Jovian & Maura

Jovian & Maura
Maura Kurang Sehat



Pagi ini tak seperti biasanya untuk Maura, biasanya wanita itu akan sangat bersemangat menyambut pagi bersama sang suami, tapi tidak untuk saat ini.


Maura sedang duduk di halaman taman belakang sambil termenung, entah apa yang ada di pikiran gadis itu.


Jovian mencari keberadaan sang istri yang tak ia temukan di dapur, Jo juga sudah menanyakan pada kedua art yang sedang membuat sarapan tapi mereka tidak melihat.


Jovian tidak menyerah ia terus mencari keberadaan sang istri di setiap ruangan, sampai kedua kaki Jo berjalan ke arah taman belakang.


"Sayang" panggil Jovian melihat sosok yang ia cari-cari berada di sana.


Maura melihat ke asal suara, Maura memaksakan tersenyum melihat kedatangan sang suami.


"Aku cari-cari ternyata di sini" tanya Jovian.


"Iya angin paginya sejuk banget jadi aku duduk di sini" ucap Maura.


Jovian duduk di kursi dekat sang istri, Jo melihat wajah sang istri yang terlihat murung.


"Ada apa heemm" tanya Jovian.


"Gak papa, aku hanya kurang enak badan saja" ucap Maura memaksakan tersenyum.


Jovian meletakan telapak tangannya di jidat sang istri, dan benar saja suhu badan sang istri sedikit panas.


"Sayang kamu sakit" tanya Jovian mulai panik.


"Aku gak papa kok, mungkin hanya masuk angin aja" ucap Maura.


"Kalau gitu ayo kita masuk ya, aku buatin teh anget" ucap Jovian dengan wajah memohon.


Karena merasa kasian dengan sang suami Maura pun beranjak bersama sang suami masuk ke dalam rumah.


"Duduk di sini ya, aku buatin teh nya dulu" ucap Jovian yang di angguki oleh Maura.


Maura melihat pergerakan sang suami yang begitu lincah membuatkan teh untuknya, tak terasa air mata menetes begitu saja dengan cepat Maura menghapus air matanya.


"Sayang ini teh nya" ucap Jovian datang dengan membawa segelas teh.


"Makasih ya" ucap Maura.


"Iya sayang" jawab Jo duduk di dekat sang istri.


Jovian merapikan anak rambut sang istri ke belakang daun telinga sang istri, Jo merasa bersalah karena semalam sudah meninggal kan sang istri sendiri.


"Ayo di habisin teh nya sayang nanti keburu dingin" ucap Jovian. Hari ini adalah hari minggu jadi Jovian tidak ke kantor.


☘☘☘☘


Alex dan Karolin saat ini sedang menunggu kedua putra putri mereka yang belum juga nongol di meja makan, padahal bibi sudah memanggil mereka sedari tadi.


"Albert sama Adel malam banget sih" ucap Alex.


"Sabar mas, dikit lagi mungkin datang" ucap Caroline.


"Kak tungguin akuuu" teriak Adel dari lantai dua.


"Ayo cepat, kamu tuh manja banget sih" ucap Albert melihat sang adik.


Adel memeluk lengan sang kaka ke ruang makan, dan mereka melihat kedua orang tua mereka sudah menunggu.


"Kalian lama banget sih" tanya Alex.


"Maaf pa" ucap Alber dan Adel.


Alex dan sang istri hanya tersenyum melihat kelakuan kedua anak mereka, apa lagi melihat kelakuan Adel yang sangat manja pada sang kaka.


Keluarga itu pun memulai sarapan, sesekali Alex menanyakan perkembangan perusahaan mereka yang ada di Amerika yang saat ini di pimpin oleh sang putra, sedangkan Caroline dan Adel hanya menjadi pendengar obrolan kedua pria itu.


"Ma, ntar kita ngemoll yuk" ajak Adel.


"Iya nanti ijin papa dulu" ucap Caroline.


"Asik, papa pasti ngijinin kok ma" ucap Adel.


