
Jovian berhasil mengejar sang istri sampai ke dalam lift, saat ini keduanya berada di dalam lift menuju lantai bawa, tiba di lantai bawa Jovian kembali menekan angka lift naik kembali.
Jovian kembali membawa sang istri masuk ke dalam ruangannya, Jo hanya tidak mau kalau ia dan sang istri bertengkar di depan umum, apa lagi saat ini kondisi sang istri yang sedang emosi karena salah paham.
"Kita bicara baik-baik aku akan jelaskan semuanya sama kamu, kamu hanya salah faham sama aku sayang" ucap Jovian memegang pundak sang istri.
"Salah faham apa, jelas-jelas aku dengar sendiri kamu ngomongin gadis di belakang aku" ucap Maura kembali menangis.
"Hey dengar aku dulu, sebelumnya aku minta maaf sama kamu karena gak sempat jujur dari awal" ucap Jovian menatap sang istri dengan rasa bersalah.
"Gadis yang sering kamu dengar itu adalah gadis yang aku tolong setahun yang lalu, dia di kejar-kejar preman dan hendak di lecehkan karena aku merasa kasian aku menolongnya" ucap Jovian.
"Jadi kamu udah lama boongin aku" tanya Maura.
"Aku minta maaf, tapi aku gak ada apa-apa dengan gadis itu aku sudah menganggap dia seperti adik aku sendiri, sekarang kondisinya bikin kasian dia mengalami gangguan jiwa dan dia menganggap aku ini teman kecilnya" ucap Jovian.
"Kalau kamu memang gak ada hubungan apa-apa dengannya bawa aku ketemu dia" ucap Maura.
"Sekarang dia udah di bawa kabur oleh orang yang ingin menguasai harta kedua orang tuanya, dan malam itu aku pergi karena mendapat telpon dari bibi yang aku minta buat jagain gadis itu di apartemen" ucap Jovian.
"Tapi kamu tenang aja, lusa aku akan ajak kamu ketemu gadis itu karena karena kita juga punya kejutan buat gadis itu, mudah-mudahan saja kondisinya akan kembali membaik lagi" ucap Jovian menatap sang istri.
"Kamu gak boong kan" tanya Maura.
"Buat apa aku boongin istri aku, senyum dong cantiknya hilang kalau sedih gini" ucap Jovian mengusap bekas air mata sang istri.
"Bibi yang kamu maksud bi Yati?" tanya Maura.
"Kok kamu tau sayang" tanya Jovian heran.
"Tadi dia nelpon dan aku angkat aku dengar dia nanyain gadis itu" ucap Maura.
"Pasti bi Yati kuatir dengan kondisi gadis itu, karena sudah 5 hari di bawa pergi oleh pria bajingan itu" ucap Jovian.
"Udah gak usah sedih lagi, lusu kita akan bertemu gadis itu dan kamu bisa berkenalan dengannya nanti" ucap Jovian.
Maura hanya mengangguk saja, setidaknya hatinya sekarang menjadi sedikit lega karena gadis yang di maksud adalah bukan gadis sang suami.
☘☘☘☘
Mobil yang membawa Faisal dan Ayu memasuki kediaman rumah mereka, rumah yang hampir tiga tahun itu mereka tinggalkan.
Faisal dan Ayu melihat suasana di sekitar mereka, tak ada yang berubah. dan masi sama seperti dulu.
"Pa gak ada yang berubah yah" ucap Ayu.
"Iya ma, semuanya masih sama" ucap Faisal.
Pak Erwin, pak Faisal dan Bu Ayu turun dari mobil, bibi datang menyambut kedua majikannya dengan perasaan haru, karena sangat bersyukur ternyata mereka masih hidup.
"Bu, pak Alhamdulillah bapak sama ibu masih hidup" ucap bibi.
"Iya bi Alhamdulillah,, Allah masi sayang sama kami" ucap bu Ayu.
"Mari bu, pak silahkan masuk" ucap bibi mempersilahkan semuanya masuk.
Bu ayu melihat foto keluarga mereka yang ada di ruang keluarga, di mana di sana di tenga-tenga ia dan sang suami ada seorang gadis cantik yang tersenyum begitu manis, membuat bu Ayu tak dapat membendung lagi air matanya.
"Iya pa" ucap bu Ayu mengusap air matanya.
Pak Faisal mempersilahkan pak Erwin duduk, dan bu Ayu meminta bibi untuk memasak makanan untuk mereka.
☘☘☘☘
"Tatu au ida empat ima enam apan pulu(satu dua tiga empat lima enam delapan sepulu)" ucap Galih menghitung angka yang ada di buku.
"Ih amu ala Alih, yan enal itu dini amu egal ya tatu ua iga empat ima enam uju apan bulan pulu(ihh kamu salah Galih, yang benar itu gini kamu dengar ya satu dua tiga empat lima enam tuju delapan sembilan sepulu)" ucap Galah.
"Ih ama aja to(ihh sama aja kok)" ucap Galih tak mau kalah, saat ini kedua bocah kembar itu sedang belajar menghitung di ruang tengah.
"Di ilanin ga ecaya(dibilangin gak percaya)" ucap Galah.
Galih kembali menghitung biarpun salah-salah karena yang penting ia belajar, sang mami meminta mereka untuk belajar menghitung dan saat ini keduanya sedang menghitung angka-angka yang ada di buku.
Tiba-tiba Galih pergi membawa buku itu, membuat Galah sang kembaran melihat sang kembaran yang berlalu pergi.
"Alih ami au te ana(Galih kamu mau ke mana)" tanya Galah.
"Au ali ami(mau cari mami)" jawab Galih yang terus berjalan.
"Ami, ni de atu au anya(mami sini deh aku mau nanya)" ucap Galih setelah menemukan keberadaan sang mami.
"Ada apa sayang" tanya mami Ambar.
"Ni uju ya mi(ini tuju ya mi)" tanya Galih menunjuk angka tuju.
"Benar sayang, itu angka tuju" ucap mami Ambar.
"Elati atu adi ala itun don(berarti aku tadi salah hitung dong)" ucap Galih.
Mami Ambar hanya tersenyum melihat putra bungsu itu, tak lama kemudian Galah sang kembaran datang menyusul.
"Alah to amu te tini ci(Galah kok kamu ke sini sih)" ucap Galih.
"Utul amu la(nyusul kamu lah)" ucap Galah.
"Yo ita te uan ega agi(ayo kita ke ruang tengah lagi)" ajak Galih.
Kedua bocah kembar itu kembali ke ruang tengah dengan membawa buku mereka masing-masing, keduanya pun melanjutkan belajar mereka.
Mami Ambar membeli 4 buku untuk si kembar dan kedua sahabatnya, biar mereka bisa belajar menghitung di rumah dan hari ini Iqbal dan Kifli tidak main ke rumah si kembar karena sedang bantu-bantu di rumah mereka masing-masing.
"Du elut atu atit agi, aya ya atu au put de(adu perut aku sakit lagi, kaya nya aku mau pup deh)" ucap Galih.
"Antat ama ubit anet ci tan ita agi eladal(pantat kamu sibuk banget si kan kita lagi belajar)" ucap Galah.
"Duh Alah atu te amal andi ulu ya, da ga aan ni(adu Galah aku ke kamar mandi dulu ya, udah gak tahan nih)" ucap Galih lari terbilit-bilit ke arah kamar mandi di lantai bawa.
Next...
Jangan lupa Like, Komen sama Vote ya...