
Tak terasa usia kandungan Maura kini sudah memasuki 5 bulan, terlihat perut yang dulunya rata, kini sudah mulai membuncit.
"Sayang mau ke mana?" tanya Jovian melihat sang istri beranjak dari sampingnya.
"Mau ke dapur mas, mau ambil buah" ucap Maura.
"Duduk sini aja biar mas yang ambil ya" ucap Jovian.
"Gak mas, aku gak suka duduk terus" keluh Maura minat sang suami.
"Ya sudah ayo aku bantu" ucap Jovian juga ikut beranjak menyusul sang istri.
"Ayo mas" ajak Maura.
Pasangan suami dan istri itu pergi ke ruang makan, dan Jovian langsung membuka kulkas melihat buah-buah yang ada di dalam.
Jovian melihat cuma ada melon sama buah apel, Jovian lalu melihat sang istri yang mendekat.
"Cuma ada melon sama apel sayang" ucap Jovian.
"Melon aja sayang" ucap Maura.
Jovian pun mengeluarkan buah melon dari dalam kulkas, lalu meletakan di atas meja. Jovian mengambil pisau dan mengupas buah melon itu.
Sedangkan Maura pergi mengambil piring dan garfu, dan air yang akan di gunakan mencuci buah, lalu meletakan di dekat sang suami.
Jovian langsing memotong-motong buah melon nya setelah di cuci, lalu meletakan di dekat sang istri.
"Mau makan di sini?" tanya Jovian.
"Di taman belakang aja mas" ucap Maura.
"Ya udah ayo, biar mas yang bawain ini" ucap Jovian membawa piring yang berisi melon yang sudah di potong-potong.
"Pelan-pelan sayang" ucap Jovian yang selalu memperingati sang istri.
"Iya mas ini udah pelan-pelan kok" jawab Maura.
Maura duduk di salah satu kursi, begitu pun dengan Jovian Maura mengambil garfu dan mulai memakan potongan melon yang sudah di potong-potong itu.
"Mas mau?" tawar Maura.
"Gak buat kalian aja" jawab Jovian melihat perut sang istri yang sudah mulai membuncit.
"Sayang papa kamu gak maka, kita aja ya yang habisin buah nya" ucap Maura mengusap perutnya mengunakan sebelah tangannya.
"Mas aku gendutan gak?" tanya Maura.
"Ya namanya juga lagi hamil sayang, ya pasti berisi lah badannya" ucap Jovian berhati-hati takut menyingung sang istri.
Tapi bukannya tersinggung, Maura malah memakan buah-buah itu dengan lahap, membuat Jovian menggeleng-geleng kepala di buatnya.
Jovian pun mendekatkan kursinya lebih dekat dengan sang istri, membuat Maura melihat sang suami dengan heran.
"Apa apa mas?" tanya Maura.
"Mas pengen ngelus perut kamu sayang" ucap Jovian.
"Kirain mas mau apa" ucap Maura tertawa melihat sang suami.
Jovian pun mulai mengelus perut buncit sang istri dari atas daster yang di kenakan oleh Maura.
"Sayang adek belu nendang-nendang ya" tanya Jovian.
"Belum mas, kan baru masuk bulan ke lima" ucap Maura.
"Gitu ya sayang" ucap Jovian.
Maura menghabiskan potongan-potongan buah melon yang di atas piring, sekarang piring itu sudah kosong. Maura melihat ke arah sang suami.
"Kenapa" tanya Jovian.
"Masuk yuk, aku cantik pengen tidur" ucap Maura, karena saat ini jam masi menunjukan pukul 1 siang.
"Ayo, siniin piringnya sama mas" ucap Jovian mengambil piring yang sudah kosong itu.
Pasangan suami dan istri itu pun pergi ke kamar mereka yang ada di lantai dua.
