Jovian & Maura

Jovian & Maura
Maura Hamil



Jovian dan Maura saat ini sudah siap pergi ke rumah sakit, seperti perkataan Jo kemari pada sang mami, kalau hari ini ia akan menemani sang istri untuk mengecek ke rumah sakit apa dugaan mereka benar atau tidak.


"Sayang sudah siap" tanya Jo yang saat ini sudah siap.


"Udah sayang, tapi mampir makan bubur lagi ya" ucap Maura dengan wajah penuh mohon.


"Iya sayang ku" ucap Jovian.


"Ayo" ajak Maura.


Jo dan sang istri pun turun ke lantai bawa, Jo memberi tahu kedua art nya kalau ia dan sang istri akan pergi ke rumah sakit.


Jovian membukakan pintu untuk sang istri, tak lupa Jo langsung memasang sabuk pengaman untuk sang istri, setelah itu Jo memutari mobil dan duduk di kursi kemudi.


Mobil pun keluar dari kediaman mereka, Jovian mengemudikan mobilnya dengan pelan, berbelok arah singa di tempat bubur kemari yang mereka datangi.


Waktu saat ini masi menunjukan pukul 9 pagi, karena Jo sudah membuat janji dengan dokter kandungan jadi tak apa-apa datang sedikit telat, karena Jo harus menemani sang istri makan bubur dulu.


Tiba di tempat makan bubur, Jo dan sang istri turun dari mobil, pak penjual menyapa keduanya dengan ramah.


"Mas, neng mau bubur lagi" tanya pak penjual.


"Iya pak, dua mangkuk ya" ucap Maura.


"Siap neng, silahkan duduk dulu neng, mas" ucap pak penjual dan mulai membuat pesanan Maura.


Maura mengusap perutnya yang masi rata, lalu tersenyum melihat sang suami.


"Ada apa sayang" tanya Jo mengusap punggung sang istri.


"Mudah-mudahan dia benar-benar tumbuh ya sayang" ucap Maura dengan bahagia.


"Aminn, aku juga sangat berharap begitu sayang" ucap Jovian membalas senyum manis sang istri.


"Permisi neng, mas ini bubur nya" ucap pak penjual.


"Terimakasih ya pak" ucap Jovian dan Maura.


"Sama-sama neng, mas silahkan" ucap pak penjual.


Maura pun mulai mencicipi bubur nya dengan pelan karena masi panas, dan itu sangat enak buat Maura yang sedang ngidam.


☘☘☘☘


Di sisi lain si kembar dan kedua sahabatnya melihat kak Dev yang sedang menuruni tangga, dan masi mengenakan pakaian rumahnya.


"Tat Dep ungu(kak Dev tunggu)" panggi si kembar.


Membuat langkah kak Dev terhenti dan menoleh ke belakang, Dev melihat keempat bocah kecil itu berjalan menuruni tangga menyusulnya.


"Ada apa" tanya kak Dev.


"Tat Dep ga ekola ya(kak Dev gak sekolah ya)" tanya Galih.


"Gak, sekolah kaka lagi ada kegiatan hari ini kenapa" tanya Dev menatap keempat bocah kecil itu.


"Adus anet don alo ditu(bagus banget dong kalau gitu)" ucap Galih lagi.


"Memangnya kenapa?" tanya Dev menatap keempat bocah kecil itu dengan curiga.


"Emanin ita ain ola(temanin kita main bola)" ucap Galah.


"Beehh, gak kak Dev lagi mau nyantai" ucap kak Dev.


"Au antai di ana tat, ita itut don(mau nyantai di mana kak, kita ikut dong)" ucap Galih.


"Anak kecil gak boleh ikut, ini cuma khusus orang dewasa" ucap kak Dev.


Si kembar dan kedua sahabatnya tak habis akal, mereka terus membujuk kak Dev agar mau mengajak mereka ikut.


Setelah si kembar menyebut eyang Sinta kesayangan mereka pun kak Dev tak bisa berkutik, dengan berat hati Dev mengajak mereka yang pasti akan berbuat onar.


Sebelum pergi pun kak Dev meminta ijin pada mami Ambar, untuk mengajak keempat bocah kecil itu untuk ikut dengannya sebentar.


