Kepentok Cinta Abang Duda

Kepentok Cinta Abang Duda
Episode 93



"Apa?!!! Rumah sakit?" Pak Tomo begitu terkejut saat mendapatkan telepon dari asisten Dion yang menyatakan bawah sekarang Zara sedang dilarikan ke rumah sakit karena kecelakaan dan mengalami pendarahan.


Mama Alin yang sedang asyik menikmati makan siangnya langsung menghampiri suaminya.


"Ada apa sih pa? Kok papa sampai berteriak begitu. Siapa yang sakit emangnya?"


Pak Tomo mematikan sambungan teleponnya dan langsung menoleh melihat sang istri.


"Aven sekarang sedang dalam perjalanan ke rumah sakit, Zara mengalami kecelakaan dan dan juga pendarahan sehingga dibawa ke rumah sakit segera."


"A-apa," tiba-tiba saja mama Alin merasa pusing dan sesak seraya memegangi bagian dada sebelah kirinya.


"Ma, tenang dulu. Jangan membuat papa semakin panik," ucap pak Tomo sambil menahan sang istri yang hampir saja terjatuh.


"Ayo pa, antarkan mama ke rumah sakit, sekarang!"


......................


"Kondisi janinnya sangat lemah dan benturan yang terjadi saat kecelakaan membuatnya tidak bisa diselamatkan lagi. Pendarahan akan terus berlangsung. Kira harus segera mengoperasinya. Maaf Pak Aven, kami tidak bisa menyelamatkan nyawa janin dalam kandungan istri bapak," kata dokter kandungan yang menangani Zara tersebut. Meskipun sebenarnya begitu berat untuk menyampaikan hal ini.


Sekujur tubuh Aven bergetar hebat. Ia tidak menyangka jika hal ini akan terjadi. Dokter kandungan tersebut masih terus menjelaskan mengenai kondisi Zara . Sedangkan dr Mario, sepupu Aven mencoba untuk menguatkan saudaranya. Namun suara keduanya sudah tak lagi terdengar di telinga Aven.


Isi kepalanyanya hanya dipenuhi bayangan hitam kelabu tanpa ada lagi harapan yang tersisa. Iya berharap semua ini hanyalah mimpi. Ya, mimpi buruk yang harus segera dan ingin ia akhiri.


"Kapan operasinya dilakukan?" tanya Aven tiba-tiba.


"Setelah bapak menandatangani surat perjanjian ini sebagai suami dari pasien," ucap sang dokter.


Ya Allah kenapa harus anak dan istriku seperti ini, batin Aven.


"Bang, semua ini demi keselamatan kak Zara," lirih Mario sambil menguatkan kakak sepupunya tersebut.


Aven meraih kertas tersebut dan menandatanganinya sambil menghapus air matanya. Akhirnya air mata yang sejak tadi tertahan kini mengalir deras meski tanpa suata. Namun kacaunya hati amat jelas terlihat dari raut wajah Avne. dr Mario dan dr Nisa tampak menengadahkan wajahnya ke atas. Mencoba menghela napasnya panjang. Mereka juga sedih melihat musibah yang menimba pasangan suami istri tersebut.


Kedua dokter tersebut langsung bertindak menyelamatkan nyawa Zara. Aven hanya mengusap wajahnya dengan kasar dengan tatapan matanya yang kosong. Dia melangkah lemas dan terduduk di depan ruangan operasi.


Aven masih tidak percaya semua yang terjadi. Kenapa dia bisa tidak mengetahui jika Zara sedang hamil. Lalu kini janin itu harus hilang dari rahim sang istri karena dia yang tidak bisa menjaga keselamatan mereka berdua. Bagaimana bisa dia tidak mengantisipasi semua kejadian ini. Dia seharusnya sudah bersiaga karena nyawa Zara pastilah yang diincar oleh mantan istrinya yang gila tersebut


Bug


Bug


Bug


Bug


Bug


Aven kembali menyalahkan dirinya sendiri yang telah lalai menjaga sang istri dan juga anaknya. Bagaimana nantinya dia akan mengatakan semua ini kepada zara. Tentu saja Zara akan sangat sedih mendengar berita duka ini. Karena dia tahu jika Zara juga menginginkan hal yang sama dengannya.


"Maafkan Abang yank, abang nggak bisa jaga kalian dengan baik. Ini semua salah Abang yank. Maafin Abang yank," ucap Aven sambil berlinang air mata.


Asisten Dion yang melihat seberapa hancur atasannya tersebut hanya bisa terdiam dan tertunduk. Dia juga ikut merasakan kesedihan yang dialami oleh tuan mudanya tersebut.


Tap


Tap


Tap


"Dion, mana Aven?" terdengar suara mama Alin yang datang tergopoh-gopoh ke rumah sakit. Dengan Pak Tomo yang berada di sisi sang istri. Dia takut terjadi apa-apa dengan istrinya.


"Tuan muda di sana nyonya," tunjuk asisten Dion ke arah dimana Aven masih terduduk di depan pintu ruangan operasi.


"Ya Allah nak," mama Alin langsung menghambur ke arah putranya dan memeluknya dengan erat.


Melihat betapa hancurnya wajah sang anak. Pak Tomo bisa menyimpulkan bahwa sesuatu yang buruk sedang terjadi.


"Ven, bagaimana keadaan Zara, nak? Dia baik-baik saja kan? Dia..."


"Zara keguguran ma, kami kehilangan calon anak kita ma," tutur Aven lirih membuat mama Alin membulatkan kedua matanya dengan sempurna. Ucapan sang putra terngiang-ngiang di telinganya dan membuat dia seketika merasakan pusing yang berputar-putar. Lalu tak lama kemudian.


Brug!


"Mama!"


❤️❤️❤️


TBC


🤧 Maapkeun ya😭 jangan teror aku💨💨tapi kalau mau kecup boleh💨 hari ini up cuma satu aja ya, banyak kerjaan Oey🤧 masih oleng aku, kaga ada support ayank 🤐