
Dev melihat kedua bocah kembar yang sedang bermain dengan sang mami di ruang tengah, padahal sekarang jam sudah menunjukan pukul 10 malam, tapi kedua bocah kembar itu masi aktif bermain.
"Boy.." panggil papi Gilang memasuki ruang tengah.
"Api(papi)" panggil Galah dan Galih bersama.
"Belum tidur ya, udah telat loh" tanya papi Gilang .
"Elum la pi ita tan agi ungu ucel Dep(belum lah pi kita kan lagi nunggu uncle Dev)" ucap Si kembar bersama.
Gilang melihat kedua putra kembarnya, lalu Gilang melihat adik sepupunya itu. Pandangan si kembar pun juga melihat ke arah pria bule yang sedang berdiri di dekat sang papi.
"Ni kenalin ini uncle Dev" ucap papi Gilang.
"Ai ucel Dep(hay uncle Dev)" sapa si kembar dengan rama.
"Hay, ya ampun kalian tuh lucu-lucu banget sih" ucap Dev mengusap wajah kedua bocah kembar itu.
"Ia don cel(iya dong uncle)" ucap si kembar.
"Tapi jangan panggil uncle dong, gak keren" ucap Dev berjongkok mensejajarkan tingginya dengan si kembar.
"Lus ita agi apa don agil om(terus kita manggil apa dong panggil om)" tanya Galih.
"Jangan om juga panggil kaka, kak Dev" ucap Dev.
"Tata, api tan ucel utan tata ita(kaka, tapi kan uncle bukan kaka kita)" ucap Galah.
"Ya gak papa biar kedengaran keren gitu" ucap Dev.
"Ia de ita agil tat Dep(iya deh kita panggil kak Dev)" ucap si kembar.
"Gitu dong" ucap Dev mengusap kepala kedua bocah kembar itu.
"Tat Dep au igal di uma ita(kak Dev mau tinggal di ruang kita)" tanya Galih.
"Iya dong, nanti kita jadi teman ya" ucap Dev.
"Ia tat, anti ita enalin ama eman ita ya(iya kak, nanti kita kenalin sama teman kita ya)" ucap Galah.
"Oke" ucap Dev.
"Kaka ipar" sapa Dev pada Ambar.
"Dev, giman perjalanan kamu" tanya Ambar.
"Sedikit melelahkan kak" ucap Dev.
"Sayang ayo tunjukkin kamar nya kak Dev ya" ucap mami ambar.
"Ia ami(iya mami)" jawab si kembar bersama.
"Sayang wajah kamu kok pucat, kamu sakit" tanya Ambar melihat sang suami.
"Gak papa kok sayang, cuma ngerasa pusing dikit" ucap papi Gilang.
"Ya udah ayo kita ke kamar" ajak mami Ambar.
Sedangkan si kembar dan kak Dev sudah naik ke lantai dua, di mana kamar mereka berada.
"Tat ni amal ita, tu amal tata(kak ini kamar kita, itu kamar kaka)" ucap Galah.
"Makasih ya, kaka mau istirahat dulu udah ngantuk, kalian juga istirahat ya udah telat ini" ucap Dev.
"Ia tata(iya kaka)" ucap si kembar masuk ke dalam kamar mereka.
Begitu pun dengan Dev, Dev masuk ke dalam kamarnya yang sangat besar itu, rupanya mami Ambar sudah menyiapkan semuanya untuk pemuda itu.
☘☘☘☘
Jovian sedang menemani sang istri menonton drama korea kesukaan Maura, setelah makan malam, Maura meminta untuk di temani menonton pilem kesukaannya itu.
"Sayang tidur yuk udah telat" ucap Jovian mengusap rambut panjang Maura.
"Dikit lagi sayang, dikit lagi udah mau end ini" ucap Maura.
Jovian pun lagi-lagi mengalah, dari pada nanti berdebat terus berantem.
Jovian melihat sang istri yang mai menguap, pertanda kalau gadis itu sudah mengantuk.
"Sayang tidur yuk" ajak Maura.
