Kepentok Cinta Abang Duda

Kepentok Cinta Abang Duda
Episode 37



Flashback on


Pagi itu di kediaman keluarga Adhitama.


"Nyonya, maaf mengganggu," seorang pelayan menghampiri bunda Nia yang sesama syok bertanam di taman belakang rumahnya.


Bunda Nia adalah ibu rumah tangga yang suka sekali dengan tanaman hias. Dan belakang rumahnya tampak begitu asri dan juga berbagai macam tanaman hias ada di sana. Itulah hobi istri seorang pengusaha terkenal Bima Adhitama.


"Ada apa bi?" tanya bunda Nia lembut.


"Ada tamu nyonya."


Bunda Nia mengerutkan keningnya. Sepagi ini ada tamu, siapa?


"Siapa bi?" tanya bunda Nia sambil membersihkan tangannya yang terkena tanah.


"Namanya Aven Maheswara nyonya," sahut bibi.


"Astaga, anak itu sepagi ini sudah sampai Surabaya? suruh cepat masuk bik, dan buatkan minuman dan siapkan cemilan juga buat dia ya," perintah sang nyonya besar Adhitama.


"Baik nyonya," bibi pun undur diri untuk segera menyiapkan permintaan sang nyonya rumah.


"Hmmm, calon mantu, rajin bener sudah sampai rumah calon mertua sepagi ini," gumam bunda Nia sambil berjalan menuju ke ruang tamu rumahnya.


"Assalamualaikum Om, Tante," sapa Aven saat melihat kedatangan kedua orang tua Zara.


Bunda Nia juga mengajak sang suami untuk menemui pria yang sedang menjalin hubungan dengan putri sulungnya tersebut.


"Waalaikumsalam, ven. Apa kabarnya? Lama bunda nggak pernah ketemu kamu, nak? Ayo duduk dulu," ujar bunda Nia mempersilakan tamunya.


"Terimakasih banyak Tante, Alhamdulillah kabar baik. Maaf Tante datangnya pagi-pagi soalnya langsung sampai bandara mau ke hotel tapi lupa belum pesan kemarin. Jadinya langsung ke sini saja," ujar Aven memberikan alasannya.


"Sudah, kamu menginap di sini saja. Ada kamar tamu juga di sini. Nanti biar bibi yang bersihin," ujar Ayah Bima.


"Iya ven, daripada kamu tinggal di hotel. Di sini anggap saja sebagai keluarga sendiri. Bukankah kalian juga seperti itu kepada Zara selama ini," ujar bunda Nia.


Aven tersenyum mendengar tawaran tersebut. Bagus juga sih, dengan begini dia bisa dekat terus dengan Zara nantinya.


"Baiklah, Om Tante, hari ini saja saya menginap di sini. Sambil nanti menunggu kabar dari asisten saya," ujar Aven sopan.


"Bagaimana kabar Mas Tomo dan juga mbak Alin, nak?" tanya ayah Bima kepada Aven.


"Alhamdulillah baik om, papa dan mama menyampaikan salamnya buat om dan Tante di sini."


Ketiga orang tersebut kemudian berbincang dengan santai. Sampai si bibi datang menghampiri ketiganya untuk menyampaikan pesan penting.


"Maaf tuan, nyonya, itu den tukang bunganya tanya mau ditaruh di mana tanaman hiasnya?" tanya bibi yang datang menghampiri majikannya.


"Bunga apa bik?" tanya bunda Nia yang bingung. Seingatnya dia sedang tidak memesan bunga apapun.


"Eh, itu Tante, aku bawa oleh-oleh buat Tante. Tanaman hias," jawab Aven.


"Tanaman hias?" ujar bunda Nia sambil menoleh ke arah sang suami.


"Benar nyonya, ada satu mobil pick up di depan bawa tanaman hias," ujar bibik membuat mata bunda Nia melotot seketika.


"Apa???"


Mendengar ada tanaman hias di depan rumah. Seketika bunda Nia yang begitu menyukai tanaman hias langsung berdiri dan melihat tanaman hias apa saja yang dibawa oleh calon mantu.


Ayah Bima hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan unik sang istri.


"Ekhem... kamu nggak bawa oleh-oleh neh ceritanya buat om?" sindir ayah Bima kepada Aven.


"Kalau buat om, lebih baik kita mengadakan kerjasama perusahaan saja. Antara MH dengan perusahaan Adhitama," jawab Aven dengan senyuman terbaiknya. Jawaban Aven membuat ayah Bima tertawa mendengarnya.


Pinter juga anak ini merebut hati calon mertuanya, batin ayah Bima sambil menepuk bahu Aven.


✨✨


"Astaghfirullah Abang, Abang mau buat taman baru emangnya di sini?" tanya Zara yang terkejut melihat kelakuan kekasihnya yang cukup unik.


