Jovian & Maura

Jovian & Maura
Tamu Di Pagi Hari



"Oleee, ita ampaiiii(horeeee, kita sampaiiii)" teriaka keempat bocah kecil itu keluar dari dalam mobil.


"Maaci ya pa obil (makasih ya pak sopir)" ucap si kembar.


"Sama-sama den, nanti siang tunggu bapa jemput ya" ucap pak sopir.


"Ia pa" jawab keempat bocah kecil itu.


"Yo ita asut(ayo kita masuk)" ajak Galih.


"Tott tooott Atalamualaitum oty ura uka intu ya(tok tok Assalamualaikum aunty Maura buka pintunya)" ucap si kembar dari luar terus menggedor pintu.


Di lantai atas Maura yang sedang menyiapkan pakaian kerja sang suami berhenti sejenak, membuat Jovian yang baru keluar dari kamar mandi menjadi heran.


"Ada apa sayang" tanya Jovian.


"Kaya ada suara si kembar sayang" ucap Maura.


"Kembar, gak mungkin ini kan masi pagi sayang" ucap Jovian.


"Iya juga ya" ucap Maura kembali mengambil dasi di lemari.


Di lantai bawa bibi dengan cepat berlari ke arah pintu, karena gedoran pintu semakin kiat saja.


Clekk...


"Bibi, to bibi yan uka intu, oty ura ama ucel Jo ana(bibi, kok bibi yang buka pintu, aunty Maura sama uncle Jo mana)" tanya Galah.


"Ada di kamar den, mari den silahkan masuk" ajak Bibi mempersilakan keempat bocah kecil itu masuk.


Keempat bocah kecil itu masuk ke dalam dalam bersama bibi, si kembar mencium aroma sarapan pagi yang mengunggah selera.


"Oba alian ium de, au asat ya enat anet ya(coba kalian cium deh, bau masak nya enak banget)" ucap Galih.


Keempat bocah kecil itu dudu di sofa ruang tengah menunggu tuan rumah datang, suara celotehan keempat bocah kecil itu terdengar sampai ke lantai atas.


"Tuh benar yank, itu suara si kembar dan temannya" ucap Maura.


"Ya sudah ayo kita turun ke bawa" ajak Jovian yang sudah selesai bersiap-siap ke kantor.


"Ahhahhaha,, Alah ga tau ada alo atu emalam eldain Alah hahahaha(aahhaha,, Galah gak tau aja kalau semalam aku ngerjain dia hahahaha)" ucap Galih sambil tertawa bersama kedua sohibnya.


"Tuh kan sayang benar, itu si kembar sama temannya" ucap Maura.


"Sayang, kalian sama siapa" tanya Maura setelah tiba di lantai bawa mendekati keempat bocah kecil itu.


"Uma ita oty di atel ama pa opil(cuma kita aunty di antar sama pak sopir)" ucap Galah.


"Hay ucel Jo(hay uncle Jo)" sapa si kembar.


"Ucel Jo au te tantol ya(uncle Jo mau ke kantor ya)" tanya Galih.


"Iya, papi kalian udah ke kantor ya" tanya Jovian.


"Ga ucel, api ama ami asi idul, adi ita ain te tini de(gak uncle, papi sama mami masi tidur, jadi kita main ke sini deh)" ucap Galah.


Membuat Maura dan Jovian saling pandang, entah apa yang ada di pikiran mereka.


"Gilang-Gilang ada ada aja mau mengelabui si kembar biar gak ganggu" ucap Jovian dalam hati.


"Ya sudah kita sarapan yuk, kalian pasti belum sarapan kan" tanya aunty Maura.


"Elum ucel, ata api ita di ulu alapan di tini(belum uncle, kata papi kita di suruh sarapan di sini)" ucap Galih.


"Ya sudah ayo" ajak aunty Maura.


Keempat bocah kecil itu turun dari sofa mengikuti aunty Maura dan uncle Jo ke ruang makan untuk sarapan bersama.


