
Raut wajah ibu dan bapak Tio terlihat begitu bahagian menyambut kedatangan gadis yang sering putra mereka ceritakan itu, terlebih lagi wajah Tio yang juga sangat bahagia.
"Ayo kita langsung makan siang aja ya, ibu udah siapin loh" ucap ibu Tio.
Semuanya masuk ke dalam ruangan yang ada di tokoh roti itu, terlihat semua menu masakan sederhana sudah tertata rapi di atas meja, Laura melihat semua menu itu membuat cacing-cacing di dalam perutnya berdemo minta untuk segera di isi.
"Ayo neng, jangan malu-malu, maaf juga ini ibu hanya masak masakan sederhana" ucap Ibu Tio.
"Gak papa bu, Laura juga suka kok makan kangkung tumis gini" ucap Laura melihat kangkung tumis sambel terasi.
Tio menarik kursi untuk di duduki sang gadis, begitu pun untuk Tio, Laura duduk di dekat Tio, Ibu dan bapak juga duduk berdekatan.
"Ayo neng, jangan malu-malu anggap saja seperti rumah sendiri" ucap ibu Tio.
"Iya bu" jawab Laura sopan.
"Kak, mau aku ambilkan" tawar Laura.
"Boleh" jawab Tio.
Laura mengambilkan menu makan siang intuk Tio, lalu Laura mengambil menu untuknya. Mereka makan siang dengan suasana berbeda karena kali ini tamba satu orang lagi ya itu Laura.
"Masakan ibu enak, Laura suka" ucap Laura.
"Terimakasih neng" jawab Ibu.
"Nambah lagi neng, jangan malu-malu" ucap bapak Tio.
"Iya bapa" ucap Laura.
Laura menambah lagi sayur kangkung tumis sambel terasi itu, kali ini gadis itu makan mengunakan tangan tampa sendok lagi karena akan terasa lebih enak menurut Laura, Tio tersenyum melihat itu karena gadisnya tidak malu makan mengunakan tangan.
☘☘☘☘
Di sisi lain Brian dan sang kekasih Sheila juga baru saja selesai makan siang di salah satu restoran dekat kampus Sheila.
"Sayang ada mata kuliah lagi gak" tanya Brian.
"Gak ada sih kak, udah habis memangnya kenapa" tanya Sheila.
"Ikut ke kantor yuk, nanti pulang kantor kita ke rumah mommy katanya kangen" ucap Brian.
"Ya udah, ayo" ajak Sheila.
Brian dan Sheila keluar dari dalam restoran itu, sampai di parkiran mobil Brian membukakan pintu mobil untuk sang kekasih, lalu ia memutari mobil masuk duduk di kursi kemudi, mobil pun meninggalkan parkiran restoran itu.
"Sayang" panggil Brain.
"Ada apa kak" jawab Sheila melihat Brian.
"Secepatnya aku akan melamar kamu" ucap Brian.
"Iya nanti aku bilang sama mama dan papa" ucap Sheila santai.
"Nanti kalau udah nikah, kamu kalian online saja ya" ucap Brian.
"Memangnya kenapa" tanya Sheila.
"Aku gak mau kamu di luar terus, nanti di godain lagi sama cowok-cowok di luar sana" ucap Brian posesif.
Dari kecil Brian kan memang udah posesif sama adek Sheila, sampai Marvel saja di larang buat muji cantik.
"Ish, kaka aja yang terlalu lebay" ucap Sheila.
"Siapa yang lebay sih, itu tandanya kaka gak mau kamu di deketin cowok lain" ucap Brian.
"Tapi sampai sekarang kan gak ada yang dekatin aku" ucap Sheila.
"Sekarang belum, kalau nanti ada gimana" ucap Brian menatap sang kekasih sambil tersenyum jahil.
"Ish, kaka ini" ucap Sheila kesal.
"Jangan ngambek nanti cantiknya ilang loh" ucap Brian.
"Biarin aja" jawab Sheila cuek.
