
Tok
Tok
Tok
"Mbak.... "
Tok
Tok
Tok
"Mbak Zara!" panggil Zidan sekali lagi karena sedari tadi tidak ada sahutan dari sang kakak
"Kayaknya masih tidur neh?" gumam Zidan sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Tapi di luar ada calon kakak ipar. Bagaimana ngomongnya sama bunda neh? Haiiishhh... bangunkan aja lah, daripada kena omel sama bunda," lagi-lagi Zidan berbicara pada dirinya sendiri.
Sepertinya Zidan memilki sebuah ide untuk mengerjai kakaknya pagi ini. Zidan tersenyum penuh arti. Dia akan membuat pagi kakaknya semakin seru hari ini.
"Mbak ada tamu di depan. Bangun mbak! Bunda sudah nungguin dari tadi lho mbak," teriak Zidan kali ini lebih keras lagi.
Rupanya teriakan itu terdengar oleh Zara yang masih terlelap.
Tok
Tok
Tok
"Siapa sih pagi-pagi sudah bangunin saja," ujarnya menggerutu turun dari ranjang queen size nya.
Zara yang masih mengantuk berusaha berjalan mendekati pintu kamarnya. Dia mendengar suara Zidan, sang adik, yang masih berteriak-teriak sedari tadi.
"Mbak! Mbak!" panggil Zidan kembali sambil terus mengetuk pintu kamar Zara.
"Iya dek, tunggu sebentar," sahut zara dengan suara serak habis bangun tidurnya.
Ceklek.
"Ada apa sih dek? rame banget sih, masih pagi juga ini," ujar Zara sambil menguap. Padahal jam juga masuk menunjukkan pukul enam pagi kenapa juga si adik malah sudah panik membangunkannya.
"Hah? Tamu? Sepagi ini? Siapa sih?" tanya Zara yang tidak habis pikir ada orang bertamu di pagi buta seperti ini.
"Siapa sih dek?" tanya Zara kembali sambil berjalan menuju ke lantai dasar rumahnya.
"Sudahlah, kakak nanti juga akan tahu sendiri," jawaban dari Zidan justru membuat Zara semakin penasaran dibuatnya.
"Eh, kok sepi? Dimana emang tamunya?" tanya Zara yang tidak menemukan siapapun di ruang tamu.
"Siapa bilang tamunya ada di sana, Kak? Dia ada di taman sama bunda dan ayah," ujar Zidan langsung berjalan menuju ke taman milik bundanya.
"Hah? Ini kok aneh sih? tamu sepagi ini nemuinnya di taman bukan di ruang tamu?" Zara mempercepat langkahnya karena dia juga penasaran dengan siapa yang datang ingin menemuinya sepagi ini.
"Itu dia orangnya," ucap Zidan sambil menunjuk seseorang yang sedang bercengkrama dengan ayah dan juga bundanya.
"Astaghfirullah, bang Aven? Sepagi ini dia sudah datang kemari?" pekik Zara tidak menyangka jika sang kekasih nekat datang sepagi itu ke rumah kedua orang tuanya.
"Ya ampun," Zara teringat jika dia belum cuci muka sehabis bangun tidur. Apa kabarnya dia akan menemui Aven dengan wajah baru bangun tidur dan juga pakaian ala kadarnya begitu.
"Eh, mau kemana kamu kak?" pertanyaan Zidan yang lumayan kencang membuat atensi tiga orang yang berada di taman langsung teralihkan.
Aven yang melihat sosok Zara di depan pintu langsung saja tersenyum bahagia. Dia sudah merindukan kekasihnya itu sampai membuatnya tidak bisa tidur dengan nyenyak. Itulah sebabnya dia nekat berangkat tengah malam untuk langsung meluncur ke kediaman sang calon mertua.
"Nah, itu Zara nya sudah bangun," ujar bunda Nia menunjuk ke arah kedua anaknya berada.
"Zara, Zidan, kemari nak," panggil ayah Bima kepada kedua anaknya.
Sang ayah melambaikan tangannya mengajak kedua anaknya ikut bergabung bersama mereka bertiga.
"Aduh, kamu saja duluan, dek. Mbak mau ganti baju dulu ke kamar. Penampilan mbak awut-awutan ini ihhhh," tolak Zara saat Zidan menarik paksa tangannya agar menemui kedua orang tuanya.
"Sudahlah mbak, mbak ayu kok. Wes talah mbak. Nggak usah salah tingkah ngunu. Wes ayu wes ayu," tarik Zidan yang membuat Zara ingin menangis rasanya.
Dia yang belum ada persiapan apapun ketemu dengan kekasihnya yang tampak ganteng banget pagi itu. Dan juga Zara sempat melihat senyuman Aven saat tatapan keduanya bertemu. Bagaimana hal itu tidak membuat Zara semakin salah tingkah dibuatnya.
Aduh, malu banget, mana belum gosok gigi pula. Aduh....ini semua gara-gara Zidan! Batin Zara kesal.
❤️❤️❤️
TBC