☘☘☘☘


Ibu Tio melihat sang anak yang pagi ini terlihat sangat ceria, tidak seperti biasanya.


"Nak, ada apa" tanya ibu, saat ini mereka sedang berada di meja makan kecil.


"Tio sudah ketemu sama teman kecil Tio bu" ucap Tio dengan senang.


"Alhamdulillah,,, ibu senang dengar nya nak" ucap ibu senang.


"Iya nak" ucap Ibu Tio senang.


Selesai sarapan Tio pamit pada sang ibu, karena ayah Tio sudah pergi ke tokoh kue mereka yang saat ini sedang di kelola bapa dan ibu Tio, tentunya semua modal itu dari Tio karena mereka gak mau hanya berdiam di rumah saja.


"Tio pamit ya bu" ucap Tio mencium punggung tangan sang ibu.


"Iya nak hati-hati ya" ucap ibu Tio.


"Assalamualaikum bu" ucap Tio.


"Waalaikumsalam nak" jawab ibu Tio melihat putra semata wayangnya masuk ke dalam mobil sang bos.


Mobil itu keluar dari halaman rumah kontrakan sederhana itu, tujuan Tio saat ini adalah kediaman sang boss.


Rencananya siang ini Tio akan mengajak sang gadis makan siang di luar, seperti janjinya selama pada Laura.


Mobil yang di kendarai oleh Tio pun memasuki gerbang rumah keluarga Wijaya, Tio turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam.


"Om, tante Brian belum turun" tanya Tio.


"Belum nak, kamu liat gi di kamar masi tidur atau udah siap-siap" ucap mom Nisa.


"Iya tante kalau gitu Tio ke kamar Brian ya" ucap Tio.


Tiba di lantai atas Tio langsung membuka pintu kamar, bertepatan Brian sedang ganti baju membuat Brian memekik kaget.


"Ngagetin aja loh" ucap Brian.


"Kok baru siap-siap" tanya Tio langsung duduk di sofa.


"Bangun kesiangan gue, habis semalam nanti tidur habis nge bujuk gadis gue yang lagi ngambek" ucap Brian.


"Sheila ngambek kenapa" tanya Tio.


"Biasalah masalah kecil, dia marah karena gue lupa kemarin nemenin dia jalan" ucap Brian sambil mengancing kemeja nya.


"Loh sih sibuk kerja" ucap Tio.


"Bukan sibuk kerja, gue lupa" ucap Brian.


"Lain kali bikin alaram biar gak lupa" ucap Tio.


Brian memakai setelan jas kantor miliknya, lalu merapikan rambutnya di depan cermin dan tidak lupa memakai minyak rambut.


"Ntar siang gue gak bisa makan siang bareng loh" ucap Tio.


"Kenapa" tanya Brian melihat ke arah sang sahabat.


"Gue mau ngajak Laura makan siang di luar" ucap Tio.


"Iya biar nanti gue ngajak Sheila makan siang aja" ucap Brian.


"Ayo kita turun ke bawa" ajak Brian dan Tio pun beranjak dari sofa.


Brian dan Tio memang seperti itu kalau di rumah atau di luar kantor, berbeda dengan di kantor keduanya sangat profesional.


"Mom, dad" panggil Brian.


"Hey boy" sapa daddy Nicko.


"Sayang, ajak Sheila ke sini dong mommy kangen tau" ucap mommy Nisa.


"Iya mom, nanti sore Brian ajak calon mantu mama ke sini ya" ucap Brian.


"Benar ya" ucap mommy Nisa.


"Yes mom" ucap Brian.


"Kita sarapan yuk, nak Tio sarapan yuk" ajak mom Nisa.


Tio ikut sarapan biar hanya minum susu karena ia juga sudah sarapan dari rumah, hanya menghargai pemilik rumah aja yang sudah menganggap Tio sebagai saudara.


Next....


Jangan Lupa Like, Komen sama Vote ya guys....