Jovian & Maura

Jovian & Maura
Ide Keempat Bocah Kecil



Jam sudah menunjukan pukul 11 siang, keempat bocah kecil itu terlihat sedang mengobrol di dalam kamar itu.


"Du atu apel ni, kalian apel ga(aduh aku laper nih, kalian laper gak)" tanya Galih.


"Ama ita uga apel, asa una amu aja ci yan apel(sama kita juga laper nih, masa cuma kamu aja sih yang laper)" ucap Galah.


"Di ana don ana intu ya di unci ali ama om tentulit(gimana dong mana pintunya di kunci lagi sama om penculik)" ucap Galih.


"Ita edol aja ial di uka(kita gedor aja biar di buka)" ucap Kifli.


"Amu enal uga Ipli(kamu benar juga Kifli)" ucap Galih.


"Etal ya atu edol ulu(bentar ya aku gedor dulu)" ucap Galih beranjak mendekati pintu, sedangkan ketiga sohibnya duduk di kasur.


Dukk... duukkk...


"Om tentulit uka intu ya om, om tentulit uka(om penculik buka pintunya om, om penculik buka)" teriak Galih dari dalam kamar.


"Ga di uka agi, apa om tentulit ga egal ya(gak di buka lagi, apa om penculik gak dengar ya)" ucap Galih.


"Ais ga di uka(guys gak di buka)" ucap Galih melihat ketiga sohibnya.


"Oba agi aja, atu antu ya(coba lagi aja. aku bantu ya)" ucap Iqbal, yang mendapat anggukan kepala dari Galih.


Dukk dukkk dukkk....


Suara gedoran pintu terdengar sangat keras oleh Galih dan Iqbal, sampai ketiga preman yang sedang main catur di ruang samping merasa terganggu.


"Ngapain lagi tuh bocah-bocah" ucap salah satu preman.


"Om tentulit uka intu ya, ita apel ni(om penculik buka pintunya, kita laper nih)" ucap Galih dari dalam kamar.


Duukkk duukk duukkk...


Lagi-lagi suara gedoran pintu menganggu penghuni rumah itu, Mati yang sedang makan siang bersama sang istri pun merasa terusik dengan suara gedoran pintu itu.


"Papa liat dulu deh, sakit ni telinga mama dengar nya" ucap Maya.


Martin beranjak dari meja makan melihat keempat bocah kecil itu, Martin membukakan pintu dan melihat keempat bocah kecil itu dengan tajam.


Bukannya takut Galih malah membalas tatapan tajam Martin dengan gaya lucunya sambil berkata.


"Om napa iat ita ditu, aja ya adi elet loh(om kenapa liat kita gitu, wajah nya jadi jelek loh)" ucap Galih.


"Kenapa kalian gedor-gedor pintu ha" tanya Martin dengan marah.


"Ita apel om, ni tan da am atan ian ati alo ita isan diana(kita laper om, ini kan udah jam makan siang nanti kalau kita pingsan gimana)" ucap Galah.


"Bukan urusan saya" ucap Martin, bertepatan dengan ketiga preman itu masuk.


"Urus mereka, kasi mereka makan" ucap Martin berjalan keluar dari kamar itu.


"Bisa dar tinggi gue oleh keempat bocah itu" ucap Martin dala hati, kembali ke meja makan.


"Kalian tunggu di sini biar kami ambil makan siangnya" ucap bos preman.


"Ia mo epat ya, aut ya ayam dolen ya om(iya om cepat ya, lauk nya ayam goreng ya om)" ucap Galih.


Keempat bocah kecil itu kembali duduk di kasur, sambil menunggu makan siang mereka datang, mereka berempat mengobrol mencari ide agar bisa kabur dari sana.


Tak lama kemudian ketiga preman itu datang membawa empat piring nasi bersama lauknya, lalu masuk ke dalam kamar dan memberikan pada para bocah itu.


"To aut ya uma empe ama ahu ci om, ga da ayam dolen ya(kok lauk nya cuma tempe sama tahu sih om, gak ada ayam goreng ya)" tanya Galih.


"Gak ada, makan aja yang ada" ucap salah satu preman.


"Isa isan ini alo ita atan(bisa pinsan ini kalau kita makan)" ucap Galah.


