Kepentok Cinta Abang Duda

Kepentok Cinta Abang Duda
Episode 39



Tap


Tap


Tap


"Selamat pagi bunda," sapa Zara begitu sampai di dapur menemukan sang bunda sudah berada di sana.


"Pagi juga sayang, pagi-pagi sudah cantik dan berada di dapur. Hemm....rajin bener mentang-mentang ada ayank," sindir bunda Nia membuat Zara tampak merona dibuatnya.


"Apaan sih bunda. Lagian ya kalau Zara bangunnya siang-siang apa nggak tambah malu nanti ayah dan bunda?" ucap balik Zara.


"Eh, iya nak, kamu coba cek gih keadaan Aven," tutur sang bunda.


"Kenapa dengan abang Bun?" tanya Zara mendadak khawatir begitu mendengar perintah sang bunda.


"Semalam bunda dengar dia bersin-bersin. Apa gegara kehujanan kemarin jadinya kena flu. Kamu cek dulu gih, nak," ujar bunda Zara.


"Baiklah bun, aku ke kamar abang dulu," kata Zara sambil melepas apron yang barusan dia kenakan.


Tok


Tok


Tok


"Abang," panggil Zara dengan suara lirih.


Zara mencoba mengetuk kembali.


Tok


Tok


Tok


"Abang udah bangun belum?" tanya Zara sekali lagi.


Tetapi hanya keheningan yang dia dapatkan. Tidak ada sahutan dari dalam kamar. Merasa khawatir akhirnya Zara membuka pintu kamar ruang tamu untuk memastikan kondisi Aven baik-baik saja.


Ceklek.


Zara melongokkan kepalanya masuk ke dalam ruangan. Zara melihat sosok Aven sedang tidur dengan berbalut selimut tebal.


"Abang," panggil Zara lembut. Akan tetapi sosok itu masih tidak bergerak juga dalam tidurnya.


Zara mencoba mendekat kemudian mengecek kondisi Aven yang masih tertidur.


"Kok Abang pules bener ya tidurnya?"


Zara mencoba mengecek kening sang kekasih karena merasa penasaran akan keadaan kekasihnya.


"Astaghfirullah hal adzim!" pekik Zara saat menyentuh kening Aven terasa begitu panas.


"Abang, Abang demam ya?" panggil Zara namun Aven tampak tidak mendengar ucapan kekasihnya.


"Haiiishhh....ini pasti gegara kehujanan kemarin itu. Aku harus segera ambil kompresan," ujar Zara bergegas menuju ke dapur dan menceritakan kondisi Aven yang dia temukan lagi ini kepada sang bunda.


Mendengar cerita sang anak tentu saja bunda Nia ikut cemas. Dia ingin memanggil dokter keluarga untuk mengecek kondisi Aven akan tetapi pria itu menolaknya karena dia merasa hanya sedang demam biasa saja. Butuh istirahat saja nanti juga akan sembuh dengan sendirinya. Dia hanya membutuhkan obat penurun demam saja. Dan di rumah tentu saja tersedia kalau untuk obat penurun panas.


Sedangkan Aven yang melihat kepanikan di wajah Zara. Dirinya justru tampak bahagia karena perhatian yang Zara berikan kepadanya.


Aven menggenggam erat jemari tangan Zara sambil mengelusnya perlahan mencoba menenangkan sang kekasih.


"Abang nggak apa-apa kok sayang," ujar Aven.


"Tapi Abang sampai sakit begini. Abang pasti kelelahan bukan. Baru datang bukannya istirahat dulu malah main dan kehujanan sama Zidan. Gimana Abang nggak sampai sakit begini?" ujar Zara sambil menghela napasnya panjang. Dia kembali memeras kain untuk mengompres kening Aven.


Melihat betapa telatennya Zara dalam merawat dirinya membuat Aven semakin jatuh cinta dengan gadis cantik dihadapannya saat ini.


Tok


Tok


Tok


"Iya, masuk bik."


"Mbak Zara ini bubur ayamnya sama obat penurun demamnya," ujar bibik mengantarkan sarapan dan obat untuk Aven.


"Terimakasih ya bik."


"Kalau begitu bibik permisi dulu mbak, mas."


"Iya bik."


"Abang, ayo aku suapin ya sarapannya," tawar Zara dan Aven menganggukkan kepalanya tanda setuju.


Dia mencoba duduk bersandar di headboard ranjangnya. Zara berusaha membantu Aven untuk duduk.


Greeep!


"Eh Abang," Zara memekik pelan dan reflek mengalungkan kedua tangannya di leher sang kekasih.


"Makasih ya sayang sudah merawat aku," ujar Aven sambil memeluk pinggang ramping milik sang kekasih.


Zara tersenyum mendengar ucapan tulus dari kekasihnya tersebut. Dia mengusap pipi Aven dan langsung di tangkap jemari tangan zara yang mulai berani menggodanya.


Cup


Diciumnya tangan halus sang kekasih membuat Zara kembali tersenyum dibuatnya.


"Aku mencintaimu Zara," ucap Aven sambil menatap penuh cinta kepada Zara.


"Aku juga mencintaimu bang," balas Zara membuat Aven semakin melambung tinggi mendengar cintanya yang disambut oleh sang kekasih.


Aven menyatukan kening keduanya Deru napas keduanya terdengar lembut. Aven memajukan wajahnya semakin mendekati wajah Zara. Dan gadisnya itu hanya bisa pasrah sambil memejamkan kedua matanya.


"Ekkhemm!"


Seettt


Suara deheman itu seketika membuat Zara menjauh dari tubuh Aven. Zara takut jika yang datang ke kamar tersebut adalah sang ayah.


❤️❤️❤️


TBC