Datang berkunjung ke rumah calon mertuanya dengan membawa semobil tanaman hias. Luar biasa unik bukan idenya. Dan lagi itu semuanya adalah tanaman hias yang mahal-mahal harganya. Tentu saja sang bunda pastinya senang sekali. Dan belum ada lelaki yang bisa sekreatif itu memberikan buah tangan berupa tanaman hias. Ya ampun, kelakuan duda satu itu. Membuat Zara geleng-geleng kepala dibuatnya. Tidak habis pikir.


"Gimana? ide aku bagus bukan?" tanya Aven sambil menaik turunkan alisnya.


Zara hanya menepuk jidatnya perlahan melihat kelakuan kekasih dudanya tersebut.


"Pantes saja mereka memberikanku kesempatan berbicara berdua dengan Abang duda. Ternyata udah disogok duluan sama dia, hahh..." gumam Zara kini mengerti kenapa kedua orang tuanya kompak memberikan waktu dia dan Aven bercengkerama berdua di taman.


"Hmmm, kerjasama dengan perusahaan MH kalau Zidan dia..."


"Abang kasih apa sama Zidan?" tanya Zara mendadak panik. Adiknya yang udah ngerjain dia pagi ini memangnya apa yang dia dapatin? Zara menjadi penasaran dibuatnya.


"Peralatan lengkap buat manjat gunung. Bukannya dia suka pendakian gunung, jadi Abang belikan itu buat dia," jawab Aven apa adanya.


Zara hanya bisa menghela nafas panjang dibuatnya. Aven bisa tahu kesukaanku orang-orang yang dicintainya. Sungguh hal yang baik bukan? Padahal dia tidak pernah bertanya kepada Zara sebelumnya.


Sett!


"Eh, Abang," pekik Zara panik karena tiba-tiba Aven menarik tubuhnya dan melingkarkan kedua tangannya di perut Zara.


Aduh, kenapa sedekat ini, batin Zara karena dia merasa tidak percaya diri dekat-dekat dengan Aven. Seketika Zara memalingkan wajahnya.


"Sayang, aku kangen," rengek Aven dengan suara manja kepadanya. Astaga, ini kalau orang kantor tahu kebucinan seorang Aven bisa-bisa diketawain. Seorang pimpinan MH yang super dingin dan datar berubah seratus delapan puluh derajat dari kebiasaannya.


"Aku...."


"Kamu nggak kangen sama aku, hemm?" tanya Aven sambil menopangkan dagunya di bahu Zara.


"Abang....jangan kek gini, nanti dilihat ayah sama bunda gimana?" ujar Zara lirih.


"Nggak apa-apa, Abang siap kok dinikahin hari ini juga," jawab Aven yakin.


Plakkk


"Aduh, sayang sakit," ucap Aven sambil mengelus pahanya yang dipukul oleh Zara. Sebenernya nggak sakit cuma ya begitulah kalau sedang pengen menarik perhatian kekasihnya.


"Sembarangan aja kalau ngomong," ujar Zara dengan memanyunkan bibirnya.


"Eh, sayang ini apa ini kok ada putih-putih di pipi kamu?" kata Aven dengan muka seriusnya menunjuk ke wajah Zara. Gadis itu sontak berpikiran yang macem-macem karena tingkah duda jahil tersebut.


Seettt


"Ya udah Abang, aku mau ke kamar dulu," pamit Zara sambil menutup wajahnya.


"Eh, mau kemana sayang, jangan tinggalin Abang, Abang masih kangen, hehehe," ujar Aven sambil menahan Zara yang hendak kabur darinya.


"Abang kenapa ketawa mulu sih," sewot Zara padahal dia sudah malu banget karena ketahuan ada noda di pipinya.


"Kamu juga ngapain nutupin wajahmu?"


"Aku malu bang," rengek Zara.


"Malu kenapa?" tanya Aven masih sok-sokan nggak nyadar dengan kelakuannya barusan.


"Iihhh...Abang bilang muka ku ada putih-putihnya. Kan aku malu kalau itu..."


"Apa??? iler?" sontak Zara dibuat semakin kalang kabut perasaannya karena ulah si duda kekasihnya.


"Hahahaha...."


"Iiihh...Abang!"


Grep!


"Abang cuma becanda sayang, neh liat, nggak ada apa-apa kok?" ujar Aven sambil menyodorkan kamera handphonenya agar Zara bisa mengaca di sana. Dan benar memang wajah Zara bersih dari noda apapun meskipun dia belum cuci muka dan juga gosok gigi.


Cekiiit..


"Aduhh.Oww...sakit! Sakit! sayang, udah sayang," jerit kesakitan Aven saat dicubit lengannya oleh Zara.


"Dasar Abang!!!??? jahil banget sih....."geram Zara dengan gemas.


Sementara itu di kejauhan tampak keluarga Zara memperhatikan interaksi pasangan kekasih tersebut.


"Mereka sepertinya cocok satu sama lain, yah. Kita bakalan segera punya mantu, anak sahabat sendiri yah "


"Iya bun."


"Yes, aku bakalan punya kakak ipar yang royal dan mengerti dengan hobiku," sahut Zidan.


❤️❤️❤️


TBC