Kepentok Cinta Abang Duda

Kepentok Cinta Abang Duda
Episode 91



Brak


"Kita mau kemana ini non?" tanya mang Udin, si sopir pribadi keluarga Maheswara. Kali ini dia bertugas untuk mengantarkan kemanapun nyonya muda Maheswara berpergian.


"Ke rumah mama aja mang, sebelumnya mampir ke toko roti dulu ya beli oleh-oleh buat mama," ujar Zara yang sudah duduk di bangku belakang mobilnya.


"Baik non," sahut mang Udin kemudian melakukan mobilnya keluar dari halaman rumah.


Tanpa mereka sadari bahwa ada sebuah mobil yang sudah mengikuti mobil tersebut sejak keluar dari dalam rumah. Mobil sedan hitam itu berada tepat di belakang mobil milik Zara.


Setelah berkendaraan selama sepuluh menit sampailah di sebuah toko kue langganan mama Alin. Zara pun segera turun dengan segera karena dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan sang mama mertua. Zara ingin menghabiskan banyak waktu dengan berbincang-bincang seperti kemarin. Dan juga ingin tahu banyak tentang makanan favorit suaminya. Akhir-akhir ini Zara seneng banget masak makanan kesukaan Aven. Bahkan sampai Aven mengeluh, takut dirinya semakin gendut nantinya kalau dipaksa banyak makan terus.


Kalau sudah begitu Zara juga beralasan kalau Aven nggak bakalan bisa gendut. Karena setiap hari selalu berolahraga malam. Mana mungkin bisa gendut. Aven hanya tertawa saja mendengar alasan konyol istrinya itu hanya untuk memaksanya banyak makan. Gendut sih bakalan terjadi kalau nggak bisa kontrol pola makan.


"Non, rasanya mobil di belakang itu ngikutin mobil kita deh," ujar mang Udin yang merasa aneh dengan mobil sedan hitam yang ada di belakangnya.


Zara menoleh sekilas kemudian dia mencoba mengawasi dari balik kaca spion. Perasaan dia mendadak tidak enak. Zara merasa sedikit sesak di dadanya. Entah mengapa mualnya terasa mau kambuh padahal tadi udah cukup enakan sehabis minum susu coklat pagi hari. Karena terus-menerus mual, Zara hanya membuat susu coklat untuk mengganjal perutnya.


Drrtt


Drrtt


Zara melihat notifikasi panggilan dari suaminya. Senyum merekah seketika terpasang di bibir Zara saat nama Aven muncul di layar handphonenya.


Klik


"Assalamualaikum Abang."


"Waalaikumsalam sayang kamu ada dimana sekarang?" sebuah pertanyaan langsung Aven tanyakan. Terdengar suaranya yang sedikit panik saat berbicara.


"Yank cepat kamu kembali ke rumah. Jangan keluar dulu hari ini yank. Ini penting, jadi...."


Tut


Tut


Tut


"Lho, kok mati," Aven langsung mengecek sambungan teleponnya yang mendadak putus.


Tampaknya sambungan terputus secara tiba-tiba. Aven kembali mencoba menghubungi sang istri. Akan tetapi hanya suata operator yang mengatakan jika telepon yang dituju sedang berada di luar jangkauan.


"Astaghfirullahhaladzim yank, kenapa juga handphonemu itu. Ini darurat banget yank," gumam Aven yang merasa begitu cemas dengan kondisi Zara. Setelah apa yang dikatakan oleh si pria kurus pengirim paket teror yang didalangi oleh Jessica tersebut.


Aven mencoba menghubungi nomor handphone mang Udin. Akan tetapi tidak ada yang mengangkat panggilan darinya. Aven semakin mengusap wajahnya dengan kasar.


"Cepat Yon, telusuri sepanjang perjalanan menuju ke rumah mama. Aku merasa tidak enak sedari tadi. Aku tidak mau terjadi apa-apa dengan Zara," perintah Aven membuat asisten Dion kembali menambah kecepatan laju mobilnya.


Bagaimana Aven tidak cemas jika mendengar informasi bahwa Jessica saat ini sedang beraksi untuk mencelakai sang istri. Kalau memang benar itu terjadi berarti saat ini Jessica kemungkinan sedang mengincar Zara. Detektif Adnan sudah bergerak lebih dulu dengan para anak buahnya. Begitulah dengan pihak kepolisian yang sudah tau duduk persoalannya. Maka sekarang aven sedang berkejaran dengan waktu untuk segera menyelamatkan Zara yang berada di perjalanan.


"Baik-baik ya yank, Abang akan segera datang," gumam Aven dengan perasaan yang campur aduk saat ini.


❤️❤️❤️


TBC