
"Abang mau kemana?" tanya Zara saat melihat Aven yang tampak akan bepergian bersama dengan Zidan, sang adik.
"Mau jalan dulu sama Zidan."
"Iya mbak tenang aja, mas Aven nggak bakalan ilang kok," sahut Zidan menggoda sang kakak.
"Huss! Kamu itu ada aja," tegur Zara.
"Tapi kan Abang baru nyampek lho. Belum juga istirahat masak mau bepergian gitu aja," ujar Zara kembali.
Aven tersenyum bahagia karena Zara begitu perhatian kepadanya.
"Nggak apa-apa sayang, bentaran juga kok perginya," kata Aven dengan lembut.
"Yaudah mas Aven, yuk berangkat. Pamit dulu ya mbak," ujar Zidan langsung menarik tangan calon kakak iparnya tersebut.
"Eh ne anak emang nggak ada sopan-sopannya yak!" teriak Zara kepada sang adik yang mulai tengil.
"Mbak siapin aja sambel yang dan nasi lalapan yang enak buat kita makan malam nanti," kata Zidan sebelum menghilang dari balik pintu utama.
Aven sempat melambaikan tangannya kepada Zara sekilas.
"Biarin aja mereka keluar, Ra. Kamu bantuin bunda aja ngurusin taman sini," ajak bunda Nia dan Zara pun mengangguk mendekati sang bunda.
Sedangkan sang ayah sudah pergi ke kantor karena ada meeting yang tidak bisa ditinggalkan.
"Banyak bener tanaman hias yang dibawa bang Aven. Ternyata banget emang itu orang mau menarik perhatian calon mertua," celetuk Zara dan sukses membuat bunda Zara tertawa mendengarnya.
"Baru kali ini ada cowok ngapelin kamu nyogoknya pakai tanaman hias ya. Nggak tanggung-tanggung lagi belinya," gelak tawa kembali terdengar.
"Iya bun, aku juga nggak habis pikir dengan apa unha dilakukan bang Aven. Kenapa dia bisa kepikiran nyogok bawain tanaman hias ya?" zara mengeleng-gelengkan kepalanya.
"Sepertinya dia begitu menyayangi kamu nak," kata bunda sambil menatap sang putri.
Zara menyelipkan anak rambut ke belakang telinganya.Dia tampak malu-malu mendengar pendapat sang bunda tentang kekasihnya.
"Terlepas dari statusnya, ayah dan bunda tidak masalah. Yang terpenting dia mencintai dan menyayangi kamu dengan tulus. Dan begitu pula sebaliknya. Apa yang membuat kamu bahagia maka itulah yang akan kami sebagai orang tua terima pinangannya," jawab bunda Nia.
Zara tersenyum," terimakasih banyak bunda."
✨✨
Menjelang makan malam. Zara tampak sedang sibuk di dapur dengan sang mama. Sambil berusaha menghubungi nomor handphone sang kekasih dan adiknya. Tetapi tidak ada yang menjawab panggilannya sama sekali.
"Ini neh yang bikin aku males kalau bang Aven ikut sama Zidan. Anak itu suka nggak tau waktu deh. Apalagi lagi hujan deras begini di luar. Bibik beneran tadi lihat mereka keluar pakai motor? bukan mobil?" tanya Zara khawatir.
"Iya mbak Zara, tadi mereka keluarnya bawa motor," jawab bibik melaporkan apa adanya kepada putri majikannya.
"Hmmm....mana hujan deres banget lagi di luar," panik Zara takutnya keduanya terjebak hujan pas pulang dari kolam ikan milik sang ayah.
Ya, ayah Zara memiliki kolam ikan yang banyak. Dan budidaya ikan tersebut dikelola oleh Zidan, sang adik. Mereka pergi ke sana karena pengen ngambil beberapa ikan segar untuk diolah sebagai santapan makan malam kali ini.
Zara yang tidak sabaran langsung menuju ke teras depan rumah menanti kedatangan dua lelaki yang disayanginya tersebut.
Bremmm
Bremmm
Brremmm
Terdengar deru motor yang berjalan dibayar guyuran derasnya hujan. Zara hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan keduanya yang malah hujan-hujanan.
"Astaghfirullah hal adzim, Abang, Zidan," Zara bergegas menghampiri keduanya yang tampak basah kuyup di garasi.
"Hujannya yang salah mbak. Datang tiba-tiba pas kita lagi di tengah perjalanan. Jangan salahkan Zidan yak. Aku kasih ikan segar ini ke bunda dulu deh," kata Zidan langsung ngacir masuk ke dalam rumah begitu melihat sorot mata tajam sang kakak mendatanginya.
"Abang juga mau-maunya diajak keluar Zidan naik motor. Kenapa tadi nggak bawa mobil aja," ujar Zara yang kasihan melihat Aven yang basah kuyup seperti itu.
"Ya, mana tau sayang kalau bakalan hujan deras begini. Tadi juga cuacanya cerah-cerah aja," balas Aven sambil mengusap wajahnya yang basah oleh air hujan.
"Ya udah gih, Abang mandi dulu. Aku bikin air teh hangat nanti ngobrol lagi di ruang keluarga ya," ajak Zara dan Aven mengangguk dengan semangatnya.
Aven bergegas menuju ke kamar tamu yang sudah dipersiapkan untuknya. Karena ayah Bima tidak mengijinkan Aven tinggal di hotel. Dan Aven senang banget malahan karena dia bisa lebih dekat dengan Zara kalau berada satu rumah dengan sang kekasih.
❤️❤️❤️
TBC