Brian kembali fokus dengan menyetir mobil, membiarkan sejenak sang kekasih yang sedang merajuk itu.
☘☘☘☘
"Alian ali ya epat anet ci(kalian lari nya cepat banget sih)" ucap Galih.
"Eman napa amu da ape ya(emang kenapa kamu udah capek ya)" tanya Iqbal.
"Ga to atu asi uat(gak kok aku masi kuat)" ucap Galih.
"Ya uda yo edal ita agi(ya udah ayo kejar kita lagi)" ucap Kifli.
Galih kembali berdiri dan mengejar Iqbal dan Kifli, sedangkan Galah juga masi mengejar ke dua sahabatnya juga.
"Alah amu ali ana ankap Iqbal(Galah kamu dari sana tangkap Iqbal)" ucap Galih.
"Anak-anak" panggil mami Ambar dari dalam rumah, membuat keempat bocah kecil itu berhenti kejar-kejaran.
"Da apa mi(ada apa mi)" tanya si kembar.
"Mami boleh minta tolong kalian gak" tanya mami Ambar.
"Ami au inta olon apa(mami mau minta tolong apa)" tanya Galah.
"Sini deh ikut mami" ajak mami Ambar.
Keempat bocah kecil itu mengikuti mami Ambar dari belakang, mami Ambar mengajak keempat bocah kecil itu ke kamar yang baru di bereskan di lantai dua dekat kamar si kembar.
"Ni amal tiapa mi(ini kamar siapa mi)" tanya si kembar.
"Ini kamar kak Dev, nah kak Dev itu adik sepupunya papi sayang yang dari jerman akan sekolah di sini" ucap mami Ambar.
"Tat Dep, tu iapa mi(kak Dev, itu siap mi)" tanya si kembar.
"Nanti kalian juga ketemu kalau kak Dev udah datang" ucap mami Ambar.
"Man tat Dep au ateng apan mi(emang kak Dev mau datang kapan mi)" tanya Galih.
"Pesawat yang di naikin kak Dev akan tiba sebentar malam sayang jam 10" ucap mami Ambar.
"Wah ita atalan unya eman alu ni(wah kita bakalan punya teman baru nih)" ucap Galih.
Dev adalah sepupu dari Gilang, Dev yang akan melanjutkan SMA di indonesia pun memili untuk tinggal di kediaman kaka sepupunya ya itu Gilang, dari pada di rumah om dan tantenya ya tak lain adalah mommy Sinta dan daddy Reza.
☘☘☘☘
Jovian baru saja terbangun dari tidurnya, Jovian melihat jam yang sudah menunjukan pukul 4 sore.
Jovian melihat sang istri yang berbaring di sampingnya, Jovian menyingkirkan helaian rambut Maura ke belakang telinganya, rupanya pertempuran tadi membuat keduanya tertidur pules.
Jovian bangun dan akan menyelesaikan pekerjaannya, Jovian akan membangunkan sang istri nanti kalau udah selesai pekerjaannya, jadi keduanya bisa langsung pulang ke rumah.
Jovian bangun dengan pelan, takut menganggu tidur sang istri, setelah mengenakan kembali setelan jas kantor miliknya, Jovian mencium kening sang istri lalu keluar dari kamar itu.
Jovian melihat beberapa kerjaannya yang belum selesai, Jovian duduk di kursi kebesarannya dan mulai melanjutkan pekerjaannya itu.
Tokk..
Tok...
"Masuk" ucap Jovian.
"Permisi pak Jo, ini ada berkas yang harus bapak tandatangani" ucap sekertaris Jovian.
Jovian menandatangani berkas itu, lalu kembali menyerahkan pada sekretarisnya itu.
"Kalau begitu saya permisi dulu pak" ucap sekertaris Jovian.
"Iya" jawab Jovian.
Jovian kembali melanjutkan pekerjaannya, karena hari sudah semakin sore dan ia harus cepat membawa istrinya pulang ke rumah.
Next...
Jangan lupa Like, Komen sama Vote ya guys...