
Hari ini adalah hari yang menyedihkan buat mika. Dia harus menepati janjinya untuk kembali ke London bersama dengan kedua orang tuanya. Keduanya sepakat untuk tidak menjodohkan mika asalkan gadis itu menurut dan mau mengurusi perusahaan milik sang papi.
Beberapa anggota keluarga Maheswara mengantarkan kepergian Mika dan juga keluarganya. Ada mama Alin dan juga Zara yang ikut mengantarkan mika, Papi dan juga maminya di bandara.
"Aku pasti kangen banget sama Oma," ucap mika dengan wajah sedihnya. Dia memeluk mama Alin dengan begitu erat.
"Begitu juga Oma sayang," mama Alin mencium kening, dan kedua pipi cucunya yang sudah remaja tersebut. Dia menepuk kedua bahu mika dan menghela napasnya panjang.
"Nanti kalau kamu sudah selesai kuliah, main-main ke Indonesia ya. Rumah oma dan opa terbuka lebar buat kamu datang kapanpun sayang," ucap mama Alin dan itu semakin membuat mika terharu. Dia memeluk Omanya dengan sangat sayang. Memang perhatian Oma alin dan opa Tomo begitu besar buat mika selama ini.
"Kak Zara...." kini mika beralih kepada Tante barunya tersebut.
Meskipun Zara sudah menikah dengan om nya, Aven Maheswara. Akan tetapi mika tetap memanggil Zara dengan sebutan kakak.
Zara membalas pelukan mika. Dia mengelus rambut panjang gadis cantik tersebut.
"Kamu belajar yang baik ya. Kalau sudah lulus mainlah ke sini. Rumah kamu juga terbuka buat kamu," ucap Zara dengan tulus.
"Aku doakan Kak Zara cepat isi baby om Aven junior. Biar nanti pas aku ke sini. Aku udah bisa bermain dengan para sepupu kecilku," kata mika dengan mengusap lembut perut Zara.
"Aamiin, nanti bisa jadi teman main bareng ya," balas Zara sambil terkekeh. Mika pun menanggapinya dengan tawa.
Setelah semuanya berpamitan, kini tibalah saatnya mereka bertiga masuk ke dalam ruang tunggu. Ketiganya berjalan setelah beberapa kali melambaikan tangan kepada mama Alin dan juga Zara. Mika beberapa kali menoleh ke belakang. Dia berharap ada seseorang yang ingin dia lihat datang mengantarkannya ke bandara. Akan tetapi sepertinya tidak mungkin. Dia benar-benar menjauhi mika. Dengan alasan yang sama.
Padahal mika tidak pernah mempermasalahkan tentang status antara dia dan juga mika. Apalagi masalah usia keduanya yang terpaut jauh. Akan tetapi sepertinya cinta yang mika rasakan hanya bertepuk sebelah tangan. Mika tidak pernah melihatnya sebagai seseorang yang berbeda. Mika melihat ketulusan yang pernah dia tunjukkan kepadanya.
"Dia benar-benar tidak datang," ucap mika lirih menahan sesak di dada. Padahal dia berharap sekali saja bisa melihat asisten Dion berada di bandara saat ini. Akan tetapi rupanya itu hanya angan mika yang terlalu tinggi. Hanya mampu mengagumi tanpa bisa memiliki.
Selamat tinggal Indonesia. Selamat tinggal juga buat kamu. Entah kapan aku akan kembali lagi kemari.
......................
Perusahaan MH.
"Masuk."
Ceklek.
Monika menghela napasnya kasar melihat keberadaan asisten Dion di perusahaan. Dia duduk di kursi depan meja kerja asisten dingin dan datar tersebut.
"Kamu beneran nggak ngantar dia di bandara?" tanya monika to the point.
Padahal Monika sudah sering menegur kelakuan dari teman baiknya itu. Akan tetapi sepertinya hanya sia-sia saja.
"Biarkan saja," balas asisten dion sambil tetap fokus mengoreksi beberapa berkas penting yang harus dia berikan kepada atasannya.
Lagi-lagi Monika menghela napas panjang. Dia sudah tidak tahu harus berbicara apa lagi.
"Baiklah, aku sudah berusaha mengingatkan kamu," ucap Monika kemudian beranjak dari duduknya.
Brakk.
Setelah Monika keluar dari ruangan asisten Dion. Tampak lelaki itu menghirup udara dan mengembuskannya secara kasar. Dia berdiri dan menatap keramaian kota dari balik kaca jendela ruang kerjanya. Menatap langit biru yang polos tanpa awan yang menghiasinya.
Maafkan aku mika....
❤️❤️❤️
TBC