Jovian & Maura

Jovian & Maura
Om Juga Penculik?



Gilang dan Jovian tiba di kediaman Jovian bersamaan, keduanya turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam.


Gilang melihat sang istri sedang menangis dengan di temani Maura, Gilang berjalan cepat dan langsung mendekati sang istri.


"Sayang" panggil Gilang.


Ambar beralih memeluk sang suami, Ambar mengatakan kalau ini semua salahnya karena sudah membiarkan keempat bocah kecil itu pergi sendiri, membuat Ambar merasa bersalah.


"Ini semua salah ku" ucap Ambar sambil menangis.


"Gak ini bukan salah kamu, kamu tenang ya kita akan cari mereka ya" ucap Gilang mengusap punggung sang istri.


Gilang sudah memerintahkan seseorang untuk mengecek cctv jalan agar bisa mengetahui kemana para bocil itu pergi.


Gilang juga sudah memberitahu daddy Reza, daddy Nicko dan juga Brian, dan saat ini mereka sedang dalam perjalanan ke sini juga untuk mencari keberadaan si kembar dan kedua sahabatnya tentunya.


☘☘☘☘


Mobil yang di naikin oleh si kembar dan kedua sahabatnya tiba di halaman rumah Martin, ketiga preman itu turun terlebih dahulu.


"Ni uma iapa (ini rumah siapa)" tanya Galah.


"Ga au ita tan alu ampai, oba de anya ama om ten tulit(gak tau kita kan baru sampai, coba deh tanya sama om penculik)" ucap Galih.


"Om tentulit ni uma iapa (om penculik ini rumah siapa)" tanya Galah dari jendela mobil.


"Diam jangan banyak tanya, ayo keluar" ucap bis preman.


"Yo ais ita ulun(ayo guys kita turun)" ajak Galih pada ketiga sohibnya.


Membuat ketiga preman itu saling pandang dan geleng kepala.


"Yo om tentulit ita asut(ayo om penculik kita masuk)" ajak Galih.


Ketiga preman itu membawa keempat bocah kecil itu masuk, di dalam sana Martin sudah menunggu kedatangan mereka.


"Bos kami sudah membawa keempat bocah kecil itu" ucap bos preman.


"Bagus, saya suka kerjaan kalian" ucap Martin melihat keempat bocah kecil yang berdiri di dekat ketiga anak buahnya.


"Om tan yan di emen atu itu, om uga tentulit?(om kan yang di apartemen waktu itu, om juga penculik?)" ucap Galah.


"Kamu masi ingat ya" tanya Martin.


"Inat don tan ajah om elam(ingat dong kan wajah om seram)" ucap Galah lagi membuat martin melotot tajam melihat Galah.


"Tu apa agi ata ya otot itu adi amba elam anet(tuh apa lagi mata nya melotot gitu jadi tamba seram banget)" ucap Galah lagi, membuat ketiga sohibnya tertawa.


"Sial bocah-bocah kecil ini bikin gue kesal" ucap Martin dalam hati.


"Siap bos" ucap bos preman membawa keempat bocah kecil itu masuk ke dalam kamar kosong.


"Om tentulit ita au di awa te ana(om penculik kita mau di bawa ke mana)" tanya Iqbal.


"Diam, ikut dan nurut aja" ucap bos preman.


"Is alat anet ci ita tan uma anya(is, galak banget sih kita kan cuma tanya)" ucap Galih.


Keempat bocah kecil itu di masukan ke dalam kamar kosong lalu di kunci dari luar, tapi tidak membuat mereka berempat takut, Galah menghidupkan sakral lampu dan ruangan yang tadi gelap sekarang berubah menjadi terang.


"Wa ada asul ya ita isa idul ni(wah ada kasur nya juga kita bisa tidur nih)" ucap Galih naik ke atas kasur itu di ikuti oleh ketiga sohibnya.


☘☘☘☘


Brian dan Tio baru saja tiba di kediaman Maura, begitu pun dengan daddy Reza dan daddy Nicko.


"Dad" panggil Ambar dan langsung memeluk sang daddy sambil menangis.


"Udah gak usah sedih, mereka pasti baik-baik saja sayang" ucap daddy Nicko menenangkan sang putri.


"Tapi ini semua salah Ambar dad" ucap Ambar.


"Bukan ini bukan salah kamu sayang" ucap Nicko lagi.


"Siapapun yang berani macam-macam sama keponakan gue, akan gue bikin nyesal seumur hidup" ucap Brian dalam hati.


Tak lama kemudian orang suruhan Gilang datang membawa copy cctv jalan yang di lewati keempat bocah kecil itu.


"Bos, saya membawa copy rekaman cctv" ucap orang suruhan Gilang.


Dan langsung saja orang itu memutar rekaman cctv di lap top yang ada di atas meja, semua yang ada di ruangan itu melihat dari awal keempat bocah itu keluar gerbang rumah Gilang, sampai berjalan di pinggir trotoar.


Terlihat keempat bocah kecil itu bercanda sambil tertawa di sepanjang jalan, tapi tiba-tiba terlihat sebuah mobil berhenti dan turun lah tiga pria berbadan besar mendekati keempat bocah kecil itu, mereka sempat terlibat obrolan tapi tiba-tiba salah satu pria menahan Iqbal sampai Iqbal di bawa ke dalam mobil lalu di susul juga oleh ketiga temannya.


" *Jadi para preman itu yang menculik mereka, ini pasti ada hubungan nya dengan gadis itu" ucap Brian dalam hati.


"Jadi mereka yang menculik putra dan temannya, awas saja akan aku buat perhitungan dengan mereka" ucap Gilang dalam hati.


"Astaga jadi preman itu yang menculik anak-anak" ucap Jovian dalam hati*.


"Siapa pria-pria itu, kenapa mereka menculik cucu ku" ucap daddy Nicko.


Sedangkan Jovian, Gilang dan Brian hanya saling pandang, tidak mungkin mereka mengatakan kalau mereka mengenali para penculik itu, nanti Maura, daddy Reza dan daddy Nicko akan curiga.


Next...


Jangan lupa tinggalkan Like, Komen sama Vote ya selesai baca, Terimakasih🙏🙏🙏