Membuat ketiga preman itu saling pandang, baru kali ini mereka berurusan dengan orang yang di culik bikin mereka sakit kepala dan di buat pusing.


"Yo ita atan aja(ayo kita makan aja)" ucap Galih, Sebernaya mereka tidak pilih-pilih makanan tadi Galih hanya ingin mengerjai preman itu saja.


"Anu ama empe ya enat uga ya(tahu sama tempenya enak juga ya)" ucap Galah, mendapat anggukan dari ketiga sohib nya.


"Ita atan bis tu ita itilin ide(kita habis itu kita pikirin ide)" ucap Galah.


Keempat bocah kecil itu makan dengan lahap, karena biarpun lauk sederhana tapi terasa lezat kalau makan bersama menurut mereka.


☘☘☘☘


Di kediaman Maura, Ambar tak henti-hentinya menangis ia sangat menghawatirkan keempat bocah kecil itu sekarang.


"Mom, sekarang udah waktunya jam makan siang, aku takut mereka gak makan mom hikz" ucap Ambar tak henti-hentinya menangis dalam pelukan sang mommy.


"Sabar sayang, daddy dan yang lain sudah pergi mencari mereka sayang" ucap mom Nisa menenangkan sang putri.


Sejujurnya mom Nisa sendiri juga saat ini merasakan kuatir pada cucu-cucu nya dan sahabat cucunya, mereka masi terlalu kecil untuk menanggung semua ini, mommy Nisa hanya takut nanti mereka akan merasakan trauma.


"Sayang sabar ya" ucap mom Sinta.


Tapi ambar tak bisa tenang, karena bulang dapat kabar dari sang suami yang juga pergi mencari si kembar dan kedua sahabatnya.


Gilang, Jovian dan Brian Juga Tio saat ini berada satu mobil, sedangkan kakek Reza, kakek Nicko dan kakek Leo berada di mobil yang satunya.


Mobil membelah jalan raya menuju alamat si penculik yang di dapatkan oleh orang suruhan Gilang, yang saat ini berada di jalur depan.


"Apa para penculik itu menjadikan mereka sebagai umpan untuk bisa mendapatkan gadis itu?" tanya Brian.


"Bisa saja begitu" ucap Jovian.


Brian mengusap wajahnya kasar, Tio yang duduk di dekat Brian hanya bisa diam karena ia tak tau akar masalah itu.


☘☘☘☘


"Alamdulilah eyan(Alhamdulillah kenyang)" ucap keempat bocah kecil itu.


"Atu unya ide(aku punya ideh)" ucap Galih.


"Apa" tanya Galah, Iqbal dan Kifli.


"Di ana aloh Alah ulah-ulah isan aja anti atu agil om tentulit ya ial ita isa abul(gimana kalau Galah pura-pura pingsan aja nanti aku panggil om penculik nya biar ita bisa kabur)" ucap Galih.


"Amu enal uga ya, anti alo eleta da anit ita isa abul(kamu benar juga ya, nanti kalau mereka sudah panik kita bisa kabur)" ucap Galih lagi.


"Ia deh oleh(iya deh boleh)" ucap Galah.


"Etalan Alah idul ulah-ulah isan(sekarang Galah tidur pura-pura pingsan)" ucap Galih.


Galah pun berbaring di atas kasur, lalu menutup kedua matanya untuk berpura-pura Pingsan. Iqbal pergi ke arah pintu dan menggedor pintu dengan kuat.


Duukk... Dukkk... Dukkkk


"Om uka om, eman ita isan om(om buka om, teman kita pingsan om)" teriak Iqbal.


"Apa lagi sih nih para bocah" ucap Martin.


"Biar kami liat bos" ucap salah satu preman.


Salah satu preman pergi dan membuka pintu kamar itu dan melihat kalau ketiga bocah kecil sedang menangis di dekat Galah.


"Om eman ita isan om, ia om di ana don huu(om teman kita pingsan om, iya om gimana dong huu)" ucap ketiga bocah kecil itu.


Preman itu kembali ke luar ingin melapor pada sang bos, sedangkan di dalam kamar keempat bocah kecil itu bertos ria karena sudah berhasil mengerjai para penculik.


Next....


Jangan Lupa Like, Komen sama Vote ya guys...