Jovian & Maura

Jovian & Maura
Rumah Baru



Sehabis dari rumah si kembar, Jovian mengajak sang istri untuk melihat hunian baru mereka yang tidak jauh dari kediaman keluarga kecil Gilang, hanya berjarak beberapa ratus meter saja.


Mobil yang di kendarai oleh Jo memasuki pelantaran hunian baru mereka, dari luas nya saja sudah terlihat begitu besar dari dalam mobil.


"Ayo turun" ajak Jo pada sang istri.


Kedua pasangan suami istri itu keluar dari dalam mobil, lalu masuk ke dalam rumah mewah yang ada di depan mereka, Jovian ingin menunjukan suasana isi rumah baru mereka.


"Bismillah.." ucap Jovian membuka pintu utama.


Pandangan Maura terpaku pada pajangan foto pernikahan mereka yang menempel di didin ruang tamu.


"Sayang kamu udah nyiapin ini semua ya kok udah ada foto pernikahan kita" tanya Maura melihat sang suami.


"Iya sayang, semenjak kita bulan madu kemarin aku udah nyuruh orang buat ini semua" ucap Jovian melihat sang istri yang tersenyum bahagia.


"Kamu suka gak" tanya Jovian membalas senyum sang istri.


"Suka banget" jawab Maura memeluk lengan sang suami.


"Ayo kita liat ruangan yang lain" ajak Jovian yang mendapat anggukan kepala dari sang istri.


Jovian mengajak sang istri melihat ruang tengah, ruang tv dan juga dapur mereka semua terlihat sangat rapi dan mewah membuat Maura tak henti-hentinya menebar senyum bahagia.


"Sayang itu tempat apa" tunjuk Maura melihat ruangan samping yang masi kosong.


"Itu nanti akan menjadi tempat bermain anak-anak sayang, apa lagi si kembar mungkin akan sering-sering main ke sini kan dekat" ucap Jovian.


"Iya yah" ucap Maura.


Setelah melihat semua yang ada di lantai bawa, sekarang Jovian mengajak sang istri untuk melihat kamar mereka yang ada di lantai atas, keduanya menaiki tangga sambil bergandengan tangga sesekali Jo mengusap kepala sang istri dengan sayang.


Jovian membukakan pintu kamar mereka, Maura melihat luas kamar yang sangat besar, terdapat sofa yang menghadap langsung ke arah balkon membuat siapa saja yang duduk di situ bisa melihat pemandangan taman bunga di halaman belakang.


Maura berjalan ke arah balkon dan membuka pintu kaca menuju balkon dan di sana Maura melihat semua jenis bunga yang sedang bermekaran indah, membuat Maura menutup kedua matanya dan menghirup udara.


Jovian berdiri di pintu balkon melihat sang istri sambil tersenyum dengan ku dua tangannya yang berada di kedua saku celananya, membuat Jo semakin terlihat tampan dengan angin yang sesekali meniup rambutnya yang sudah sedikit panjang itu.


Puasa melihat sang istri, Jovian berjalan mendekati Maura dan memeluknya dari belakang, Maura yang sedang menutup mata merasakan pelukan sang suami.


"Kamu suka" tanya Jo.


Maura membuka kedua matang lalu melihat jenis-jenis bunga yang ada di bawa sana, sambil memegang tangan sang suami yang ada di perutnya.


"Yah ini sangat indah, kau selalu memberikan kejutan untuk ku" ucap Maura.


"Aku akan melakukan apa saja untuk istri tercintaku agar bahagia" ucap Jovian mencium aroma sampo di kepala sang istri.


"Makasih ya" ucap Maura.


"Sama-sama" ucap Jovian, lalu membalikkan badan sang istri dan Jovian menatap wajah sang istri dengan intens dan....


☘☘☘☘


Di dalam ruangannya terlihat Brian sedang memikirkan sesuatu, sampai ia tidak mendengar sang asisten yang mengetuk pintu beberapa kali.


"Yan loh gue panggilin dari tadi diam terus, lagi mikirin apa sih" tanya Tio duduk di kursi depan sang sahabat.


Brian melihat Tio, membuat Tio yang di tatap seperti itu menjadi heran dan mengernyit kening.


"Kenapa loh liatin gue gitu" tanya Tio.


"Gak papa kok" ucap Brian.


Tio melihat sang bos yang kembali melamun, Tio hanya menggeleng kepala melihat tingkah bosnya itu.


Gilang juga sudah menceritakan semuanya pada Brian tentang gadis itu, agar Brian nanti tidak akan salah faham dan Brian mengerti akan hal itu.


"Yan jadi gak makan siang di luar" tanya Tio.


"Jadi tapi kita jemput gadis gue dulu ya" ucap Brian.


"Oke siap" ucap Tio.


Kedua pria tampan itu pun keluar dari ruangan Brian, mereka melihat Kevin sekertaris dari Brian sedang bersiap akan pergi makan siang juga karena saat ini jam sudah menunjukan pukul 12 siang.


Brian dan Tio masuk ke dalam lift yang akan membawa mereka menuju lantai dasar, mereka akan pergi ke kampus Sheila lalu pergi makan siang bersama.


☘☘☘☘


Martin terlihat sedang mengobrol dengan serius bersama anak buahnya di ruang kerja miliknya yang sangat kecil itu.


"Bos ternyata anak-anak waktu itu putra dari pria yang waktu itu mengaku sebagai pemilik unit apartemen kecik itu" ucap salah satu preman.


"Gila anak nya banyak banget, seumuran lagi" ucap Martin tak percaya.


"Anak pria itu hanya si kembar bos, kalau yang dua nya lagi sahabat si kembar" ucap preman itu.


"Jadi putra pria yang berjas waktu itu si kembar?" tanya Martin.


"Iya bos" ucap preman.


Martin menganggu-ngangguk kepalanya sambil tersenyum licik, ia mendapat ide agar bis membawa gadis itu kembali, ketiga preman saling pandang melihat bos mereka yang hanya mengangguk tak jelas sambil tersenyum mengerikan.


"Si bos kenap, gak ke sambet kan" tanya preman yang satu.


"Gue juga gak tau" jawab preman yang satu.


"Tapi ngeri juga ya kalau liat bos gitu" ucap preman yang satu yang mendapat anggukan kepala dari kedua temannya.


Martin yang mendengar ketiga anak buah nya ngomongin tentang diri pun langsung menatap tajam ketiga anak buah nya, membuat ketiga preman itu menunduk takut mendapat tatapan mematikan dari sang bos.


"Aku punya kerjaan baru untuk kalian bertiga" ucap Martin.


"Apa bis" jawab salah satu preman mengangkat wajahnya.


"Kalian culik bocah kembar itu dan juga kedua sahabatnya, dengan para bocah kecil itu ada di tangan kita, akan kita jadikan umpan untuk mereka menyerahkan gadis itu" ucap Martin.


"Bos serius, sepertinya ayah dari bocah kembar itu bukan orang sembarangan bos" ucap preman.


"Aku tidak perduli itu, yang jelas kalian harus bisa menculik keempat bocah kecil itu dan bawa kemari kehadapan ku" ucap Martin.


Ketiga preman itu saling pandang, dan menyanggupi perintah sang bos dari pada mendapat bogem mentah.


"Baik bos kalau begitu kami permisi dulu" ucap salah satu preman.


"Iya jangan lupa segera bawa keempat bocah kecil itu kemari" ucap Martin.


"Iya bos" ucap salah satu preman, lalu mereka keluar dari ruang kerja Martin.


Next...


Jangan lupa Like, Komen sama Vote ya guys...