Jovian & Maura

Jovian & Maura
Suasana Haru



"Lepas saya tidak bersalah lepaskan saya" teriak Martin tidak terima akan di bawa oleh pak polisi.


"Borgol mereka" perintah seorang polisi berpangkat tinggi.


"Awas kamu Faisal, kamu akan membayar semua ini" teriak Martin.


"Kami permisi dulu pak Faisal" ucap pak polisi.


"Iya pak, terima kasih belum nya pak" ucap pak Faisal.


"Sama-sama pak Faisal, mari" ucap polisi itu.


Seperti paro polisi yang membawa Martin, Maya dan para preman kini suasana haru pun terjadi di ruangan itu.


"Sayang" panggil Mama Ayu pada sang putra yang berada di perlukan Tio.


Laura melihat ke asal suara, dan bertapa kaget nya ia melihat papa dan mama nya sedang tersenyum berdiri tak jauh dari ia dan Tio.


"Papa, mama ini beneran kalian, Laura gak mimpi kan" tanya Laura.


"Gak sayang, ini beneran papa sama mama" ucap mama Ayu.


"Ma, pa" ucap Laura berlari memeluk kedua orang tuannya sambil menangis.


"Sayang, papa sama mama sangat rindu sama kamu" ucap mama Ayu.


"Alhamdulillah,, kalian masih hidup, Laura kira kalian udah pergi ninggalin aku" ucap Laura.


Papa Faisal memeluk sang putri dengan erat, putri yang ia rindukan selama du tahun ini, Papa Faisal mengatur rambut sang putri yang sangat berantakan itu sambil tersenyum.


"Sayang" mama Ayu kembali memeluk putri semata wayangnya itu dengan erat.


"Laura rindu kalian" ucap Laura.


Laura mama Ayu dan papa Faisal pun melihat ke arah semua yang ada di ruangan itu, Tio terlihat tersenyum pada sang gadis, membuat gadis itu menunduk malu.


"Laura" panggil Jovian.


"Kak, maaf ya selama ini aku udah ngerepotin kaka" ucap Laura merasa bersalah.


"Tidak apa-apa kaka senang bisa bantu kamu, karena kamu udah kaka anggap adik sendiri" ucap Jovian.


"Makasih kak Jo" ucap Laura.


"Kenalin ini istri kaka nama nya Maura" ucap Jovian memperkenalkan sang istri.


"Hay kak, aku Laura" ucap Laura mengulurkan tangannya.


"Maura, nama kita hampir sama ya hanya beda huruf depan saja" ucap Maura membalas uluran tangan Laura.


"Iya kak" ucap Laura.


"Kak, bi Yati kemana kok gak ada" tanya Laura.


"Bi Yati masi di apartemen nungguin kamu pulang" ucap Jovian sambil tersenyum.


"Kasian bi Yati, udah mau nemanin aku dan mau merawat aku" ucap Laura sedih, mengingat kebersamaan nya dengan bi Yati di apartemen.


"Nanti kita minta Bi Yati kerja di sini ya" ucap pak Faisal.


"Benar pa, makasih ya pa" ucap Laura dengan senang.


Saat ini kondisi Laura sudah terlihat lebih baik, karena melihat kedua orang tuanya baik-baik saja dan bertemu dengan pria yang ia sukai sejak kecil itu.


"Kak" panggil Laura pada Tio.


"Iya" jawab Tio.


"Pantes aja gue kaya pernah liat ni cewe ternyata di Laura, gadis kecil yang suka ngasi Tio roti di TK dulu" ucap Brian dalam hati, sambil melihat sang sahabat tersenyum kearah sang gadis.


"Pa, Ma kenalin ini nama nya kak Tio, kak Tio ini temannya Laura waktu TK dulu sebelum kita pindah ke Singapura" ucap Laura memperkenalkan Tio.


"Yang sering kamu ceritakan itu ya sayang" tanya mama Ayu.


"Om, tante nama saya Tio" ucap Tio memperkenalkan diri.


