Jovian & Maura

Jovian & Maura
Sebuah Rencana



"Kity, jangan tolong jangan sakiti putri kuuu" seorang wanita sedang mengigau dalam tidurnya, membuat sang suami yang sedang berbaring di dekatnya menjadi kaget dan membuka kedua matanya.


"Ma bangun ma, mama" ucap sang suami membangunkan sang istri.


"Pa, mama mimpi buruk tentang kity pa" ucap sang istri dengan peluh membasahi wajahnya.


"Mama tenang dulu itu hanya mimpi buruk ma" ucap sang suami menenangkan sang istri.


"Tapi mama kuatir dengan putri kita pa" ucap sang istri yang sudah mulai menangis.


"Iya secepat nya kita akan kembali ya" bujuk sang suami mengusap rambut sang istri.


"Papa juga sangat menghawatirkan putri kita ma" ucap sang suami dalam hati.


Sang suami memeluk sang istri dengan erat, sambil mengusap kepalanya sampai sang istri kembali terlelap.


Setelah melihat sang istri sudah kembali terlelap, pria itu pun mengambil ponsel jadul yang ia sembunyikan di lemari usang tempat baju mereka.


Pria itu lalu keluar dengan pelan dari dalam kamar mereka, kemudian mengaktifkan ponsel itu yang ternyata selalu ia nonaktifkan dan nanti ia aktifkan kembali kalau ingin menghubungi seseorang.


"Hallo pak Erwin maaf saya menganggu waktu istirahat pak Erwin" ucap pria itu yang ternyata sedang menghubungi sang pengacara.


"Tidak apa-apa pak saya mala senang akhirnya bapak mau menghubungi saya, ada yang bisa saya bantu pak" tanya pak Erwin dari seberang telpon.


"Seminggu lagi saya dan istri akan kembali pak, pak Erwin bisa bantu saya" tanya pria itu.


"Bisa banget pak" ucap pak Erwin.


Pria itu pun mengatakan rencana yang akan mereka lakukan setelah ia kembali seminggu lagi, ia akan memberi pelajaran pada pada pria yang tidak tau terima kasih itu.


"Baik-baik pak, saya akan urus semuanya" ucap pak Erwin dari seberang telpon.


Selesai membicarakan rencana mereka, pria itu memutuskan sambungan telpon dengan sang pengacara, lalu kembali menonaktifkan ponsel jadulnya lagi.


"Tunggu papa sama mama kembali sayang" ucap pria itu dalam hati.


Pria itu kembali masuk ke dalam kamar menyimpan ponsel jadul itu di tempat semula, lalu kembali berbaring di dekat sang istri untuk menyusul sang istri ke alam mimpi.


☘☘☘☘


Mobil yang di kendarai oleh Jovian tiba di depan rumah Martin, kedua pria dalam mobil melihat suasana rumah yang sedang sepi itu dan melihat mobil martin sudah terparkir di garasi.


"Kemungkinan pria itu sudah membawa gadis itu ke sini" ucap Jovian.


"Ayo kita turun" ajak Jovian.


Pada saat kedua pria itu ingin turun dari mobil, tiba-tiba ponsel milik Gilang berbunyi pertanda kalau pesan masuk dari anak buahnya.


Gilang membaca pesan itu, lalu menunjukan pada sang sahabat membuat Jovian mengernyit keningnya heran lalu melihat Gilang.


"Jadi kedua orang tua gadis itu masi hidup" tanya Jo tak percaya.


"Iya, dan orang suruhan ayah dari gadis itu meminta kita membiarkan gadis itu bersama Martin, karena mereka yakin tidak akan menyakiti gadis itu" ucap Gilang.


"Kenapa mereka bisa bilang begitu" tanya Jo.


"Karena Martin ingin gadis itu menerima surat wasiat itu, lalu setelah itu Martin bisa menguasai harta itu" ucap Gilang.


