Jovian & Maura

Jovian & Maura
Martin Membawa Gadis Itu



Terlihat ketiga preman sedang menunggu kedatangan sang bos Martin, malam ini mereka akan menjalankan rencana mereka ya itu membawa gadis itu dengan paksa.


Ketiga preman itu melihat mobil sang bos berhenti sedikit jauh dari parkiran apartemen itu, ketiganya langsung mendekat.


"Bos" panggil bos preman.


"Apa semuanya sudah aman" tanya Martin.


"Aman bos, kita tinggal menunggu waktu yang tepat" ucap bos preman.


"Bagus kali ini kita jangan sampai gagal lagi" ucap Martin.


"Siap bos" jawab ketiga preman itu.


Waktu semakin larut, saat ini jam sudah menunjukan pukul 12 malam, terlihat masi orang yang berlalu lalang biarpun sudah larut malam.


Di rasa semua mulai aman, Martin dan ketiga anak buahnya pun mulai bergerak, mereka masuk ke dalam lift menuju lantai di mana unit itu berada.


Ting....


Martin dan ketiga anak buahnya keluar dari dalam lift melihat suasana mulai aman, mereka berempat saling memberi kode melalui mata.


Martin memberi kode pada anak buahnya untuk segera membobol pintu apartemen itu, anak buahnya menganggu dan langsung membobol pintu itu.


Cukup lama dan kesusahan juga, akhirnya pintu pun terbuka.


"Bos pintunya sudah terbuka" ucap bos preman.


"Ayo kita masuk" ucap Martin.


Mereka berempat masuk, ruang tamu terlihat gelap karena karena bi Yati selalu mematikan lampu ruang tengah.


Martin berjalan ke arah salah satu kamar, yang di pastikan itu adalah kamar gadis itu Martin langsung membuka pintu yang tak di kunci itu.


Clekk...


Martin melihat gadis itu sedang meringkuk di atas tempat tidur yang besar itu, masi dengan rambut acak-acakan.


Martin mengambil sapu tangan yang sudah di semprot dengan obat bius, Martin berjalan mendekati gadis itu.


"Bos" panggil anak buah Martin, membuat gadis yang tadi tertidur pules membuka ke dua matanya.


Gadis itu terlihat menggeleng kepala dan hendak berteriak tapi terlambat karena Martin suda membekap mulutnya dengan obat bius.


"Bawa dia" perintah Martin pada anak buahnya setelah melihat gadis itu sudah pingsan.


Bi Yati yang merasakan haus keluar dari kamarnya, hendak melangkah menuju dapur bi Yati mendengar suara langkah dari ruang depan dan melihat gadis itu sudah di bawa pergi oleh orang-orang bertopeng dari balik pintu.


"Nenggg..." panggil Bi Yati mengejar mereka tapi terlambat karena sudah masuk ke dalam lift.


"Aku harus cepat menghubungi pak Jo" ucap Bi Yati kembali masuk ke kamar dan mencari ponselnya untuk menghubungi pak Jo.


☘☘☘☘


Di kediaman Jovian...


Pasangan suami, istri itu baru saja terlelap beberapa menit yang lalu karena pertempuran yang terjadi.


Ponsel milik Jo berdering di atas meja nakas, pertanda panggilan masuk. Jovian mengambil ponselnya dan melihat si penelpon.


"Bi Yati, ada apa malam-malam nelpon" ucap Jovian dalam hati ia juga belum melihat pesan yang di kirim bi Yati tadi sore.


Jovian memindah tangan sang istri dengan pelang dari atas lengannya, lalu Jo turun dari ranjang mengambil handuk kimono lalu berjalan ke arah balkon kamar.


Maura yang merasa pergerakan Jovian ia pun membuka kedua mata nya, karena Maura juga belum sepenuhnya tidur karena kelelahan ulah sang suami.


"Kak Jo ngomong sama siap sih, kenapa harus menjauh gitu ngangkat telponnya" ucap Maura dalam hati.


Dengan pelan Maura turun dari atas ranjang mengambil handuk kimono miliknya, lalu berjalan pelan ke arah pintu balkon yang terbuka.


