
"Abang yakin mau masuk kerja?"
Zara memasangkan jas warna hitam pada Aven. Tampaknya suaminya itu sedang kurang sehat. Pagi tadi mereka batal nakal gegara Aven yang mendadak mual-mual. Bahkan Zara sampai panik karena suaminya itu mendadak sakit. Sampai wajah Aven tampak pucat karena bolak-balik ke kamar mandi.
"Aku nggak apa-apa kok yank, kamu tenang aja ya."
Zara mendesah pasrah pada keputusan Aven. Nyonya Maheswara itu hanya menganggukkan kepalanya pasrah.
"Ya udah hati-hati, kalau di kantor merasa masih merasa mual terus. Jangan dipaksa kerja ya. Lebih baik kita periksain kondisi Abang," ucap Zara.
"Kamu yang harusnya banyak istirahat yank."
"Aku udah nggak apa-apa Abang. Bukannya udah tiap hari juga dibolak-balik kek goreng tempe. Pagi tadi aja yang enggak gegara abang masuk angin. Kalau enggak juga udah gituan lagi," sungut zara.
Aven tersenyum tipis mendengar ucapan Zara. Tangannya terulur mengusap lembut kepala wanita yang berstatus sebagai istrinya itu.
"Ya harus semangat yank bikinnya. Kan kita kejar program sembilan bulan terus. Ngomong-ngomong udah tumbuh belum ya dia? Padahal aku udah nyiramin tiap hari deh."
Plak!
Zara menepuk keras pundak Aven. Si mantan duda itu meringis karena pukulan Zara begitu keras di bahunya.
"Sakit lho yank, tangan kamu ada apanya sih kok panas banget."
"Kalau ngomong difilter dulu bang, kebiasaan deh."
Zara yang memukul bahu itu. Dia juga yang mengelusnya dengan lembut agar suaminya tidak merasa sakit lagi. Bahkan Zara mendusel-duselkan hidungnya di pundak Aven karena gemas dengan tingkah suaminya.
"Yank, kamu pengen buat aku nggak jadi pergi ke kantor neh."
Ucapan Aven seketika membuat Zara menghentikan aksinya. Ia menatap horor laki-laki yang berstatus sebagai suami tersebut.
"Ya udah Abang berangkat kerja gih, keburu siang."
"Siangan juga nggak apa-apa yank. Kan aku pemilik perusahaannya."
"Hati-hati ya sayang," ucap Zara. Namun Aven justru terdiam dan nampak memanyunkan bibirnya.
"Cuma pipi aja neh yank. Si bibir cemburu loh."
Zara memutar kedua bola matanya malas. Ini mulai kambuh drama cap cip cup ala suaminya.
"Nanti kesiangan bang," tolak Zara karena dia tahu ini bakalan panjang urusannya kalau diturutin.
"Ayolah yank, masak nggak mau sih. Tadi pagi kan gagal yank," pinta Aven dengan wajah memelas.
Zara pun tak kuasa menolak permintaan suaminya. Apalagi dengan wajah sang suami yang rasanya pengen Zara karungin saja.
Cup
Zara mengecupnya singkat.
"Lagi yank?" pinta Aven sambil memanyunkan bibirnya ke arah Zara.
"Ayolah yank, biar tambah semangat ini Abang kerjanya," pinta Aven sekali lagi dan lagi-lagi Zara menuruti apa permintaan suaminya itu.
Namun bukan hanya sekedar ciuman biasa yang Aven mau akan tetapi juga ciuman yang dalam dan menuntut membuat Zara hampir kehabisan napas karena ulah suaminya itu.
"Udah, yuk berangkat," ajak Zara setelah Aven melepaskan ciumannya. Zara tidak mau nantinya mereka berakhir di ranjang.
Akan tetapi tiba-tiba saja kepala Aven merasa berputar-putar. Ia merasa pusing dan gelap seketika menyerangnya. Dan mendadak dia tidak mampu melihat sang istri. Hanya terdengar suara teriakan Zara saja yang tampak panik dengan kondisinya.
"Abaaaaaaaangg!"
❤️❤️❤️
TBC