Jovian hanya mengangguk ganggu kepalanya pertanda kalau sekarang ia sudah mengerti maksud dari sang sahabat.


Kedua pria itu pun kembali masuk ke dalam mobil, lalu mobil kembali melintas di jalan raya yang sedikit sepi karena sekarang jam sudah menunjukan pukul setengah 3 dini hari.


Kalau di tanyain dari mana anak buah Gilang tau dengan semua rencana pria itu dan pengacaranya, karena anak buah Gilang bekerja sama dengan anak buah pengacara itu untuk mencari tau tentang gadis itu yang menghilang.


☘☘☘☘


Setelah mengantar Gilang, Jovian kembali ke kediamannya sepanjang jalan hujan turun dengan deras, membuat Jovian mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Tak lama kemudian mobil Jovian tiba di kediaman mereka, Jo turun dari mobil hujan masi sangat deras sehingga membuat pria itu sedikit basah.


Di balkon kamar Maura melihat kedatangan sang suami, rupanya Maura tidak tidur lagi setelah kepergian sang suami dengan cepat Maura masuk ke dalam kamar dan kembali berpura-pura tidur agar sang suami tidak curiga.


Clekk..


Jovian membuka pintu kamar mereka dan melihat sang istri masi tertidur pules, Jo langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya yang sedikit basah dengan hujan.


Di tempat tidur Maura kembali membuka kedua matanya, dan lagi-lagi air mata mengalir begitu saja dari kedua pelupuk matanya.


"Sebernaya apa yang kamu sembunyikan dari aku" ucap Maura dalam hati.


Maura mengusap air matanya dengan kasar, ia sudah bertekad akan mencari tau semuanya sendiri, Maura lalu kembali memejamkan kedua matanya karena Jovian keluar dari kamar mandi.


Jo mengambil celana pendek miliknya di dalam lemari lalu memakainya, kemudian Jo naik ke atas ranjang bergabung dengan sang istri, Jo memeluk sang istri yang Jo tau kalau sang istri sedang tertidur pules padahal tidak.


☘☘☘☘


Keesokan harinya, gadis itu terbangun dari tidur ia merasakan pusing karena pengaruh obat bius itu, gadis itu melihat seisi kamar yang sangat berbeda kali ini bukan seperti kamar yang ia tempati di apartemen.


"Ini di mana?" ucap gadis itu seorang diri.


Tak lama kemudian pintu terbuka dan masuklah Martin dan sang istri, gadis itu menggeleng kepala melihat mereka.


"Mau apa kalian, pergi kalian sudah membunuh papa sama mama pergi" ucap gadis itu kembali histeris.


"Iih, pa dia jadi gila ya" ucap Maya.


"Aku bilang pergi kalian, kalian orang jahat" teriak gadis itu lagi.


"Udah ma, kita hanya butuh dia untuk menerima surat wasiat itu kok habis itu kita usir aja dia" ucap Martin sambil tersenyum licik.


"Iya lah pa, aku gak mau ada orang gila di rumah baru kita nanti" ucap Maya rumah baru yang di maksud adalah kediaman rumah pak Faisal.


"Ayo kita keluar aja, biarin dia teriak-teriak sendiri" ucap Martin mengajak sang istri.


"Sebentar lagi kita akan menjadi orang kaya pa, mama akan beli banyak perhiasan agar mama bisa pamer sama teman-teman mama" ucap Maya yang sudah berkhayal duluan.


"Iya ma, semuanya nanti akan menjadi milik kita" ucap Martin.


Di dalam kamar gadis itu kembali terisak, mengingat kejadian yang menimpah kedua orang tuanya, di bunuh karena ingin mengambil harta.


"Papa, mama aku kangen sama kalian" ucap gadis itu sambil menangis.


Lalu gadis itu kembali berteriak histeris, karena perlakuan preman-preman itu padanya tempo hari.


***Next..


Jangan lupa Like, Komen sama Vote ya guys***...