Si kembar dan kedua sahabatnya bersorak senang karena di bolehkan ikut oleh sang mami, sedangkan kak Dev hanya menggeleng kepala melihat kehebohan keempat bocah kecil itu.


Tiada hari tampa gangguan si kembar dan kedua sahabatnya, membuat kepala kak Dev serasa mau pecah karena mereka.


☘☘☘☘


Selesai makan bubur, Jovian dan Maura kembali masuk ke dalam mobil, tujuan keduanya saat ini adalah rumah sakit, Jo sudah memperkirakan kalau mereka akan telat stengah jam.


Tak lama kemudian mobil Jovian memasuki area parkiran rumah sakit, Jo membukakan pintu untuk sang istri lalu keduanya masuk ke dalam rumah sakit itu.


Dokter kandungan sudah menunggu di ruangannya, mereka pun langsung di arahkan oleh seorang suster ke ruangan Dokter kandungan itu.


Tokk...


Tokkk...


Sebelum masuk Jo mengetuk pintu terlebih dahulu, setelah mendapat sahutan dari dalam pasangan suami, istri itu pun masuk.


"Mari pak, bu silahkan masuk" ucap dokter yang memakai hijab itu.


"Maaf kami telat dok, tadi istri saya kepengen bubur jadi kami mampir dulu" ucap Jovian tak enak.


"Tidak apa-apa pak saya mengerti" ucap dokter yang bernama Azizah itu.


"Silahkan duduk pak Jo, bu Maura" ucap dokter Azizah.


"Terimakasih dok" ucap Jo dan Maura.


"Bisa di ceritakan keluhannya bu Maura" ucap dokter Azizah.


Maura pun menceritakan semaunya yang terjadi padanya setiap pagi hari, dan mual saat mencium masakan yang tak ia sukai, dokter Azizah mendengar semua yang di katakan oleh pasien nya.


"Ibu Maura sudah cek dengan tes pec bu?" tanya dokter Azizah.


"Belum dok" ucap Maura.


"Ya sudah kita cek untuk memastikan ya buk, pak" ucap dokter Azizah, yang mendapat anggukan dari Jovian dan Maura.


Dokter Azizah meminta Maura untuk berbaring di atas berangka yang sudah di siapkan di ruangannya.


"Permisi di angkat sedikit ya bu Maura bajunya" ucap dokter Azizah mengangkat blouse yang di kenakan Maura sampai dada.


Lalu dokter Azizah mulai menuangkan jell ke perut Maura, dan meratakan mengunakan alat dan memulai pemeriksaannya.


Dokter Azizah mulai menggeser alat untuk melihat hasil yang USG nya, beberapa kali dokter Azizah melakukan itu dan senyum terbit di bibir dokter berhijab itu.


"Selamat ya pak Jo, bu Maura, ibu Maura benar-benar hamil, dan ini usia kandungan janinnya baru memasuki minggu ke empat" ucap dokter Azizah.


"Benar dok, istri saya hamil?" tanya Jovian lagi.


"Benar pak, jenis kelaminnya belum bisa di ketahui karena karena usia kandungan buk Maura masi sangat mudah" ucap dokter Azizah lagi.


"Sayang, kamu beneran hamil" ucap Jovian dengan raut wajah senang.


"Iya sayang Alhamdulillah,, mommy sama mami pasti senang dengar nya" ucap Maura.


Selesai melihat perkembangan janin di dalam kandungan Maura, dokter Azizah kembali membersihkan sisa jell di perut Maura, lalu meminta pasangan suami dan istri itu kembali duduk di kursi berhadapan dengan dokter Azizah.


"Saya minta ibu Maura perbanyak istirahat, dan jangan terlalu capek karena usia kandungan ibu masi sangat mudah" ucap dokter Azizah.


"Baik dok" ucap Maura mengusap perut rata.


"Saya akan kasi vitamin penghilang rasa mual kalau bu Maura mengalami mual ya" ucap dokter Azizah.


Setelah selesai melakukan pemeriksaan, dan sudah mendapat vitamin penghilang mual, Jo dan Maura pamit pulang.


Next....


Jangan lupa Like, Komen sama Vote ya guys...