"Hay Tio" sapa Mama ayu dan papa Faisal.


Laura yang menyadari kalau saat ini penampilannya sedang acak-acakan pun sontak berdiri dari duduk nya, membuat semuanya yang ada di situ menjadi heran.


"Ada apa sayang" tanya mama Ayu.


"Ma, pa, semuanya Laura mandi dulu ya, penampilan Laura udah kaya orang sters heheh" ucap Laura berlari kecil ke arah kamarnya di lantai dua.


Semuanya yang ada di sana tertawa melihat tingkah gadis itu, apa lagi Tio yang di buat bengong karena sang gadis.


"Nak Jo terimakasih sudah mau menolong putri kami, kami berhutang budi pada nak Jo" ucap pak Faisal.


"Sama-sama pak Faisal, saya sudah menganggap Laura seperti adik saya sendiri" jawab Jovian.


"Kami doain semoga nak Jo dan istrinya cepat di kasi momongan sama Allah" ucap mama Ayu.


"Aamminn" ucup semua yang ada di situ.


"Makasih bu Ayu" ucap Maura.


"Sama-sama nak" ucap mama Ayu.


Di dalam kamarnya Laura baru saja selesai membersihkan dirinya, gadis itu melihat pantulan dirinya di cermin sambil tersenyum.


Laura mengambil gaun berwarna puti selutut, lalu memakainya membuat penampilan gadis itu terlihat sangat berbeda kali ini, tak lupa Laura memoles sedikit bedak di wajahnya.


Setelah selesai Laura kembali turun ke lantai bawa, membuat Tio yang sedang duduk di sofa menghadap tangga menatap gadis kecilnya tak berkedip.


Bagaimana tidak Laura terlihat sangat berbeda dengan penampilan yang sekarang, tidak seperti tadi acak-acakan.


Bria yang melihat sahabatnya memandang gadisnya tak berkedip pun menyenggol lengan Tio, membuat Tio menjadi kaget.


"Ngagetin aja sih loh" ucap Tio.


"Habisnya loh liatnya segitunya banget sih" ucap Brian sambil terkekeh geli.


"Pa, Ma" panggil Laura yang bar saja sampai di lantai bawa.


"Putri mama cantik banget, tumben apa karena" ucapan mama Ayu terhenti melirik Tio sambil tersenyum.


"Iih, mama apaan sih" ucap Laura menjadi malu, karena ia tau apa maksud perkataan sang mama.


Semua yang ada di ruangan itu tertawa, termaksud Tio.


"Misi nya, tuan makan siang sudah siap" ucap bibi.


"Iya bi terima kasih ya" ucap Mama Ayu.


"Iya nya" ucap bibi lalu kembali ke dapur.


Karena sekarang sudah jam makan siang, jadi papa Faisal dan mama Ayu mengajak semuanya untuk makan siang bersama di kediaman mereka.


"Mari semuanya kita makan siang bersama, kebetulan semuanya sudah siap" ucap pak Faisal.


Semuanya pun pergi ke ruang makan, di sana semua menu sudah tertata sangat rapi di atas meja, semuanya mengambil tempat yang sudah di siapkan dan Laura duduk berdekatan dengan Tio.


"Duh jantung gue kenapa sih, gak berhenti berdetak dari tadi" ucap Laura dalam hati.


Terlihat Maura mengambilkan menu makan siang untuk sang suami, hal itu tak luput dari pandangan Brian, Tio dan Laura, begitu pun dengan mama Ayu yang mengambilkan menu makan siang untuk sang suami.


Pak Erwin sudah pamit satu jam yang lalu karena ada pekerjaan penting yang haris di tangani, klien nya yang akang melaksanakan sidang hari ini jadi pak Erwin sebagai pengacara pun harus turut mendampingi klien nya.


Semuanya makan dengan hening, hanya suara dentingan sendok di piring yang terdengar, sesekali Tio mencuri pandang ke arah gadis yang duduk di sebelahnya.


Next...


Jangan lupa Like, Komen sama Vote ya guys kalau udah selesai baca.