
Seminggu setelah kejadian aksi teror tersebut.
Aven baru saja pulang dari kantor. Dia pulang untuk malam siang di rumah. Sudah menjadi hal yang wajib dia lakukan untuk makan siang di rumah. Karena letak kantor juga tidak jauh dari rumah baru mereka.
Laki-laki berstatus suami Zara Salsabila tersebut bergegas naik ke lantai atas. Dengan langkah cepat dia menaiki satu persatu tangga hingga sampai di depan pintu kamarnya.
Sepi.
Aven mencoba mendengarkan suara di selama tetapi hanya sepi yang dia dengar.
Aven mencoba membuka perlahan pintu kamarnya. Dia bermaksud memberikan kejutan kepada anak istri tentunya. Saat Aven membuka pintu kamar mereka. Dia melihat Zara sedang asyik membaca sebuah majalah di sofa.
Dengan langkah pelan Aven berjalan ke arah wanita yang sudah sah menjadi istrinya itu. Zara yang sedang fokus membaca pun tersentak kaget saat merasakan dua buah tangan melingkar di perutnya. Karena posisi Zara membelakangi pintu jadinya dia tidak mengetahui kalau sang suami sudah datang.
"Abang."
"Lagi baca apa sih sayang, serius banget?"
Zara menoleh dan mendapati suaminya meletakkan dagu dibahunya. Zara membelai wajah tampan suaminya dari samping dan mengecup ujung hidung suaminya itu.
Aven justru tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan istrinya yang menyebut dirinya bak artis ibukota. Karena gemas dengan ulah sang istri. Aven pun menghujani banyak kecupan di wajah sang istri. Bahkan tidak ada celah sedikitpun dari wajah Zara yang tidak terkena kecupan maut ala-ala Aven. Bahkan majalah ibukota yang memuat tentang dirinya sudah Aven lemparkan entah kemana. Sebenarnya Aven lebih senang dirinya tidak dikenal oleh orang. Cukup usahanya saja yang lancar dan berjalan dengan baik.
"Abang, muka aku basah lho ini. Ya ampun, lepasin nggak!"
Zara mengusap pipinya yang sengaja dijilat oleh Aven karena keisengannya. Benar-benar suaminya itu sampai membuat wajahnya basah seperti ini. Karena kesal Zara pun menimpuk suaminya dengan bantal sofa yang ada di sana. Keduanya pun akhirnya perang-perangan bantal dengan bertubi-tubi. Sampai pada akhirnya tubuh keduanya terjungkal ke bawah saking hebohnya peperangan yang dilakukan.
Keduanya pun terkekeh karena merasa seperti anak kecil saja. Tingkah laku mereka sungguh tidak mencerminkan usia mereka saat ini. Tetapi Aven merasa sangat senang karena menemukan sosok pendamping yang bisa membuatnya tertawa lepas seperti Zara. Kebahagiaan itu bisa mereka dapatkan hanya dengan main perang-perangan bantal sofa. Sesederhana itu saja.
Aven menangkup wajah zara dan mendekatkan kening keduanya. Dia mencoba merasakan kehangatan pada tubuhnya dan juga tubuh Zara. Aven membuat kedua matanya dan langsung bertatapan dengan mata Zara yang teduh dan menenangkan tersebut. Istri yang mampu menjinakkan seorang duda yang pernah terluka di masa lalunya. Seseorang yang mampu mengobati segala kekecewaan yang pernah di milikinya. Trauma yang sempat dia pikir tidak mampu dia sembuhkan. Zara adalah cahaya dalam kegelapan hidupnya.
"Selalu seperti ini ya sayang. Jangan pernah berubah. Abang menyukaimu karena apa adanya dirimu. Abang akan selalu mencintaimu sampai nanti. Kita akan bersama selamanya dengan anak-anak kita nanti. Ingatkan abang jika Abang mulai salah dalam melangkah. Abang juga manusia biasa. Abang butuh kamu untuk melengkapi kehidupan Abang ini. Hanya kamu Zara, tidak ada yang lainnya lagi."
❤️❤️❤️
TBC