☘☘☘☘
Di sisi lain, Laura baru saja keluar dari kamar mandi. Sudah sedari pagi tadi ia merasakan pusing dan juga mual, tapi Laura tak mengatakan hal itu pada sang suami.
"Aduh kok kepala aku pusing banget ya" ucap Laura seorang diri.
"Apa aku telpon kak Tio aja ya" ucap Laura lagi.
Lagi-lagi Laura merasakan mual, Laura pun pergi ke kamar mandi untuk memuntahkan semua isi perutnya.
Owekk...
owekk...
"Ya Allah pusing banget" ucap Laura.
Setelah merasa tak mual lagi, Laura pun keluar dari dalam kamar mandi, dan merebahkan dirinya di atas ranjang, waktu saat ini masi menunjukan pukul setengah dua siang pasti saat ini sang suami masi sibuk bekerja di kantor.
Sedangkan di lantai bawa ibu sedari tadi menunggu sang menantu yang tak kunjung turun juga, padahal ini sudah lewat jam makan siang.
Ibu pun naik ke lantai atas untuk memanggil sang menantu, tiba di depan pintu kamar Tio dan Laura, Ibu langsung mengetuk pintu kamar mereka.
Di dalam kamar Laura yang mendengar sura ketukan pintu pun langsung bangun dari baring nya, dan langsung membuka pintu.
Laura melihat ibu berdiri di ambang pintu dengan wajah yang terlihat kuatir, bagaimana tidak ibu melihat wajah menantunya sangat pucat saat ini.
"Ibu" panggi Laura.
"Nak kamu kenapa, wajah kamu pucat banget" ucap ibu dengan kuatir.
"Aku gak papa kok bu, cuma pusing aja" ucap Laura sambil memaksa tersenyum.
"Kenapa kamu gak bilang ibu nak, ayo sekarang kamu baring dulu ya ibu ambilkan kamu makan siang, ini pasti karena kamu belum makan siang" ucap Ibu.
"Biar nant...." ucap Laura terhenti saat ibu kembali berkata.
"Udah kamu tunggu di sini aja ya, biar ibu yang ambil makan siang kamu" ucap Ibu lalu keluar dari kamar itu.
Laura memijit pelipis matanya dengan pelan, agar bisa menghilangkan rasa pusing yang ia rasakan saat ini, tapi tetap saja ras pusing itu tak mau hilang.
Tak lama kemudian ibu datang lagi dengan membawa nampang yang berisi makan siang untuk sang menantu, ibu meletakan nampan itu di atas meja nakas, lalu melihat sang menantu.
"Ayo ibu bantu suapin ya nak" ucap Ibu.
"Biar aku sendiri aja bu, aku gak enak sama ibu" ucap Laura.
"Udah gak papa, kamu itu lagi gak sehat jadi baring aja ga biar ibu yang suapin kamu" ucap ibu tersenyum melihat sang menantu.
"Makasih ya bu, ibu sudah baik banget sama aku" ucap Laura.
"Iya nak gak papa, kamu itu udah ibu dan bapak anggap anak sendiri, gak sekedar menantu saja" ucap Ibu.
"Sekali lagi makasih ya bu" ucap Laura lagi.
"Iya nak, udah gak usah sedih ayo makan kamu udah telat makan siang loh, nanti suami kamu bisa marah" ucap ibu.
"Iya bu" jawab Laura dan mulai membuka mulutnya dengan pelan dan Ibu pun menyuapinya sang menantu dengan pelan.
"Kepalanya masi pusing nak" tanya ibu.
"Iya bu masi pusing banget" ucap Laura.
"Ayo makan lagi habis itu kamu istirahat lagi ya, biar pusing kamu cepat hilang" ucap ibu kembali menyuapi sang menantu.
Suapan demi suapan masuk ke dalam mulut Laura, sampai makanan yang ada di dalam piring habis tak tersisa, lalu ibu meminta sang menantu istirahat.
Next...
Jangan lupa Like, Komen sama Vote ya guys...