Kepentok Cinta Abang Duda

Kepentok Cinta Abang Duda
Extra Part 3



"Bunaaaaaa, kak Pavel eek di celana!"


Teriakan Velfa membuat bunda Zara langsung berlari menghampiri kedua anak kembarnya. Zara segera memeriksa kondisi anak pertamanya yang tampak baru berhenti menangis tersebut.


"Ya ampun kak, kan sudah bunda bilang kalau mau pup ngomong. Jangan langsung dikeluarin aja."


Bunda Zara langsung berjongkok dihadapan Favel yang mulai berurai air mata. Sedangkan adik perempuannya, Velfa hanya mengedikkan bahunya melihat sang kakak sedang diurus oleh bundanya.


"Tadi Pavel mau minta anterin Pelva ke kamar mandi. Tapi dianya nggak mau Bun...."


"Ya kakak Pavel kalau di kamar mandi suka lama. Aku capek nunggunya buna," sahut Velfa tidak mau kalau berdebat di hadapan sang bunda.


Zara hanya bisa menghela napasnya lemah. Namun dengan lembut Zara menuntun Favel ke dalam kamar mandi yang ada di kamar Favel. Ya, sekarang dua bocah gembulnya itu sudah tidur terpisah. Favel dan Velfa sudah ingin memiliki kamarnya masing-masing. Karena itulah Aven sengaja mendekorasi ulang kamar di rumahnya. Sesuai dengan permintaan sang anak. Mempunyai dua anak kembar yang sama-sama biang rusuh saja sudah membuat Zara pusing setiap harinya. Ada saja tingkah laku mereka.


"Hei, putri kesayangan ayah, lagi apa nih? Kok diem sendirian di sini?"


Velfa memutar kepalanya saat mendengar suara seseorang dari arah belakangnya. Ternyata itu ayah Aven yang terlihat baru pulang dari kantor.


"Pelva lagi ngerjain pe-el ayah."


Ayah Aven hanya tersenyum bangga mendengar ucapan putrinya yang manis dan cantik itu. Matanya menatap ruangan yang menjadi kamar pribadi Velfa satu tahun terakhir ini. Kamar bernuansa pink dan abu-abu yang menjadi warna kesukaan dari putrinya.


"Abang, sudah pulang? Kok aku nggak denger ya."


Aven yang sedari tadi fokus dan merasa nyaman di kamar putrinya. Tidak menyadari jika ada dua orang yang baru saja keluar dari kamar mandi di sana.


"Barusan kok yank. Lho ini kenapa jagoan ayah ada di sini. Kamu habis nangis ya nak? Kenapa sayang?"


Aven segera menghampiri Favel, putra sulungnya. Kakak kembar dari Velfa itu matanya tampak masih berkaca-kaca. Aven masih menunggu penjelasan sang putra yang tengah dipakaikan celana oleh sang bunda Zara. Barusan Zara ke kamar Favel untuk mengambilkan celana baru untuk putranya.


"Jagoan ayah habis mandi ya, seger bener baunya."


Pavel hanya menganggukkan kepalanya. Dia enggan menceritakan apa yang terjadi kepada sang ayah. Dia menatap sang adik kembar yang juga sedang menatapnya kali ini.


"Kak Pavel,"


Favel yang mendengar panggilan adiknya itu langsung merentangkan kedua tangannya meminta adik kembarnya itu masuk ke dalam pelukannya. Velfa pun langsung menghambur ke pelukan sang kakak kembar.


Sepasang suami istri itupun berpelukan, mengikuti kedua anaknya. Akan tetapi bukan Aven namanya jika hanya sekedar berpelukan. Wajah Zara sudah menjadi sasaran ciuman oleh suaminya.


"Makasih ya yank, kamu udah buat aku jadi laki-laki paling bahagia di dunia ini."


Zara tersenyum bahagia melihat Aven, suaminya, si mantan duren, tangannya terulur untuk mengusap lembut kepala laki-laki yang sudah menjadi ayah dari dua orang anaknya.


"Makasih juga sayang, sudah menjadikanku wanita yang paling berharga di dunia ini. Aku sayang Abang."


"Aku juga sangat sayang kamu yank."


Aven segera mempererat dekapannya pada Zara. Sembari mengecup seluruh permukaan wajah Zara. Dan tak lupa Aven mengecup bibir istrinya yang selalu membuatnya candu tersebut. Padahal masih ada kedua anaknya di sana. Aven selalu lupa tempat kalau sudah seperti itu.


"Abang!"


Zara memperingati kelakuan suaminya yang sudah mulai tak terkontrol itu. Sehingga mau tak mau Aven pun melepaskan pa-gu-tannya.


"Maaf yank, kalau sudah Deket sama kamu maunya khilaf terus. Pengennya itu lagi, lagi, dan lagi yank, aaaaawwww....."


Aven meringis saat Zara mencubit pinggangnya.


"Ngomongnya disaring bang, ada anak-anak itu," tunjuk Zara kepada dua bocil yang menatap mereka dengan bingung.


"Ayah kenapa?" tanya Vafel dengan wajah polosnya menatap sang ayah yang masih merasakan panas akibat ulah istri tersayangnya.


"Ayah nggak apa-apa sayang. Cuma tadi ada nyamuk besar yang gigit pinggang ayah. Nanti nyamuknya ayah karungin aja dan kasih hukuman biar nggak nakal lagi. Hukuman dobel," ucap Aven sambil menaik turunkan sebelah alisnya menatap sang istri. Zara hanya bisa menghela napasnya panjang melihat kelakuan suaminya.


END


END


END


Alhamdulillah udah ya sayang-sayangku semuanya. Extra Part nya sampai di sini. Makasih banyak udah dukung ceritanya dari awal sampai akhir. Yang udah kasih like, vote dan komentarnya juga makasih banyak.


Lope banyak-banyak buat kalian semuanya ❤️