
Hufffff
Azka menghela napas panjang setelah berhasil menyingkirkan wanita tidak tau malu itu keluar dari perusahaan.
Hahahaha
Azka tertawa terbahak-bahak karena dia sudah bebas sekarang dari belenggu lintah seperti Widia. Meskipun dia sendiri juga merasakan bahwa peran Widia juga besar selama ini memenuhi kebutuhannya. Akan tetapi Azka tidak ada niatan untuk menikahi wanita itu.
Karena Azka sudah tidak membutuhkan Widia lagi. Dia lebih membutuhkan mantan kekasihnya karena kedua orang tuanya lebih menginginkan Zara untuk menjadi istrinya.
Drrttt Drrtttt
Azka melihat panggilan teleponnya. Dia segera menggeser tombol hijau di handphonenya.
"Ya."
"Dia sudah kembali tuan muda. Dan mulai hari ini sudah bekerja kembali di perusahaan MH."
"Baiklah, terus awasi."
"Baik, tuan."
Klik.
Azka tersenyum smirk mendengar kabar membahagiakan tersebut.
"Zara, kita akan segera bertemu kembali, sayang."
✨✨
Tok
Tok
Tok
"Masuk."
Ceklek.
Aven mendongak melihat siapa yang datang. Dan ketika wajah seseorang yang dia rindukan yang muncul dari balik pintu. Seketika membuat pimpinan MH tersebut membereskan pekerjaannya. Dia tahu kedatangan tunangannya itu untuk apa di siang hari tersebut.
"Selamat siang Abang, sudah waktunya makan siang. Aku akan menyiapkannya dulu ya," ujar Zara membuat senyuman dibibir Aven terus saja mengembang tanpa dia sadari.
"Iya sayang, Abang juga sudah sangat lapar," jawab Aven sambil bergegas menggulung lengan kemejanya. Kemudian segera duduk di sofa menunggu Zara yang sedang menyiapkan makanan mereka di meja dan juga mengambilkan minuman untuk Aven.
Sungguh calon istri yang sempurna. Aven bersyukur mendapatkan Zara yang begitu sempurna baginya. Aven menatap penuh puja kepada sang calon istri. Namun gadis yang dia tatap justru sibuk menyiapkan keperluannya makan siang.
Greeep
"Abang!" pekik Zara saat tiba-tiba sang calon suami memeluk tubuhnya dari belakang. Bukan hanya itu, Aven juga meletakkan dagunya di bahu Zara membuat gadis itu mampu merasakan hembusan napas lelaki tersebut mengenai lehernya.
"Abang, ini di kantor, lepasin, nanti kalau ada yang tiba-tiba masuk bagaimana?" pinta Zara yang merasa tidak enak karena mereka sedang berada di kantor sekarang.
"Rasanya aku pengen makan kamu saja. Habisnya kamu cantik banget sayang."
"Aduh, sayang," sebuah cubitan langsung dilayangkan oleh Zara mendengar ucapan sang tunangan.
"Jangan membayangkan yang macam-macam Abang. Kita belum sah," ucap Zara mendelik menyembunyikan wajahnya yang sebenarnya merona saat ini.
"Oh jadi kalau sudah sah nggak apa-apa ya kalau aku pengen makan kamu?" pertanyaan yang semakin membuat Zara merasa geli mendengarnya.
"Ih Abang, sudah ayo segera makan. Nanti masakan aku keburu dingin lagi ini. Nggak enak kalau dimakan," ajak Zara menyudahi drama sang calon suami.
Cup
Sebuah kecupan mendarat di pipi Zara membuat gadis itu sempat mematung. Namun dia segera mampu menguasai dirinya. Astaga, duda satu ini memang meresahkan, keluh batin Zara.
"Suapin Abang ya sayang," pinta Aven dengan nada manja membuat Zara menahan tawanya.
Kenapa duda kutub selatan ini makin kesini makin jadi semanja itu kelakuannya. Astaga, kalau para karyawan tahu sikap dia yang seperti ini. Apa tidak akan menjadi bahan pembicaraan nantinya.
"Hmmm, manja banget sih sayangku ini," ucap Zara gemas sambil mencubit pelan pipi sang kekasih.
"Sayang, jangan memancingku," ucap Aven sambil memanyunkan bibirnya dengan perlakuan Zara barusan.
"Ih, Abang kenapa manyun-manyun gitu. Bikin gemes aja deh," sahut Zara sambil tergelak melihat kelakuan Aven.
"Kalau gemes peluk gih," sahut Aven merentangkan kedua tangannya.
"Astaga Abang, udah ayo makan dulu sini aku suapin, a a a," ujar Zara seperti menyuapi makan anak kecil saja.
Tetapi Aven langsung menyambut uluran tangan Zara. Dia justru makan dengan begitu lahapnya masakan Zara sendiri yang memang sudah dipersiapkan gadis itu dari rumah. Dia sengaja masak untuk bekal Aven makan siang. Karena sejak hari ini Aven akan selalu makan siang dengan masakan Zara sendiri. Masakan buatan Zara memang sangat enak.
"Sayang, kamu juga makan dong," ujar Aven sambil menyendokkan nasi dan juga lauk kemudian balik menyuapi calon istrinya.
Zara tersenyum melihat perhatian yang diberikan oleh sang tunangan.
"Lebih enak kalau kita makan sepiring berdua gini ya," ujar Aven sambil menikmati masakan yang ada di mulutnya.
"Seperti lagu saja sepiring berdua," celetuk Zara.
"Tenang saja sebentar lagi akan lebih dari ini. Setelah kita menikah nantinya," sahut Aven.
"Ih Abang mulai deh."
"Kalau mulainya sama kamu nggak apa-apa. Karena cintaku hanya akan berhenti di kamu aja."
"Iiidihhhh gombal!" ujar Zara sambil mencubit pelan lengan Aven.
Duda ganteng itu justru tertawa melihat wajah Zara yang sudah merah merona mendengar gombalan-gombalan yang dia lontarkan.
❤️❤️❤️
TBC