
"Stop sayang" ucap Maura.
"Kenapa sayang, ini kan sabun kesukaan kamu" ucap Jovian melihat sang istri.
"Aku gak suka sama bau nya, gak enak" ucap Maura.
Jo lagi-lagi di buat bingung dengan sang istri, padahal kan sabun itu kesukaan sang istri dari dulu, dan Maura pernah mengatakan tak ingin menganti sabun itu sampai kapan pun.
Maura mengambil botol sabun cair itu dari tangan sang suami, dan meletakan kembali ke rak sabun, lalu Maura mengambil sabun milik sang suami dan menuangkannya ke dalam bat up.
"Nah yang ini wangi, aku suka sayang" ucap Maura.
"Ayo mandi" ajak Maura membuyarkan lamunan Jovian.
"Aa, iya ayo kita mandi sayang" ucap Jovian.
30 menit kemudian pasangan suami istri itu selesai dengan mandi mereka, dan sekarang sudah siap turun ke lantai bawa untuk sarapan, bukan lebih tepatnya makan siang, karena saat ini jam sudah menunjukan pukul 11 siang.
"Bu, pak makan siang nya sudah siap" ucap bibi.
"Iya bi terimakasih ya" ucap Jovian.
"Sama-sama pak" jawab bibi kemudian berlalu dari hadapan pasangan suami dan istri itu.
Jo mengajak sang istri ke ruang makan, belum jga duduk Maura sudah berkata.
"Sayang, aku pengen makan bubur ayam yang ada di depan kantor uncle Nick" ucap Maura menatap sang suami.
"Kamu serius sayang, ini udah siang loh besok aja ya, kita makan ini dulu tuh bibi udah masak banyak" ucap Jovian melihat semua menu yang ada di meja.
Maura pun berbalik meninggalkan meja makan, membuat Jo kembali mengejar sang istri yang ternyata sudah terisak.
"Oke, kita ke sana sekarang ya" ucap Jo.
"Ayo sayang" ucap Maura dengan mata berbinar, sisa air mata pun di hapus oleh Jo.
Jo membukakan pintu untuk sang istri, lalu Jo masuk dan duduk di kursi kemudi, Jo memasang kan sabuk pengaman untuk sang istri, lalu mobil pun keluar dari area rumah mereka.
"Sayang Sebernaya kamu ini kenapa" ucap Jo sesekali melirik sang istri yang duduk di sampingnya.
Tak butuh waktu lama, mobil Jo pun terparkir tak jauh dari gerobak penjual bubur, terlihat juga banyak pembeli yang mengantri.
"Sayang di bungkus aja ya nanti makan di rumah" ucap Jo.
"Gak mau, aku maunya makan di sini sayang" ucap Maura.
"Benar sayang" tanya Jo memastikan.
"Iya, ayo turun aku udah laper" ucap Maura.
"Iya ayo" ucap Jovian.
Pasangan suami dan Istri itu pun turun dari mobil, lalu mendekati penjual bubur itu.
"Pak pesan bubur nya sa..." ucapan Jo terhenti karena sang istri.
"Dua mangkuk ya pak" ucap Maura.
"Sayang kan cuma kamu aja, kok pesan dua" tanya Jovian saat ini mereka sudah duduk di salah satu meja.
"Semuanya buat aku sayang" ucap Maura sambil tersenyum.
"Hah, kamu yakin bisa habisin dua mangkuk" tanya Jovian.
"Iya sayang" ucap Maura.
Jo hanya mengangguk kepala, takut kalau berdebat nanti salah lagi bisa berabe nanti kalau seng istri nangis di depan banyak orang gini.
"Ini neng bubur nya, masih panas-panas" ucap pak penjual.
"Asik, makasih ya pak" ucap Maura.
"Sama-sama neng" ucap pak penjual dan kembali melayani pembeli yang lain.
Maura pun mulai menyantap bubur nya, sedangkan Jo hanya melihat karena ia memang tidak menyukai bubur dari dulu.