"Belum minta ijin aja udah bilang ijinin" ucap Alex.


"Karena Adel tau papa gak bisa bilang tidak" ucap Adel sambil tertawa memperlihatkan deretan gigi putihnya.


"Kenapa gak ngajak pacar aja" ucap Albert masi fokus dengan makanannya.


"Aku kan gak punya pacar kak" ucap Adel.


Membuat pergerakan menguyah Adel terhenti melihat sang kaka, membuat Alber juga melihat ke arah sang adik.


"Itu teman kak" ucap Adel.


"Bukan pacar?" tanya Albert.


"Bukan kak" ucap Adel.


"Iya-iya teman, hibisin sarapannya" ucap Albert, kembali melanjutkan sarapannya.


Sedangkan Alex dan sang istri hanya saling pandang mendengar obrolan kedua anak mereka.


☘☘☘☘


Maya kembali memasuki kamar yang di tempati oleh gadis itu, Maya melihat gadis itu sedang duduk di lantai di sudut lemari.


Maya meletakan nampang yang berisi makanan untuk gadis itu, gadis itu melihat Maya dengan tatapan tajam.


"Pembunuh" teriak gadis itu.


"Hem, saya udah baik-baikin kamu loh bawa makanan ke sini" ucap Maya dengan sombongnya.


Gadis itu berdiri dan mendekati nampang yang berisi makanan itu, gadis itu tersenyum mengejek melihat Maya dan...


Prangg...


Nampang yang berisi makanan yang di bawa oleh Maya berserah kan di lantai karena gadis itu, gadis itu membalik nampang berisi makanan itu.


"Dasar gadis gila, kamu pikir cari makan gampang apa ha" bentak Maya.


Bukannya takut gadis itu malah mendekati Maya dan mengambil beling yang pecah itu di lantai.


"Mau apa kamu" tanya Maya dengan takut.


"Mau melenyapkan orang jahat seperti kamu" ucap gadis itu.


"Pa, papa tolong mama pa" teriak Maya ketakutan.


"Jangan mendekat, atau saya akan bikin kamu menyesal seumur hidup" ucap Maya, tapi tidak membuat gadis itu merasakan takut.


"Pa papa" teriak Maya lagi.


Clekk...


"Ada apa sih ma" tanya Martin yang baru saja masuk.


"Hey apa yang kamu lakukan ha" ucap Martin kaget.


"Mau melenyapkan kalian hahahaha" ucap gadis itu sambil tertawa.


"Pa, kayanya gadis itu benar-benar gila" ucap Maya.


Martin menarik tangan sang istri dengan cepat keluar dari kamar gadis itu, sebelum gadis itu nekat dengan beling yang ada di tangannya.


Selepas Martin dan sang istri keluar dari dalam kamar itu, Gadis itu melihat makanan yang berserah kan di lantai kemudian ia kembali histeris dan menangis dengan kuat, sampai Martin, Maya dan ketiga anak buah Martin mendengar teriakan gadis itu.


"Pa, kita harus cepat meminta pak Erwin untuk datang ke sini" ucap Maya.


"Iya ma, papa udah nelpon pak Erwin kembaran dan beliau sedang berada di luar kota dan akan kembali seminggu lagi" ucap Maya.


"Lama banget sih seminggu, bisa-bisa mama ikutan gila karena adanya gadis itu" ucap Maya kesal.


"Sabar sayang, sedikit lagi kita akan mendapatkan semua nya" ucap Martin.


"Udah ah, mama mau ketemu sama teman-teman arisan mama dulu" ucap Maya mengambil tas branded miliknya.


"Jangan pulang malam ma" ucap Martin.


"Gak pa, gak sampai sore juga kok" ucap Maya.


"Kalian jaga kamar itu jangan sampai ga dia itu kabur, saya mau tidur dulu ngantuk" ucap Martin.


"Siap bos" ucap bos preman.


Next...


Jangan lupa Like, Komen sama Vote ya guys....