"Pak Jo, orang-orang bertopeng itu membawa gadis itu pergi pak Jo" ucap bi Yati panik dari seberang telpon.


"Apa, kenapa bisa gitu bi" tanya Jovian.


"Mereka membobol pintu apartemen pak Jo" ucap Bi Yati sambil terisak karena megutuki kesalahan nya.


"Sekarang bibi tenang dulu, biar saya ke sana sekarang, saya yakin gadis di bawa pergi oleh pria bajingan itu" ucap Jovian.


"Gadis, gadis siapa yang di maksud kaka Jo" ucap Maura dalam hati.


Mendengar sang suami akan masuk, dengan cepat Maura naik ke atas ranjang dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut dan pura-pura tidur.


Jovian mengambil baju santai miliknya dalam lemari dan menganti handuk itu dengan baju yang ia ambil itu, ia harus segera pergi ke apartemen.


Selesai memakai baju, Jovian mendekati sang istri mencium kening Maura dan mengatakan sesuatu.


"Aku pergi sebentar ya sayang, maaf kan aku" ucap Jovian mengecup kening sang istri cukup lama lalu beranjak keluar dari kamar mereka.


Mendengar pintu kamar tertutup Maura membuka kedua matanya, bersamaan dengan air mata yang keluar dari pelupuk matanya juga.


"Apa yang kamu sembunyikan dari aku, kenapa kamu menyebut gadis, gadis siapa? hikz" ucap Maura dalam hati sambil terisak.


Saat ini pikiran Maura sedang menerka-nerka tentang obrolan sang suami dengan seseorang yang bernama bi Yati itu, Maura sangat yakin kalau saat ini suaminya sedang menyembunyikan sesuatu darinya.


Di bawa Jovian langsung masuk ke dalam mobil sambil menghubungi sang sahabat, Gilang yang sedang terlelap tidur bersama sang istri pun di kaget kan dengan getaran ponsel di atas meja nakas.


Gilang meraba-raba ponsel miliknya dan melihat si pemanggil yang tak lain adalah Jovian.


"Ngapain sih malam-malam telpon" ucap Gilang dalam hati.


"Hallo ada apa" tanya Gilang.


"Kita ke apartemen sekarang Martin dan anak buahnya membawa gadis itu pergi" ucap Jovian dari seberang sana.


"Kok bisa" tanya Gilang.


"Nanti aja ceritanya sekarang gue mau ke rumah loh, kita pergi bersama" ucap Jovian.


"Iya" jawab Gilang lalu sambungan telpon terputus.


Gilang melihat wajah damai sang istri yang sedang tertidur pules, Gilang mengecup kening itu lalu turun dari ranjang, menganti piyama tidur dengan baju santai.


Melihat mobil Jo tiba, Gilang langsung saja masuk ke dalam mobil, mobil Jo pun kembali membelah jalan raya menuju apartemen itu.


"Gimana ceritanya sih mereka bisa membawa gadis itu" tanya Gilang.


"Mereka membobol pintu apartemen saat bi Yati dan gadis itu sedang tidur pules" ucap Jovian masi fokus dengan kemudinya.


Gilang mengusap wajahnya dengan kasar, mereka harus secerah bertindak karena kalau gak Martin dan anak buahnya akan selalu membuah ulah.


Tak lama kemudian mobil yang di kendarai oleh Jovian tiba di parkiran apartemen, kedua pria itu keluar dan langsung masuk ke dalam lift.


Ting...


Pintu lift terbuka, Gilang dan Jovian keluar dari lift dan melihat bi Yati yang sedang menangis di depan pintu.


"Bi Yati" panggi Jovian.


"Pak Jo, mereka membawa gadis itu pergi pak" ucap Bi Yati sambil terisak.


"Bibi tenang dulu, kami akan membawa gadis itu kembali" ucap Jovian yang mendapat anggukan dari Gilang.


Setelah mengobrol beberapa kata denga bi Yati, Gilang dan Jovian pergi lagi untuk mencari gadis itu.


Next....


Jangan lupa Like, Komen sama Vote ya guys...