Jo melihat gedung tinggi di depan sana, gedung milik keluarga Wijaya, Jo kembali melihat sang istri yang sudah berpindah ke mangkuk yang satu, karena yang satu sudah habis.
"Iya sayang habisnya aku laper sih" ucap Maura.
Jo hanya menggeleng kepala melihat sang istri dengan lahap memakan buburnya.
"Sayang habis ini kita mampir di kantor uncle ya" ucap Maura.
"Iya sayang" jawab Jo sambil mengusap bekas bubur di sudut bibir sang istri dengan manis, perlakuan Jo di saksikan para pembeli yang lain.
Setelah Maura menghabiskan buburnya, Jo membayar pak pak penjual.
"Semuanya berapa pak" tanya Jo.
"30 ribu mas" ucap pak penjual.
"Ini pak, kembaliannya ambil buat bapak aja" ucap Jo memberikan uang 50 dulu ribu.
"Alhamdulillah,, terimakasih mas, neng" ucap pak penjual.
"Sama-sama pak" ucap Jo dan Maura.
Keduanya lalu kembali masuk ke dalam mobil, mereka akan mampir sebentar di kantor Wijaya Group.
"Ayo sayang" ajak Jo membukakan pintu untuk sang istri.
Jo dan Maura berjalan di lantai dasar, kemudian masuk ke dalam lift khusus yang akan membawa mereka ke lantai tujuan.
Ting...
Pintu lift terbuka, Jo dan sang istri berjalan ke arah ruang Brian.
"Vin, Iya ada di dalam" tanya Jo pada sekertaris Brian.
"Ada pak Jo, bos di dalam sama pak Tio dan pak Raffa" ucap Kevin.
Tokk...
Tokk...
"Masuk" ucap Brian dari dalam.
Clekk...
Jovian dan sang istri masuk, ketiga pria yang sedang asik mengobrol itu melihat ke arah pintu.
"Kak," sapa ketiga pria itu.
"Lagi nyantai ya" tanya Jo ikut bergabung bersama Tio, Brian dan Raffa.
"Iya kak, kalian habis dari mana?" tanya Brian heran, karena penampilan pasangan suami dan istri itu hanya mengenakan pakaian rumah.
"Habis nemanin istri aku makan bubur di depan kantor, sekalian mampir deh" ucap Jovian yang mendapat anggukan dari sang istri.
"Yo gimana kabar Laura" tanya Jovian, karena ia tau gadis yang sempat ia tolong dulu sekarang sedang dekat dengan Tio.
"Alhamdulillah kak, baik" ucap Tio.
"Ish kok kamu malah nanya kabar cewek lain sih di depan aku" ucap Maura dengan nada cemburu.
Membuat keempat pria itu saling pandang dan heran, bukannya Maura sudah mengenal Laura dengan baik.
"Bukan gitu sayang, kamu tau La..." ucapan Jo terhenti lagi karena sang istri yang tiba-tiba menangis.
"Tuh kan kamu udah gak cinta lagi sama aku, buktinya kamu nanyain kabar cewek lain di depan aku, kamu jahat hikz hikz" ucap Maura sambil terisak, membuat Tio, Brian dan Raffa melengos.
"Gak kok sayang, ia aku janji gak akan naya siapapun lagi sama mereka oke, udah gak usah nangis ya" ucap Jo membujuk sang istri sambil memeluknya.
"Benar ya" ucap Maura sambil tersenyum ceria longgarkan pelukannya dengan sang suami.
Semakin membuat Tio, Brian dan Raffa melengos seperti orang tidak waras melihat perubahan wanita yang ada dalam pelukan Jovian saat ini.
Brian bertanya pada Jo melalui mata, tapi Jo hanya menggeleng kepala tanda tak tau, karena ia juga tidak tau kenapa sekarang sang istri mood nya suka berubah-rubah.
Next...
Jangan lupa Like, Komen sama Vote ya guys...