Jovian membenahi bantal untuk sang istri, dan menarik selimut untuk menutup keduanya. Jovian juga tidak lupa mematikan lampu besar dan hanya menyisakan lampu tidur saja.
☘☘☘☘
Laura turun dari lantai atas untuk mencari keberadaan sang mama, Laura melihat mama nya sedang sibuk dengan panci penggorengan.
Mama Ayu kaget sebuah tangan yang melingkar di perutnya, mama Ayu mengenali siapa pemilik tangan mungil itu.
"Sayang bantuin mama masak dong" ucap mama Ayu.
"Aku liatin mama aja ya" ucap Laura.
"Kamu tuh ya, nanti kalau di lamar pria tapi belum bisa masak gimana" tanya mama Ayu.
"Memangnya siapa yang mau ngelamar aku ma" tanya Laura.
"Bisa saja nak Tio" ucap mama Ayu, melirik sang putri yang sedang duduk di kursi meja makan.
Tiba-tiba Laura berdiri dan mendekati sang mama.
"Laura harus mantu apa ma" tanya Laura.
"Tolong ambilkan telur di kulkas sayang" ucap mama Ayu.
Laura pun mengambil telur yang ada di dalam kulkas, Laura juga melihat bagaimana mama nya membuat telur mata sapi setengah manta.
Selesai membuatkan sarapan, Laura membantu sang mama menata semua menu sarapan di meja makan dengan rapi.
"Wah, putri papa masak ma" tanya papa Faisal yang baru saja datang.
"Gak pa, cuma bantu mama doang" ucap Laura.
Mama Ayu tersenyum melihat sang suami, selesai menata semua menu sarapan, Laura kembali ke kamar untuk membersihkan diri membiarkan papa dan mama nya sarapan terlebih dahulu, karena papa Faisal akan berangkat ke kantor.
☘☘☘☘
Mami Ranti baru saja tiba di kediaman putra dan menantunya, mami Ranti mencari keberadaan pasangan suami istri itu yang tak terlihat batang hidung mereka.
"Bi, putra sama menantu saya belum bangun" tanya mami Ranti.
"Belum bu, mungkin sedikit lagi" ucap bibi.
Mami Ranti duduk di ruangan tengah, pria paru baya itu menyalakan TV dan menonton berita pagi.
"Aduh kasian, anak kok bunuh ibunya sih" ucap mami Ranti seorang diri.
Dari lantai atas Maura dan Jo mendengar suara tv, Jovian dan Maura saling pandang.
"Mami" panggil Jovian dari tangga melihat sang mami yang sedang duduk menonton.
"Baru bangun sayang, gimana udah ada tanda-tanda gak cucu buat mami" ucap mami Ranti.
"Dalam proses mam" jawab Jovian.
"Mi, kok gak manggil kita sih" tanya Maura mendekati mami Ranti.
"Mami takut ganggu sayang" ucap mami Ranti.
"Iya sayang kita kan lagi berusaha kasi mami cucu" ucap Jovian.
Yang mendapat cubitan dari sang istri, membuat mami Ranti yang melihat itu tersenyum geli.
"Kok di cubit sih sayang" tanya Jovian.
Bukanya menjawab, Maura malahan mendekati sang mami.
"Mi kita ke dapur yuk" ajak Maura.
"Ayo sayang" ucap mami Ranti.
Jovian melihat kepergian istri dan maminya masuk ke dapur, pria yang sudah rapi dengan jas itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Jovian lalu menyusul kedua wanita itu ke dapur, Jo melihat sang istri sedang menata sarapan pagi yang di buatkan oleh bibi, sedangkan mami Ranti sedang mengupas buah buat cuci mulut sehabis sarapan nanti, Jovian duduk di kursi yang biasa ia duduki.
Next....
***Jangan lupa Like, komen sama Vote ya guys...
Tenang di bab-bab berikutnya pasti Maura hamil kok guys....
Jangan lupa mampir ke cerita si kembar juga, semakin seru loh si kembar dan kedua sahabatnya***.