
Di sebuah rumah sakit yang terkenal. Sebuah ruangan dokter cukup lama keduanya diperiksa dan juga diobati membuat Aven cukup mencemaskan calon istri dan juga keponakannya.
"Duduk dulu, ven, kamu ini nggak sabaran banget. Pasti Mario bisa mengobati keduanya," ujar mama Alin berusaha menenangkan sang anak.
"Iya ma," jawab Aven singkat namun dia masih khawatir dengan Zara.
Aven akan menandai itu lelaki yang sudah membuat tunangannya terluka. Dia akan membuat perhitungan setelah ini dengan perusahaan milik keluarga Ramadhan. Lihat saja nanti. Apa yang tidak bisa dilakukan oleh MH. Posisi perusahaan MH adalah nomor satu di Jakarta.
Ceklek
"Mario, bagaimana keadaan Zara?" tanya Aven langsung menodong pertanyaan kepada dr. Mario, sepupunya.
"Dan juga mika, nak? Apakah keduanya baik-baik saja?" tanya mama Alin yang ikut penasaran.
"Kami baik-baik saja ma," jawaban itu justru keluar dari mulut Zara.
Dia berjalan bersama dengan mika dari arah belakang dr. Mario. Keduanya tampak tersenyum menatap kedua orang yang begitu panik dengan kondisi keduanya tadi. Mama Alin menghela napas lega setelah mendengar jawaban dari calon menantu idamannya.
"Alhamdulillah," ucap syukur mama Alin melihat Zara dan mika baik-baik saja.
"Sayang," Aven berjalan mendekat ke arah Zara.
Dia memeluk pinggang Zara langsung dengan posesif. Sedangkan mika kini memeluk erat lengan sang Oma.
"Obatnya sudah ditebus dan untuk mika perlu diperiksa ulang tiga hari dari lagi ya. Sudah aku berikan jadwal kontrolnya," ujar Mario dengan senyuman manisnya menatap ke arah mika. Sedangkan gadis itu hanya tertunduk.
"Memangnya ada yang parah dari luka mika?" tanya mama Alin cemas.
Dokter Mario hanya tersenyum," tidak tante, hanya saja luka memarnya harus di cek ulang. Obat yang saya bawakan hanya untuk tiga hari saja."
"Baiklah kalau begitu terimakasih banyak Mario," ujar Aven.
"Sama-sama bang, kalau ada apa-apa segera hubungi saja."
"Baiklah."
"Kamu kenapa dari tadi diem saja, sayang?" tanya mama Alin yang melihat mika biasanya cerewet hanya diam saja.
"Enggak Oma, mika cuma lelah," jawab mika menutupi keresahannya.
Mama Alin hanya menghela napasnya panjang.
"Zara, Aven, untuk urusan pernikahan kalian lebih baik mama datangkan desainernya langsung ke rumah saja ya. Mama sudah menelpon ke butiknya tadi," ujar mama Alin.
Wanita paruh baya itu takut jika peristiwa ini akan terulang kembali. Mama Alin tidak mau anggota keluarganya terluka oleh kelakuan orang gila seperti lelaki tadi.
"Iya, terserah mama saja," jawab Zara. Begitupun Aven, dia mengikuti bagaimana kemauan kekasihnya. Apa yang Zara mau, maka itu yang akan Aven lakukan.
✨✨
"Istirahatlah dulu sayang," ujar Aven membantu Zara menata bantal yang diberada di kepala sang tunangan.
"Abang, kita perlu bicara," ujar Zara kepada Aven. Dia memegang lengan Aven yang hendak meninggalkan dia di kamar.
Aven mengelus perlahan lengan Zara. Lalu menatap wajah cantik sang calon istri. Aven tersenyum manis.
"Mau membicarakan tentang apa sayang?" tanya Aven lembut.
"Aku mau membahas tentang hubungan aku dengan Azka dulu kepada Abang," jawab Zara langsung.
"Buat apa lagi sayang? Aku sudah tahu siapa dia," sahut Aven.
"Tetapi aku belum pernah membahas dengan Abang. Kenapa aku bisa di Jakarta dan dekat dengan dia kan? Aku ingin mengatakan secara jujur kepada Abang. Agar nantinya Abang tidak salah paham. Aku tidak mau berbohong apapun kepada Abang. Kita harus terapin itu mulai sekarang, bang. Agar nanti kita terbiasa melakukan ini. Kejujuran adalah kunci utama dari pernikahan."
Aven tersenyum bangga mendengar apa yang dikatakan oleh Zara. Rupanya dia tidak salah memilih pasangan kali ini.
❤️❤️❤️
TBC