-man dari suaminya yang begitu gagah dan perkasa di atas ranjang. Entah sudah kali berapa mereka bermain hingga akhirnya keduanya kembali terlelap karena kecapekan. Bahkan Aven sampai tertidur pulas saking bahagianya dia telah mendapatkan seseorang wanita yang terbaik dan juga istimewa.
Pukul sepuluh siang di sebuah kamar hotel berbintang.
Aven menggeliatkan badannya sembari meraba-raba tempat kosong yang ada di sebelahnya. Mata hitamnya perlahan terbuka. Dia memindai seluruh ruangan yang ada di kamar itu guna mencari keberadaan sang istri. Ya, rupanya Zara kembali terbangun dan kali ini dia berusaha sepelan mungkin turun dari ranjang. Dia tidak mau diterkam kembali oleh sang mantan duda yang habis berbuka puasa tersebut.
Zara berjalan tertatih-tatih karena merasakan pusat intinya yang begitu perih. Dan mandi berendam dengan air hangat adalah solusi yang tepat untuk Zara. Wanita itu juga tidak lupa mengunci pintu kamar mandinya agar sang suami tidak menyusulnya ke dalam. Zara ingin merilekskan tubuhnya yang semalaman digempur habis-habisan oleh Aven.
Aven sendiri berdecak mendapati pintu kamar mandi yang terkunci. Padahal dia kan kepingin juga ikut berendam bersama sang istri. Pasti ini ulah Zara yang tidak mau Aven menyentuhnya lagi di kamar mandi. Awas saja kalau keluar nanti ya, batin Aven sambil memicingkan sebelah matanya menatap pintu kamar mandi yang tertutup.
Aven kembali ke ranjang tempat semalaman dirinya melakukan proyek sembilan bulan dengan Zara. Dia tersenyum bangga melihat bercak merah yang cukup banyak terdapat di sprei berwarna putih tersebut. Ini adalah kebanggaan dirinya sebagai suami karena dialah yang pertama untuk Zara. Dulu dia sendiri tidak tahu apakah Jessica masih perawan atau tidak saat berhubungan dengan dirinya. Karena waktu itu dirinya mabuk dan tidak mengingat kejadian malam dimana dia meniduri mantan istrinya.
Dengan hanya menggunakan boxer, Aven mengganti sprei kamar hotel itu dengan cadangan sprei yang sebelumnya dia minta dari pihak hotel. Sengaja dia memang melakukan hal tersebut. Agar dirinya tidak memanggil petugas pelayanan hanya untuk sekedar mengganti sprei mereka.
Ceklek.
Aven membalikkan tubuhnya saat mendengar pintu kamar mandi terbuka. Dan betapa terkejutnya dia saat melihat Zara yang sudah segar dengan bathrobe nya. Rambut panjang basahnya yang terurai semakin menambah daya imajinasi Aven berkelana seketika. Zara mengerutkan keningnya saat melihat suaminya yang menatapnya tanpa kedip dari atas hingga bawah.
"Kenapa mandinya ngga ngajak-ngajak Abang sih sayang," rengek Aven.
Sedangkan Zara melewati suaminya begitu saja. Dia sengaja diam dan mencari baju ganti yang semalam dijanjikan oleh Aven. Ternyata sudah tersedia sebuah dress berwarna biru muda dengan motif bunga-bunga.
"Sayang...." Aven meletakkan dagunya di bahu Zara yang masih memilih dalaman yang akan dia pakai.
Zara tidak peduli dengan adanya Aven yang masih memeluknya. Toh semalam lelaki itu sudah melihatnya polos dari ujung kepala hingga ujung kaki. Zara bahkan dengan beraninya memakai pakaiannya di depan Aven. Lelaki itu langsung meneguk salivanya. Benar-benar wanitanya ini sekarang sudah berani menggoda dirinya ya.
"Jangan salahkan Abang karena kamu yang sudah mancing Abang duluan sayang."
❤️❤️❤️
TBC